Pepatah Lama

Pikiran Rakyat 10 Jan 2010. Edi Warsidi, editor salah satu penerbitan buku di Bandung. Alumnus Sastra Indonesia Unpad.

PEPATAH lama memiliki pesan penting bagi kehidupan kita. Pepatah merupakan salah satu jenis budaya komunikasi yang diwariskan oleh leluhur kita di semua daerah. Akan tetapi, semakin sedikit orang yang berminat memahaminya.

Pepatah lama, misalnya, “Melayu mati karena pangkat dan Cina mati karena uang”. Maksud pepatah lama ini bahwa keistimewaan si Melayu ialah cita-cita (angan-angan) setinggi langit. Kelebihan orang Belanda ialah keuletannya mengejar kekuasaan (pangkat), sedangkan kelebihan orang Cina ialah keuletan mencari uang (berusaha). Itu dahulu dan memang masih berlaku sampai saat ini.

Sekarang, si Melayu (Indonesia) tidak hanya mati karena angan-angan. Ia juga mati karena pangkat dan sekaligus karena uang. Media massa pernah memuat berita tentang orang yang berani menyediakan uang miliaran rupiah asalkan ia menjadi anggota legislatif atau kepala daerah. Namun, karena berbagai faktor, ada yang dapat memenuhi keinginan, ada pula yang sebaliknya. Bahkan ada calon kepala daerah atau calon anggota legislatif yang sudah mengeluarkan uang banyak, ternyata harus gigit jari alias tidak berhasil memenuhi cita-citanya.

Memang tidak sedikit orang yang berusaha menjadi anggota parlemen yang terhormat atau menjadi kepala daerah dengan mengandalkan kekuatan uang hingga miliaran rupiah. Uangnya mungkin untuk seremoni dan sejenisnya. Dalam kejadian seperti itu, ungkapan lama bagi orang Belanda pun ditularkan kepada kita, Melayu mati karena pangkat (kedudukan). Di situ juga terselip ungkapan, “Melayu mati karena uang”, yang relevan dengan perbuatan yang disebut kolusi dan korupsi.

Sekarang, makin banyak orang Indonesia berangan-angan untuk hidup makmur, adil, dan aman. Akan tetapi, kemakmuran, keadilan, dan keamanan belum juga terwujud bagi mereka. Mereka dapat terkena pepatah, “Melayu mati karena angan-angan”.

Ada lagi pepatah atau istilah lama di sebuah daerah. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia slang, ungkapan itu berbunyi, “Jatahnya orang yang mengatur jatah, bagiannya orang yang membagi”. Artinya, orang yang mengatur jatah (pembagian) bisa mengambil bagian lebih banyak daripada orang lain. Pepatah lama ini memiliki makna bahwa para penguasa dan para pemimpin boleh saja lebih kaya daripada rakyat jelata. Itu karena gaji atau penghasilan mereka lebih tinggi daripada penghasilan rakyat biasa.

Akan tetapi, menurut si Fulan, pepatah lama itu dapat juga merupakan kritik terhadap penguasa atau pemimpin yang memperkaya diri tanpa memedulikan rakyatnya yang miskin, kelaparan, dan kurang gizi pula. Kalau si pemimpin memperkaya diri sambil memakmurkan rakyatnya, ia tidak terkena pepatah tersebut.

Pepatah yang satu ini masih sering terdengar di sebuah daerah. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, pepatah itu berbunyi, “Kokok ayam jantan berbunyi (berkokok) amat merdu, tetapi warna bulunya jelek”. Menurut penafsiran saya, ada manusia yang vokal menyuarakan segala macam kebaikan, tetapi perbuatan itu tidak sesuai dengan ucapan-ucapannya. Ada orang yang gemar mengobral janji, tetapi ia tidak sanggup menepatinya.

Sebaliknya, ada orang yang tidak terlalu vokal menyuarakan perbaikan, misalnya perbaikan nasib rakyat, tetapi perbuatannya selalu bermanfaat bagi kepentingan semua. Atau sedikit berbicara tetapi banyak berbuat untuk kepentingan umum, terutama bagi rakyat yang masih kelaparan (bukan rawan pangan) atau kemiskinan berlapis-lapis. Akan tetapi, tentu lebih baik lagi jika ada orang yang vokal tentang keadilan, hak asasi, demokrasi, dan kemaslahatan semua, sekaligus membuktikannya dalam perbuatan. Pepatahnya akan berbunyi, “Kokok ayam jantan seindah warna bulunya”.

Masih ada lagi pepatah yang mirip dengan pepatah tersebut, tetapi amat kental rasa humor dan kritiknya. Pepatah ini berbunyi, “Sudah jatuh ke dalam parit, tetapi ia masih memuji dirinya”. Artinya, banyak orang yang tidak mau mengakui kelemahannya atau tidak mau mengakui kesalahan yang dilakukannya. Jika ditafsirkan, pepatah tersebut dapat ditujukan kepada orang yang tidak menyukai zaman keterbukaan seperti saat ini. Nah, siapa ya?

Pepatah tersebut mirip dengan sebuah pepatah lain yang maknanya lebih etis (lebih baik) daripada pepatah tersebut. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berbunyi, “Tidak ada orang yang bersedia membiarkan garamnya kehujanan”. Kalau kehujanan, berarti garam itu akan hilang dan menjadi air. Tafsiran sederhananya ialah tidak ada orang yang bersedia membukakan aib atau rahasia yang merugikan diri sendiri, kolega, kerabat, atau sahabatnya. Apalagi aib atau rahasia itu terkuak di kemudian hari. Oleh karena itu, berbahagialah orang yang baik.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s