Apa/Siapa Namamu

KOMPAS 24 Des 2009. Mulyo Sunyoto.

Nama dan orang yang menyandangnya, di mata pebahasa Inggris, seolah dapat dipisahkan seperti sandang dan sang penyandang.  Keduanya dapat dipisahkan dengan tegas.

Tapi, di mata kita, nama dan sang pemilik ibarat api dan panasnya. Tak mungkinlah memisahkan keduanya. Begitulah perbedaan esensial kenapa orang berbahasa Inggris menggunakan rumusan: “Apa nama anda?”, dan bukan “Siapa nama anda?” sebagaimana orang Indonesia biasa bertanya.

Nama –entah itu untuk menandai orang atau untuk menyebut merek dagang– diperlakukan sebagai benda mati oleh penutur bahasa Inggris. Itu sebabnya, bagi mereka, menanyakan nama dengan kata tanya “siapa” dirasa mencampuradukkan antara diri pribadi dan benda mati.

Seorang ibu –dalam sebuah adegan film Hollywood– yang sedang sibuk menyiapkan sarapan buat buah hatinya ditelefon orang tak dikenal. Pertanyaan yang terlontar secara spontan dari mulut ibu itu  adalah: “Halo, anda siapa?” Pertanyaan ini, oleh orang yang menelefon, dijawab tidak dengan menyebut nama. “Saya seorang jurnalis dari The New York Times. Ingin mewawancara anda. Bersedia?”

Bagaimana jika situasi serupa terjadi di sini. Sangat mungkin, si penelefon akan menyebut nama terlebih dulu: “Saya Fulan dari Majalah X. Ingin mewawancara Ibu.” Nama dan pribadi yang menyandangnya tak bisa dipisahkan. Situasi itu juga tergambarkan dalam kejadian berikut ini.

Seorang guru di Makassar yang sudah sepuh,  yang ketajaman pandangan matanya kian berkurang, suatu sore didatangi tamu tak diundang. Pernyataan yang terlontar secara spontan sama seperti yang diucapkan ibu dalam film Hollywood itu: “Siapa anda?” Pertanyaan ini, oleh sang pendatang tanpa aba-aba itu, dijawab pertama-tama dengan menyebut nama: “Saya Arif. Bekas murid Bapak.”

Rupanya, pebahasa Inggris hanya berhenti pada “apa namamu?” untuk memisahkan nama dan pribadi. Mereka tak lagi dapat membedakan dua unsur yang saling melekat itu ketika melontarkan pertanyaan yang jawabnya tak lain dan tak bukan mesti menyebut nama! Pebahasa Inggris tidak akan bertanya “Apa nama presiden pertama Amerika?”, ” Apa nama penemu pinisilin?”, “Apa nama penyair terhebat abad 21?” Pernyataan-pertanyaan itu akan dimulai dengan “Siapa” (tanpa menyebut kata “nama”, tentunya) dan dijawab dengan nama-nama.

Pertanyaan esoterik dalam iman agama mana pun, yang berkaitan dengan soal ketuhanan, pastilah dilontarkan dalam rumusan “Siapa Tuhanmu?”. Jawab atas pertanyaan ini, tergantung agama sang pengiman, boleh jadi: “Allah”, “Allah S.W.T”, atau  “Shang-Ti”. Di sini, nama dan yang menyandang, tak mungkin terperikan, tak tepermanai.

Dianalisis dari absurdnya memisahkan nama dan penyandang nama, pertanyaan “Siapa namamu?” seperti tanpa masalah linguistik. Namun, diteliti dari kesetaraan nomina  “nama”, “agama”, “jabatan” , atau “status perkawinan”, rumusan “Siapa namamu?”  menjadi terasa amat janggal jika diterapkan dalam formula pertanyaan  dengan kata tanya “siapa”.

Di kalangan ahli linguistik Indonesia,  ada yang menjelaskan bahwa “siapa” merupakan bentukan “si” dan “apa”. Jadi kalau kita biasa bertanya : “Siapa namamu?” sebenarnya tak jauh dari “Apa namamu?” Kemelut “apa/siapa namamu?”  itu  jelas tak terjadi dalam pebahasa Rusia, yang merumuskan pertanyaan soal jati diri seseorang itu dengan formula tanya (setelah diindonesiakan secara harfiah): “Bagaimana orang-orang memanggilmu?” Dalam tradisi sapa-menyapa pebahasa Jepang, kata tanya “apa” atau “siapa” sama-sama dapat dipakai dalam menanyakan nama seseorang.

Dari beragam cara merumuskan pertanyaan untuk memperoleh informasi mengenai nama seseorang inilah, kita semakin dibuat yakin bahwa dua pakar bahasa Edward Sapir dan sang murid, Benjamin Lee Whorf, telah merumuskan hipotesis yang tak terbantahkan mengenai relativitas kebahasaan. Setiap bahasa punya keunikannya sendiri, kata mereka. Makanya, akan sia-sia lah  untuk mengajak orang  berhenti bertanya “Siapa namamu?” dan memulainya dengan bertanya “Apa namamu?”. Lain bahasa, lain pula pilihan kosa katanya!

About these ads

One thought on “Apa/Siapa Namamu

  1. Cerdas, lugas, dan tuntas!

    Akhir artikel ini perlu digarisbawahi, karena itulah inti bahasannya:

    “Lain bahasa, lain pula pilihan kosa katanya!”

    Mantap, pokoknya :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s