Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Metafor dalam Diplomasi

with one comment

Majalah Tempo 31 Agu 2009. Saidi A. Xinnalecky. Wartawan.

SUDAH 10 tahun bekas provinsi termuda Indonesia, Timor Timur, yang berintegrasi pada 17 Juli 1976 itu akhirnya terlepas. Timor Leste merdeka sebagai negara baru melalui sebuah referendum (jajak pendapat) pada 30 Agustus 1999. Mereka yang memilih mempertahankan integrasi 23 tahun dengan Indonesia kecewa dan marah dan meradang terhadap hasil electoral yang memenangkan kelompok promerdeka seperti diumumkan UNAMET/PBB pada 4 September 1999.

Ini adalah refleksi pada perjalanan sejarah: apakah berintegrasinya Timor Timur, dan kemudian terlepas, berkorelasi dengan sejumlah analogi dan metafor yang muncul dari ungkapan spontanitas para diplomat, atau pejabat negara ini, menyangkut masalah bekas provinsi termudanya itu?

Syahdan, ungkapan metafor dan analogi ini terkait dengan posisi dan kebijakan politik luar negeri Indonesia yang mencoba menyederhanakan permasalahan. Padahal permasalahan sesungguhnya sangat gawat di Timor Timur saat ungkapan-ungkapan bernada simplistik itu muncul.

Menteri Luar Negeri, saat itu, Ali Alatas membuat analogi dan metafor yang masyhur. ”Kerikil dalam sepatu” (pebble in our shoe) dilontarkan menyusul serangan dan tudingan internasional terhadap pembantaian ABRI terhadap 213 pemuda pada 12 November 1991 di pekuburan Santa Cruz, Dili.

Menteri Alatas menjelaskan ”kerikil” adalah permasalahan Timor Timur yang ia rintis kembali penyelesaiannya dari nol setelah insiden 12 November itu; ”sepatu” adalah dirinya sendiri. Ia sempat mengeluhkan beban penyelesaian Timor Timur di depan sidang dengar pendapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat pada Juli 1997 dengan ungkapan ”mother of fatigue” (”pangkal kecapekan”).

Ketika dikejutkan oleh pendudukan Kedutaan Besar Amerika Serikat oleh para mahasiswa Timor Timur saat menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Bogor, 1994, Presiden Soeharto bermetafor dengan nada optimisme, membuat kiasan Timor Timur sebagai ”jerawat di wajah kami” (”pimple in our face”). Metafor yang digunakan Menteri Alatas dan Presiden Soeharto lazim digunakan pasca-Perang Dingin, sebuah situasi politik yang sangat berbeda.

Saat Antonio Spinola memimpin Revolucao dos Cravos (Revolusi Bunga) pada 25 Juli 1974 di Portugal, ia berjanji akan melaksanakan program dekolonisasi jajahan-jajahan negara bekas Andalusia itu, termasuk wilayah-wilayah Ultra Marinho. Gayung pun bersambut!

Di Timor Portuguesa, dalam kurun waktu setahun (1974-1975), terjadi aliansi para politikus dan tokoh untuk membentuk beberapa partai, yang kemudian pecah, dan sangat serius membawa nahas akibat berbeda haluan; di samping melahirkan banyak propaganda dan metafor yang bermakna provokatif dan agitatif yang langsung bersinggungan dengan posisi Indonesia.

Suhu politik cepat meningkat. Indonesia yang berbatasan langsung, dan punya ikatan sosiokultural dan etnik, tentu punya kepentingan bagi keamanan, politik, dan ideologinya dalam masa Perang Dingin itu.

Asisten Pribadi Presiden, Mayjen Ali Moertopo, melakukan kunjungan ke Dili, setelah beberapa bulan meletus Revolusi Bunga tadi. Di Pulau Christmas, setelah bertemu dengan diplomat Australia, di muka pers asing, ia berujar isu Timor Portugal bagi Indonesia seperti ”gatal di ketiak kami” (”itching our armpit”). Juga memperingatkan ada ”ancaman di depan mata”, yakni gerakan komunisme dengan ”Poros Dili-Peking”.

Pada 1974, sejumlah negara blok Barat, khususnya Amerika Serikat, mendukung tindakan militer Indonesia pada 7 Desember 1975 yang langsung masuk jantung ibu kota Timor Portugal, Dili, dan sekitarnya. Negara Barat menganggap Indonesia sedang menjalankan misi ”pemberantasan komunisme” di Asia Tenggara, seperti halnya Amerika di Vietnam. Ali Moertopo membuat sebuah analogi ”gatal di ketiak kami”. Dan misi ”to make a new province” mendapat legitimasi, tanpa peduli aspek konstitusional Portugal yang masih mencantumkan wilayah itu sebagai bagian dari wilayah-wilayah ultra marinho (wilayah seberang laut) miliknya. Nyatanya, Portugal saat itu tidak banyak berkutik. ”Ketiak digaruk sedikit, gatalnya akan hilang,” kira-kira begitu dalam benak Moertopo.

Tapi, dalam konteks metafor Menteri Alatas dan Presiden Soeharto, masalah Timor Timur niscaya menjadi agenda yang sarat dengan masalah hak asasi manusia, demokrasi, dan prinsip self determination. Metafor yang mereka gunakan itu, yang sebetulnya lahir pasca-Perang Dingin itu, berimplikasi lain.

”Kerikil dalam sepatu” hanya membuat musuh diplomasi Indonesia geram dan menganggapnya meremehkan perlawanan mereka atas tema nilai-nilai universal tadi. Begitu pula ”jerawat di wajah kami”.

Ketika berakhir dengan kemenangan pihak prokemerdekaan, semua metafor itu menjadi tak bermakna, malah membuat sebuah catatan hitam dalam sejarah bangsa yang tidak bisa terlupakan. Apa yang terjadi hanya menyisakan ”kaki yang diamputasi akibat kerikil itu”, dan ”jerawat yang telah menyatu dengan kulit di wajah”.

Diplomasi, per definisi sederhana, dianggap sebagai cara mendapatkan keuntungan dengan kepandaian bertutur yang halus, di samping sebagai seni dan praktek bernegosiasi oleh seorang diplomat yang biasanya mewakili sebuah negara atau organisasi. Karena itu, kecerdasan dan kelincahan memformulasi setiap kata, atau berbahasa, menjadi sangat penting.

Para diplomat sekarang sudah sepantasnya berhati-hati dengan metafor yang cenderung hanya membuat simplifikasi masalah, tanpa memperhitungkan konsekuensi yang bakal timbul. Hindari ungkapan-ungkapan yang justru nantinya bermasalah.

About these ads

Written by Rubrik Bahasa

31 Agustus 2009 pada 02.36

Ditulis dalam Majalah Tempo, Saidi A. Xinnalecky

Dikaitkatakan dengan

Satu Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Metafor yang mengundang salah tafsir, berkesan arogan dan meremehkan masalah. Pengecilan suatu perkara seperti diurai di atas pun menjadi seperti peribahasa “Nila setitik, rusak susu sebelangga”.

    Abu Usamah as-Sulaimani

    17 Juni 2013 at 13.18


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.544 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: