Nikah Siri

Pikiran Rakyat, 4 Apr 2010. Nandang R. Pamungkas,  pemerhati bahasa, tinggal di Giriharja Baleendah.

Istilah nikah siri kembali mencuat setelah Kementerian Agama mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Hukum Materil Peradilan Agama Bidang Perkawinan. Dalam RUU tersebut dicantumkan hukuman pidana bagi pelaku nikah siri. Pasal 143 RUU tersebut menyebutkan, setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak di hadapan Pejabat Pencatat Nikah akan dipidana dengan pidana denda paling banyak enam juta rupiah atau hukuman kurungan paling lama enam bulan. Pernyataan ini menyiratkan arti pihak yang dikenai adalah semua pelaku proses pernikahan siri, baik mempelai pria dan wanita, penghulu, maupun walinya.

Sebelumnya, istilah nikah siri telah lebih dahulu dipopulerkan oleh kalangan artis. Tayangan-tayangan berita hiburan di televisi begitu gemar memberitakan pernikahan siri para artis, selebritas, dan pejabat, baik yang terjadi secara benar adanya maupun yang hanya gosip.

Apa dan bagaimana sesungguhnya nikah siri atau sebagian ada yang menyebutnya nikah sirih itu? Ketentuan nikah siri dalam kitab-kitab fikih sebenarnya tidak dikenal, tetapi di kalangan masyarakat Indonesia istilah ini sangat populer. Secara etimologi kata siri berasal dari bahasa Arab, yaitu sirrun yang artinya rahasia, sunyi, diam, tersembunyi sebagai lawan kata dari ’alaniyyah, yaitu terang-terangan. Dalam Kamus Al-Munawwir ditemukan pula kata-kata yang mengacu pada kata siri, di antaranya assaru ”rahasia”, asarroyu ”secara rahasia”, ”sembunyi-sembunyi” dan siron ”dengan diam-diam”. Kata siri ini kemudian digabung dengan kata nikah sehingga menjadi nikah siri untuk menyebutkan bahwa nikah yang dilakukan secara diam-diam atau tersembunyi. Makna diam-diam dan tersembunyi ini memunculkan dua pemahaman, yaitu pernikahan yang diam-diam tidak diumumkan kepada khalayak atau pernikahan yang tidak diketahui atau tercatat di lembaga negara.

Berdasarkan sejarah kemunculannya, nikah siri atau dalam istilah lokal bangsa Arab lebih dikenal dengan istilah misyar sebenarnya bukan hal baru dalam masyarakat Islam. Kitab Al-Muwatha mencatat bahwa istilah kawin siri berasal dari ucapan Umar bin Khattab r.a. ketika beliau diberitahu bahwa telah terjadi perkawinan yang tidak dihadiri oleh saksi yang memadai. Umar berkata,

”Ini adalah nikah siri dan aku tidak memperbolehkannya dan sekiranya aku datang pasti aku rajam”.

Pengertian kawin siri dalam persepsi Umar tersebut didasarkan oleh adanya kasus perkawinan yang menghadirkan saksi tidak sesuai dengan ketentuan.

Ulama-ulama besar sesudahnya pun seperti Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’i berpendapat bahwa nikah siri itu tidak boleh dan jika itu terjadi harus difasakh (batal). Namun apabila saksi telah terpenuhi tetapi para saksi dipesan oleh wali nikah untuk merahasiakan perkawinan yang mereka saksikan, ulama besar berbeda pendapat. Imam Malik memandang perkawinan itu pernikahan siri dan harus difasakh karena yang menjadi syarat mutlak sahnya perkawinan adalah pengumuman (i’lan). Menurut dia, keberadaan saksi hanya pelengkap. Perkawinan yang ada saksi tetapi tidak ada pengumuman adalah perkawinan yang tidak memenuhi syarat. Namun, Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ibnu Mundzir berpendapat bahwa nikah semacam itu adalah sah. Abu Hanifah dan Syafi’i menilai nikah semacam itu bukanlah nikah siri karena fungsi saksi itu sendiri adalah pengumuman (i’lan). Jadi, menurut kedua pandangan ini dapat ditarik pengertian bahwa nikah siri itu berkaitan dengan fungsi saksi.

Adapun pemahaman lain dan lebih umum mengenai kawin siri dalam pandangan masyarakat Islam Indonesia adalah perkawinan yang hanya memenuhi ketentuan agama, yaitu memenuhi syarat dan rukun nikah. Rukun dan syarat nikah itu meliputi: 1) adanya calon suami dan calon istri; 2) adanya wali pengantin perempuan; 3) adanya dua saksi yang adil (terdiri atas dua orang laki-laki atau seorang laki-laki ditambah dua orang perempuan); 4) ijab dan kabul. Selain rukun atau syarat wajib nikah, terdapat sunah nikah yang juga perlu dilakukan, yaitu khotbah nikah; pengumuman perkawinan dengan penyelenggaraan walimatulurus/perayaan; menyebutkan mahar atau mas kawin.

Nah, dalam pernikahan siri, biasanya unsur walimatulurus/perayaan sebagai upaya pengumuman kepada masyarakat yang tidak dilakukan. Sebab pada praktiknya, pernikahan siri tidak pernah diumumkan kepada masyarakat. Walimatulurus bertujuan untuk mengumumkan pernikahan yang sudah terjadi kepada masyarakat, minimal keluarga dan tetangga dekat. Hal ini harus dilakukan untuk menghindari fitnah dan prasangka buruk orang lain. Selain itu, pelaku pernikahan siri pun tidak melaporkan pernikahannya kepada KUA.

Kedua pemahaman mengenai istilah nikah siri tersebut kiranya memang sesuai dengan pengertian yang termuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV. Kata siri ditemukan sebagai sublema dari lema kawin dan nikah. Dalam sublema kawin, kawin siri (kata kerja) dimaknai ”kawin di bawah tangan”. Adapun dalam lema nikah, nikah siri (nomina) dimaknai ”pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, dan menurut agama Islam hukumnya sah”. Istilah nikah siri ditemukan pada KBBI Edisi Ketiga dan Keempat karena dalam KBBI Edisi Kedua istilah itu belum termuat.

Sebagai penutup, mari kita renungkan kutipan sabda Nabi Muhammad saw. berikut, ”Umumkanlah perkawinan itu” dan sebuah firman Allah, ”Hai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada rasul serta kepada pemerintah yang sah.”

About these ads

2 thoughts on “Nikah Siri

  1. Asslm,
    tema nikah siri merupakan tema yang sangat menarik. tema ini hendak saya telusuri lebih lanjut, namun saya membutuhkan bantuan mengenai referensi bahasa.
    di referensi apa saya dapat menemukan penjelasan nikah siri dari tata bahasa. penjelasan kapan nikah siri mulai dipakai di Indonesia ?

    wasslm.
    agus.t

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s