Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Walimah Safar

with 2 comments

Pikiran Rakyat 15 Nov 2009. Asep Juanda, pemerhati bahasa, tinggal di Bandung.

SEBENTAR lagi, umat Islam akan memasuki bulan Zulhijah, bulan ke-12 dalam tahun Hijriah. Ada beberapa rutinitas ibadah yang dilaksanakan dalam bulan Zulhijah, bahkan dipersiapkan sebelumnya. Pertama, pelaksanaan salat sunat Iduladha. Kedua, penyembelihan hewan kurban, dan ketiga pelaksanaan ibadah haji.

Ibadah haji dipandang sebagai ibadah yang lebih berat dalam rukun Islam apabila dibandingkan dengan empat rukun lainnya (pengucapan dua kalimat syahadat, salat, zakat, dan puasa). Selain memerlukan kesiapan mental dan fisik yang prima, juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Hal itu dapat dilihat dari proses pendaftaran, persiapan pemberangkatan, pelaksanaan ibadah haji di Mekah, dan setelah selesai pelaksanaannya. Hal itu tersirat juga dalam Alquran surat Alhaj ayat 27 dan 28 yang artinya, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”

Dalam hal persiapan, ada kebiasaan calon jemaah haji yang mengadakan acara walimatussafar. Hal itu dilaksanakan sepuluh hari atau seminggu sebelum calon jemaah haji berangkat ke tanah suci berdasarkan kesiapan calon jemaah haji bersangkutan. Walimatussafar bertujuan mensyukuri nikmat dari Allah SWT, meminta maaf, dan meminta dorongan doa demi kelancaran dan keberhasilan melaksanakan ibadah haji supaya menjadi haji mabrur, yaitu haji yang diterima oleh Allah SWT.

Agak sulit tampaknya untuk menelusuri kemunculan istilah itu, terutama di Indonesia. Ada istilah walimah lain yang sudah dikenal pada masyarakat Muslim di Indonesia, yaitu walimah urusy yang berarti perjamuan untuk perkawinan.

Adapun pada masyarakat Arab dikenal beberapa jenis walimah, di antaranya menurut Ibnu Hajar yang menukil pendapat Imam Nawawi dan Qadli Iyad bahwa walimah dalam tradisi Arab ada delapan jenis, yaitu : 1) Walimatulurush untuk pernikahan; 2) WalimatulI`dzar untuk merayakan khitan; 3) Aqiqah untuk merayakan kelahiran anak; 4). Walimatulkhurs untuk merayakan keselamatan perempuan dari talak, konon juga digunakan untuk sebutan makanan yang diberikan saat kelahiran bayi; 5). Walimatunnaqiah (untuk merayakan kedatangan seseorang dari bepergian jauh, tetapi yang menyediakan orang yang bepergian) atau walimatuttuhfah (kalau yang menyediakan orang yang di rumah); 6) Walimah wakiirah untuk merayakan rumah baru; 7) Walimalwadlimah untuk merayakan keselamatan dari bencana; dan 8) Walimatulma`dabah yaitu perayaan yang dilakukan tanpa sebab sekadar untuk menjamu sanak saudara dan handai taulan. Berkaitan dengan pengadaan walimah, Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda dalam sebuah hadis yang artinya, “Rasulullah Saw. telah bersabda kepada Abdurrahman bin Auf, “Adakan walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing.” ( H.R. Muttafaq `Alaih ).

Apabila dilihat dari arti, walimah mempunyai arti perjamuan atau pesta, dan safar artinya perjalanan. Jadi dengan demikian makna walimatussafar adalah perjamuan makanan sebelum melaksanakan perjalanan, dalam hal ini perjalanan untuk menunaikan ibadah haji.

Penulisan walimatussafar pada kartu undangan bervariasi, ada yang menuliskan walimatusafar, walimatussafar, Walimatul Safar dan Walimah Safar. Manakah di antara penulisannya yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia? Tentunya ahli bahasa telah merumuskannya. Namun, tidak ada salahnya apabila kita melihat kepada asal bahasanya, yaitu bahasa Arab. Walimatussafar terdiri dari dua kata, yaitu waliimatun/alwaliimatu-waliimah/alwaliimah dan assafaru/safarun/safar.

Waliimatun/waliimah berhuruf terakhir (ta marbutoh), yaitu apabila disambungkan (washol) akan berbunyi huruf (t) dibaca (tun/tu), menjadi walimatun/alwalimatu. Bisa juga lebur bunyi (n)-nya menjadi bunyi huruf (l) apabila bertemu huruf yang jelas (alqomariayah). Di sisi lain, bunyi (n) dari kata walimatun akan lebur ke bunyi huruf yang berada di depannya, yaitu apabila di depannya ada huruf yang samar (syamsiah), sedangkan apabila diberhentikan (waqof) atau dipisah (munfashil) berbunyi huruf (h), walimah/alwalimah. Kata walimah inilah yang digunakan dalam bahasa Indonesia, artinya tidak digabungkan dengan kata berikutnya dan tidak menggunakan awalan (al).

Pada kata safarun (dalam bahasa Arab) apabila di depannya diawali huruf (alif) dan (lam) maka akan lebur ke huruf (s) menjadi Assafaru, karena huruf (s) atau (sin) dalam bahasa Arab merupakan huruf yang samar (syamsiah). Dalam hal ini di depan kata assafaru ada kata walimatun, maka penulisan gabungan dua kata tersebut bisa menjadi walimatussafari. Namun, karena kata sebelumnya yaitu walimah di akhirnya mengambil huruf h (bukan huruf t/tun) dengan sendirinya kata walimah berdiri sendiri, tidak digabungkan dengan kata safarun/assafaru. Kata safarun/assafaru yang diserap ke dalam bahasa Indonesia adalah safar dan safari. Sementaran untuk menemani kata walimah, diambil kata safar, tanpa akhiran huruf (i) seperti halnya kata walimah yang disukunkan. Sekadar pembanding bisa disetarakan dengan kata walimah urusy, jamrah aqabah, dan kuliah tarbiah tidak ditulis walimatulurusyi, jumrotulaqabah, dan kuliyatuttarbiyah.

About these ads

Written by Rubrik Bahasa

15 November 2009 pada 14.43

Ditulis dalam Asep Juanda, Pikiran Rakyat

Dikaitkatakan dengan

2 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Minta dong,Contoh undangan acara walimatussafar!

    Agus Rohmatuloh

    3 September 2012 at 22.32

  2. Alhamdulillah setelah membaca artikel di atas saya faham makna walimah. Thanks ya infonya.

    fathullah

    1 September 2013 at 19.15


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.544 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: