Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Hukum DM dalam Bahasa Indonesia

with 4 comments

Intisari Sep 2003. J.S. Badudu

Hukum DM (Diterangkan-Menerangkan) adalah istilah yang mula-mula dimunculkan oleh almarhum Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Hukum DM itu sendiri memang merupakan salah satu sifat utama bahasa Indonesia (BI). Sebuah frasa, terdiri atas unsur utama yang diikuti oleh unsur penjelas. Ada juga bentuk susunan sebaliknya yaitu MD, tetapi jumlahnya agak terbatas. Konstituen pembentuk frasa itu pun bermacam-macam, boleh nomina (N), verba (V), adjektiva (Ad), pronomina (Pron), dan sebagainya.

Kita lihat contoh berikut ini:

  • NN: kandang kuda
  • NAdv: anak kemarin
  • NPron: anak saya
  • NFrPrep: rumah di bukit
  • NAd: rumah besar
  • VAdv: pergi lama
  • NPron: anak itu
  • NV: rumah makan

Perhatikan! Baik kata pertama (yang diterangkan) maupun kata kedua (yang menerangkan) dapat terdiri dari kelas kata apa saja: nomina, verba, dan sebagainya. Juga bukan terdiri atas kata-kata sederhana (simple word), namun dapat juga atas kata-kata turunan (complex words). Misalnya, pertimbangkan hati nurani, ketenangan pikiran, kesederhanaan, dan penampilan.

Konstituen menerangkan yang terdiri atas adverbia, frasa preposisi, dan numeralia terletak mendahului konstituen utama yang diterangkannya. Misalnya: belum dewasa, sudah pergi, di pasar, dari sekolah, lima anak, tiga buah patung. Arti atau makna yang ditimbulkan oleh paduan kedua unsur frasa itu dapat bermacam-macam seperti terlihat pada contoh-contoh berikut.

  • NV: rumah makan, kamar tidur (untuk tempat)
  • NAd: rumah baru, rumah sederhana (bersifat)
  • NN: padang pasir (yang terdiri dari), buku bacaan (untuk di)
  • VAd: makan besar, tidur nyenyak (bersifat)
  • AdAd: biru muda, hitam manis (bersifat)
  • NumN: lima hari, seratus orang (menyatakan jumlah) dsb.

Melihat contoh-contoh di atas, bahwa dalam membentuk frasa, kita pada umumnya menyusunnya seperti itu, yaitu pokok, yang utama, yang diterangkan kita letakkan di depan, sedangkan keterangan atau penjelasannya kita letakkan sesudah unsur pokok itu. Inilah yang ditonjolkan oleh istilah Hukum DM itu.

Di sinilah kita lihat perbedaan antara bahasa Indonesia (juga bahasa-bahasa lain yang termasuk rumpun Austronesia) dengan bahasa yang tergolong dalam rumpun Indo-German seperti bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Dalam bahasa-bahasa itu susunannya adalah MD, yaitu konstituen penjelasnya.

Misalnya, schoolbuilding (Inggris) `bangunan sekolah`, gouverneurkantoor (Belanda) `kantor gubernur`. Ada pula yang menanyakan apakah seorang wanita yang menjadi dokter disebut wanita dokter wanita? Perhatikan: wanita dokter ialah `wanita yang menjadi dokter`, sedangkan dokter wanita ialah `dokter yang keahliannya ialah penyakit-penyakit yang diderita oleh wanita`; bandingkan dengan dokter anak, dokter kandungan, wanita pencuri ialah `wanita yang suka mencuri`, sedangkan pencuri wanita ialah `orang (laki-laki atau perempuan) yang mencuri wanita`; bandingkan dengan wanita penipu dan penipu wanita.

About these ads

Written by Rubrik Bahasa

1 September 2003 at 00.00

Ditulis dalam Intisari, J.S. Badudu

Tagged with

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. [...] dalam mempelajari (kembali) bahasa Indonesia. Polanya ada, tapi kok banyak pengecualiannya? Hukum DM, misalnya, sudah sangat jelas mengatur pola frasa dalam bahasa Indonesia: yang diterangkan dulu, [...]

  2. [...] label tanda pagar karena pola MD (menerangkan-diterangkan) bahasa Inggris umumnya dibalik menjadi pola DM (diterangkan-menerangkan) jika diterjemahkan ke dalam bahasa [...]

  3. [...] D-M merupakan salah satu pembeda antara bahasa Indonesia (dan berbagai bahasa dalam rumpun Austronesia) dengan bahasa yang tergolong [...]

  4. Baru tahu saya kalau konsep D-M (diterangkan-menerangkan) ini digagas oleh Sutan Takdir Alisjahbana–Allaahu yarham–atau lebih dikenal di kalangan pemerhati bahasa dengan STA. Bertambah lagi fakta ilmiah yang akan terus saya ingat, baik sebagai bahan referensi maupun sekadar wawasan linguistik.

    Abu Usamah as-Sulaimani

    13 Juni 2012 at 16.30


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.564 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: