Teman

Majalah Tempo, 19 Apr 2010. Qaris Tajudin, Wartawan.

Dalam lima tahun terakhir, jumlah teman saya meningkat tajam. Dulu, saya cuma punya belasan teman, atau paling banter puluhan (teman kerja dan teman kuliah dihitung). Kini saya punya hampir seribu teman. Ini bukan karena mendadak saya jadi anak gaul atau anak tongkrongan yang punya sohib di setiap pengkolan. Sebabnya apa lagi kalau bukan karena saya dan juga mereka yang punya lima ribu teman-bergabung dalam jaringan sosial Internet (awalnya Friendster, kemudian Facebook).

Dulu kita menganggap, seorang teman adalah orang yang tidak hanya kita kenal, tapi juga bergaul dengan kita dalam lingkaran tertentu (permainan, tempat kerja/sekolah, tempat tinggal). Di atas itu ada teman akrab (dari aqrab=amat dekat, bentuk superlatif dari qarib=dekat). Di atasnya ada sahabat, teman yang kadang kita anggap saudara sendiri.

Setelah jejaring sosial seperti Facebook mengambil alih sebagian aktivitas sosial kita, arti teman mulai mengendur. Dulu, menjadi teman itu terjadi dengan sendirinya. Jika semakin akrab setelah berkenalan, dua orang akan jadi teman dengan sendirinya. Kini kita tinggal meng-klik tombol “Tambahkan sebagai teman” atau “Add as a friend” dan disetujui oleh mereka yang kita minta.

Kita bahkan bisa meminta orang untuk menjadi teman, meski mereka tak cukup akrab. Mungkin orang orang itu kita kenal, tapi mereka (klien yang baru ketemu tadi pagi, temannya pacar, sastrawan pujaan) belum cukup dekat untuk dibilang teman. Mereka adalah orang yang dulu kita sebut sebagai kenalan. Kenalan bukan teman. Bahkan banyak teman di jejaring itu yang sama sekali tidak kita kenal.

Perluasan arti teman itu memang hanya ada di dunia maya. Di dunia nyata, arti teman tetap seperti sepuluh tahun lalu, ketika Facebook dan Friendster belum ada. Tapi perluasan ini pernah terjadi di dunia nyata, lebih dari seribu tahun lalu. Itu sekarang. Dulu, di masa Nabi Muhammad, semua orang Islam yang pernah bertemu Rasul disebut sahabat Nabi. Tak penting berapa lama mereka bertemu Rasul setiap hari seperti Abu Hurairah yang tinggal di masjid, atau hanya sekali seumur hidup seperti orang Badui yang cuma muncul sekali di depan Nabi untuk bertanya tentang takdir.

Berbeda dengan perluasan arti teman di Facebook, perluasan arti sahabat untuk sahabat Nabi terkait dengan masalah akidah (keyakinan) dan juga uji kesahihan periwayatan hadis (perkataan dan perbuatan Nabi).

Penganut sejumlah ideologi cenderung memilih kata khusus untuk memanggil orang yang berada dalam payung yang sama. Komunis Indonesia memakai kata kawan: Kawan Untung, Kawan Aidit. Ini adalah terjemahan dari camarade dari bahasa Prancis yang berarti kawan, teman, rekan.

Konon, pemakaian kata itu dimulai pada pertengahan abad ke-19, saat gerakan sosialis mulai mencari kata yang lebih egaliter untuk mengganti mister, miss, atau missus. Mereka pun memilih comrade. Kata ini kemudian juga dipakai di dalam bahasa Jerman (1875) dan Inggris (1884).

Tapi, kata kawan (atau teman dan sahabat) dianggap kurang mencerminkan keterikatan di kalangan pergerakan Islam semacam Partai Keadilan Sejahtera. Istilah yang dipakai untuk memanggil teman seperjuangan adalah akhi/ukhti (saudara/saudari) atau bentuk jamaknya ikhwah/akhwat.

Alasan pemakaian kata ini masuk akal, karena dalam Al Quran surat Al Hujarat ayat ke 10 tertulis: “Sesungguhnya orang orang beriman itu saling bersaudara.” Meski demikian, kita tahu, panggilan itu tidak ditujukan kepada semua orang yang seiman. Panggilan itu hanya kepada teman-teman satu kelompok. Orang dari (luar) Partai Kebangkitan Bangsa yang seiman tak akan dipanggil akhi/ukhti.

Kata itu akhi/ukhti juga berubah makna saat diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Mereka tidak biasa memanggil teman satu kelompoknya dengan saudara/saudari. Karena itu, akhi/ukhti (dalam konteks ini) tidak lagi bisa diartikan secara tekstual dengan saudara/saudari, tapi lebih tepatnya: teman seperjuanganku.

Uniknya, kata pengganti untuk teman itu pada akhirnya tidak bisa mengubah arti teman. Meski kawan atau kamerad dimaksudkan untuk menyamaratakan kedudukan, posisi Kawan Aidit tentu lebih tinggi dibanding Kawan Soekardjiman, Ketua PKI Nganjuk. Meski akhi/ukhti dimaksudkan untuk mempererat pertemanan, tetap saja posisi saudara kandung lebih tinggi. Dan meski kita punya ribuan teman di Facebook, teman sesungguhnya tetaplah yang segelintir itu. Yaitu, mereka yang benar benar mengenal kita di alam nyata. Arti teman sesungguhnya tak pernah (atau belum) berubah.

About these ads

3 thoughts on “Teman

  1. aya pengen tw sebenarnya apa sich yang melatarbelakangi penggunaan bahasa akhi dan ukthi sebagai basa gaul dalam sebuah organisasi?

    • Semangat keagamaan, dalam hal ini dakwah Islam. Panggilan islami lebih dipilih, sebagaimana istilah-istilah islami; dan sepertinya, demikianlah yang menjadi “tuntutan peran” partai politik yang membawa ideologi Islam menuju kekuasaan politik hingga terwujud khilafah islamiyah atau kedaulatan Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s