Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Yang Berbahagia, Waktu, dan Tempat Dipersilakan

with 4 comments

Intisari Mei 2007. Akhmad Saefudin.

Hampir setiap akhir pekan penulis menyimak acara di sebuah saluran televisi swasta. Dengan penuh rasa percaya diri, seorang pembawa acara tampil seraya mengucapkan kalimat: “Hadirin di studio dan segenap pemirsa di rumah, pada malam yang berbahagia ini kita akan menyaksikan penampilan ….” Pada acara lain, penulis menemukan kalimat serupa, yakni: “Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menemani pemirsa di rumah 1/2 jam ke depan ….” Sekilas, frasa “malam yang berbahagia” dan “kesempatan yang berbahagia” pada kedua kalimat di atas terkesan baik-baik saja alias tak bermasalah. Namun, jika sedikit jeli, kita akan menemukan ketidaklogisan dari kedua frasa tersebut.

Ketidaklogisan yang dimaksud akan tampak nyata apabila kita sandingkan dengan (struktur) kalimat bahasa asing. Simaklah beberapa contoh kalimat bahasa Inggris berikut:

  1. The program was boring. She (Anita) got bored then. (Acara itu membosankan. Anita pun merasa bosan).
  2. The work was so tiring. He (Tono) felt tired soon. (Pekerjaan itu sangat melelahkan. Tono merasa cepat lelah.)
  3. The service was satisfying. We were all satisfied. (Pelayanannya memuaskan. Kita semua merasa puas.)

Pasangan kata boring-bored, tiring-tired, dan satisfying-satisfied dalam kalimat di atas adalah adjektiva (kata sifat). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adjektiva adalah kata yang menjelaskan nomina atau prominal.

Kata boring, tiring, dan satisfying adalah adjektiva yang menerangkan (nomina) program, work, dan service. Di sisi lain, bored, tired, dan satisfied juga merupakan bentuk adjektiva — masing-masing menerangkan (pronominal) She (Anita), He (Tono), dan We.

Dari penjelasan ini, maka kedua frasa bermasalah di atas perlu direvisi agar taat asas atau sesuai kaidah yang berlaku. Kedua frasa tersebut seharusnya berbunyi: (1) “malam yang membahagiakan” dan (2) “kesempatan yang membahagiakan”.

Ingat! Kata malam dan kesempatan adalah nomina bukan pronomina. Lantas bagaimana dengan kata bahagia?

Setidaknya ada dua makna kata berbahagia, yakni (1) dalam keadaan bahagia; (2) menikmati kebahagiaan. Dalam hal ini, keduanya adalah verba, sehingga yang (semestinya) berbahagia adalah pronominal, bukan nomina. Alhasil, yang dapat merasakan “kebahagiaan” adalah makhluk bernyawa, seperti Anda, saya, atau kita.

Contoh kekeliruan lain yang sering kita dengar dari seorang pembawa acara (Master of Ceremony; MC) dalam berbagai kesempatan adalah, “Kepada Bapak Drs. Anu selaku pembicara, waktu dan tempat kami persilakan ….”

Kekeliruan itu sering terjadi karena adanya tambahan kata “waktu” dan “tempat” yang disejajarkan dengan Bapak Drs. Anu. Logikanya, yang dipersilakan hanyalah orang (persona), bukan keterangan (adverbia) ataupun benda mati (nomina) seperti “waktu”, “tempat”, dan sebagainya.

Adapun kalimat yang benar cukuplah, “Kepada Bapak Drs. Anu selaku pembicara, kami persilakan ….” Bandingkan dengan contoh, “Kepada Drs. Anu, Dra. Ani, dan Dr. Andi selaku pembicara, kami persilakan ….”

Kalau mau lebih ringkas, kedua klausa di atas masih dapat dipersingkat menjadi: (1) “Kepada Bapak pembicara, dipersilakan”. dan (2) “Kepada ketiga pembicara, dipersilakan”. Ungkapan “dipersilakan” juga dapat kita ubah menjadi “dengan hormat kami persilakan”, misalnya.

Alhasil, berbahasa boleh dibilang gampang-gampang susah. Tetapi, jika kita mau mencermatinya dengan logika, hal demikian tidaklah sulit. Ternyata, berbahasa lisan pun butuh kecermatan dan kejelian, bukan?

About these ads

Written by Rubrik Bahasa

1 Mei 2007 pada 13.43

Ditulis dalam Intisari

Dikaitkatakan dengan

4 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. 1. Barangkali yang dimaksud dengan “malam yang berbahagia ini” adalah “this happy night”.

    2. Bisa juga diucapkan: “Kepada Bapak pembicara, waktu dan tempat kami serahkan.”
    Maksudnya, penyerahan dari pembawa acara kepada pembicara. Apa yang diserahkan? Acara, yang terdiri dari waktu dan tempat.

    Joko Riyanto

    15 April 2010 at 22.53

  2. Yang lebih menyedihkan, ternyata logika “ngawur” dalam pemakaian bahasa ini tidak hanya terdapat dalam penyampaian lisan, tetapi juga terdapat dalam buku pelajaran bahasa Indonesia SD (di Bekasi, Jawa Barat). Saya khawatir, barangkali pada saat sekarang ini siapa saja dapat membuat buku pegangan siswa SD tanpa ada pengawasan atau koreksi dari lembaga/departemen terkait.

    Ahmad Tamimi

    12 Mei 2010 at 05.22

  3. Adapun kalimat yang benar cukuplah, “Kepada Bapak Drs. Anu selaku pembicara, kami persilakan ….”
    Bukannya pada kalimat ini masih terdapat kesalahan? Kata sapaan ‘Bapak’ tidak digunakan pada nama dengan gelar akademik. Seharusnya: Bapak Anu atau cukup Drs. Anu saja.

    Indra

    22 April 2011 at 21.26

  4. Sedikit komentar sekaligus pertanyaan dari saya; mengapa pecahan 1/2 tidak ditulis dengan huruf dalam kalimat paragraf satu berikut: “Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menemani pemirsa di rumah 1/2 jam ke depan ….”?
    Dapat dikatakan ini adalah transliterasi bahasa lisan dari penyiar, jadi saya pikir tidak perlu kita mengikuti gaya penuturannya dan lebih baik membahasakannya secara tertulis.
    Bukankah bahasa lisan dan bahasa tulis memiliki “aturan main” masing-masing?

    Abu Usamah as-Sulaimani

    6 Juni 2012 at 14.02


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.544 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: