Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Kegemaran Membaca

with 2 comments

Pikiran Rakyat, 20 Mar 2010. Ajip Rosidi. Penulis, budayawan.

BukuSaya sering bertemu dengan orang yang baru saya kenal, dia mengaku telah membaca dan mengikuti buku-buku saya, tetapi kemudian diikuti dengan pertanyaan, “Apakah Bapak sekarang masih menulis?”

Terhadap pertanyaan demikian saya biasanya hanya tersenyum, karena pertanyaan itu hanya merupakan pengakuan bahwa sebenarnya dia tidak mengikuti buku-buku saya. Dan mungkin waktu di sekolah pernah membaca salah satu buku saya karena diharuskan oleh gurunya. Ada juga orang yang mengenal saya kecuali karena membaca buku atau nama saya dalam pelajaran di sekolah, juga kadang-kadang membaca tulisan saya yang dimuat dalam surat kabar. Orang seperti itu biasanya kemudian mengajukan pertanyaan, “Mengapa sudah lama Bapak tidak menulis?”

Padahal saya tetap menulis, meskipun tidak lagi dimuat dalam majalah atau surat kabar yang dia ikuti.

Terhadap pertanyaan-pertanyaan demikian biasanya saya menjawab diplomatis, “Saya tidak bisa bekerja lain kecuali menulis, jadi terus menulis, hanya dalam bahasa Sunda.”

Dalam masyarakat yang tingkat kegemaran membacanya rendah, saya tidaklah mengharapkan orang akan mengikuti apa yang saya tulis. Apalagi kalau orang itu tidak bekerja dalam lapangan yang berdekatan dengan dunia penerbitan atau pers. Akan tetapi, bukan artinya tidak ada orang yang walaupun tidak saya kenal secara pribadi dan dia bekerja di lapangan yang tidak ada sangkut pautnya dengan bidang penerbitan atau pers, tetapi waktu bertemu ternyata dia telah membaca buku-buku saya bahkan juga yang terbaru. Hanya, orang yang seperti itu jarang sekali. Sampai sekarang mungkin hanya 3-4 orang. Seperti yang pernah saya tulis, saya bukanlah pengarang yang karya-karyanya laris terjual. Saya sendiri tidak pernah meneliti siapa saja orang yang membaca buku-buku saya.

Buku-buku saya dicetak beberapa ribu naskah, apa artinya bagi bangsa yang jumlah penduduknya lebih dari 220 juta? Selama negara Republik Indonesia berdiri, tak ada pemerintah yang menganggap perlu untuk mendidik warga negaranya agar gemar membaca. Hanya sekitar 1950-1952 pemerintah menganggap perlu mendirikan perpustakaan rakyat di setiap kabupaten. Akan tetapi, karena kemudian negara terlanda berbagai kesulitan ekonomi, penyediaan buku perpustakaan rakyat itu dihentikan dan perpustakaannya pun menguap. Setelah negara makmur (walaupun rakyatnya tetap melarat bahkan kian melarat), pemerintah mulai menyediakan perpustakaan tetapi tidaklah menganggapnya sebagai sesuatu yang harus mendapat prioritas. Penyediaan perpustakaan yang cukup tidaklah dianggap sebagai langkah yang harus ditempuh untuk melaksanakan tugas mukadimmah UUD tentang “mencerdaskan bangsa”.

Penerbitan buku bukanlah lapangan industri yang dianggap perlu untuk didorong oleh pemerintah yang mana pun. Para penerbit melalui Ikapi sejak puluhan tahun mengeluh tentang berbagai kendala yang dihadapinya, baik berbagai pajak yang dikenakan terhadap buku atau pencetakan maupun biaya pengiriman buku sehingga harga buku kian jauh dari Jakarta kian mahal, tetapi tak pernah mendapat perhatian dari pemerintah. Penyediaan perpustakaan sebagai lembaga yang akan menyerap hasil produksi buku yang seharusnya didirikan oleh pemerintah sebanyak-banyaknya di seluruh tanah air, juga tidak dilakukan, atau kalau pun dilakukan hanyalah sekadarnya. Buku dianggap barang mewah yang lebih sulit ditemui daripada televisi.

Diperlukan keberanian politik dari pimpinan pemerintah tertinggi untuk mengatasi rendahnya kegemaran membaca seluruh bangsa. Banyak pemimpin yang mengakui bahwa rakyat Indonesia sekarang kalah oleh rakyat Malaysia hampir dalam segala bidang. Padahal, setengah abad yang lalu mereka banyak belajar dari kita. Apalagi rakyat Singapura. Akan tetapi, para pemimpin yang melihat hal itu tidak ada yang menyadari bahwa rakyat Malaysia dan Singapura dapat meninggalkan kita itu antara lain karena pada 1970-an, pemerintah mereka mengambil kebijaksanaan yang tegas dalam bidang penerbitan dan perbukuan. Pemerintah Malaysia membangun perpustakaan-perpustakaan di seluruh negeri dan sekolah-sekolah, menggalakkan penulisan dan penerbitan buku. Pemerintah Singapura menetapkan untuk menjadikan negerinya sebagai pusat perbukuan di Asia Tenggara dan membebaskan pelbagai pajak untuk buku, baik pembebasan pajak impor maupun mengundang penerbit-penerbit dan toko-toko buku besar dunia untuk beroperasi di negerinya. Dan sebagai hasil dari kebijaksanaan yang diambil beberapa puluh tahun yang lalu itu, sekarang rakyatnya menjadi maju dan industri perbukuannya juga berkembang dengan baik. Banyak orang Indonesia yang sekarang kalau memerlukan buku yang penting sengaja pergi ke Singapura.

Kegemaran membaca adalah syarat yang tak bisa ditiadakan untuk memajukan masyarakat dan bangsa. Hanya masyarakat dan bangsa yang kegemaran membacanya tinggi yang mencapai kemajuan. Mesir dan India adalah contoh yang patut ditiru. Di kedua negara itu buku sangat murah, karena kebijaksanaan pemerintahnya yang memang mendorong industri perbukuan. Memang wujud fisik buku-buku terbitan India dan Mesir tidak bagus, kertas yang digunakan kertas koran, cetakannya sederhana. Akan tetapi, karena itu harganya murah sekali, sehingga terjangkau oleh rakyatnya yang miskin. India sekarang termasuk negara yang pendidikannya maju dan menghasilkan lulusan-lulusan universitas yang dicari oleh negara-negara maju di dunia.

About these ads

Written by Rubrik Bahasa

20 Maret 2010 pada 01.02

Ditulis dalam Ajip Rosidi, Pikiran Rakyat

Dikaitkatakan dengan

2 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Sebetulnya yang saya inginkan itu alamat penerbit buku di Singapura,,, bukan komentar seperti di atas itu !

  2. Komentar yang mana ya (bingung)

    Susty

    5 April 2013 at 19.46


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.544 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: