Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Ucapan Salam

with 2 comments

Pikiran Rakyat, 8 Mei 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Kalau dua orang bertemu maka dalam bahasa Indonesia mereka biasa bertanya kepada yang lain, “Apa kabar?” Pertanyaan itu diajukan bukan karena dia ingin mengetahui kabar terakhir (yang sudah dengan mudah dia ikuti melalui televisi atau surat kabar), juga tidak menanyakan segala hal yang bertalian dengan orang yang ditanya itu. Ungkapan itu adalah semata-mata kebiasaan orang dalam bahasa Indonesia untuk membuka salam dan mungkin membuka percakapan selanjutnya. Yang ditanya juga biasanya menjawab, “Baik.” Walaupun, mungkin dia sebenarnya hendak pergi ke dokter untuk berobat atau dua hari sebelumnya rumahnya kemasukan maling.

Cara menyampaikan salam untuk membuka percakapan kalau bertemu dalam setiap bahasa, berlainan. Dalam bahasa Inggris orang akan bertanya, “How are you?” Atau “How do you do?” Dalam bahasa Prancis orang berkata, “Bonjour.” Dalam bahasa Jepang orang bertanya, “O genki desuka?” Dalam bahasa Arab setelah menyampaikan, “Assalamualaikum wr. wb.,” (kalau dia Muslim), akan dilanjutkan dengan, “Ahlan wa sahlan.” Kalau Muslim, bukan hanya orang Arab, orang Indonesia juga biasa menyampaikan, “Asalamualaikum wr. wb.” yang mengandung doa selamat bagi yang ditegur. Tentu saja kecuali Gus Dur yang ulama itu ternyata lebih menyukai mengucapkan, “Selamat pagi.” Dalam bahasa Jawa, orang berkata, “Ngaturi sugeng.” Dalam bahasa Sunda, “Kumaha damang?”

Ungkapan-ungkapan itu merupakan kalimat yang boleh dikatakan tidak ada artinya atau ada artinya tetapi orang yang mendengarnya tidaklah mengartikannya sebagaimana arti kalimat itu yang sesungguhnya. Ungkapan-ungkapan itu sudah menjadi basa-basi atau kebiasaan yang diterima begitu saja. Oleh karena itu, sangatlah menarik untuk dicatat bahwa pada 1960-an, ada anggota DPRD-GR Jawa Barat yang mempersoalkan ungkapan, “Kumaha damang?” yang biasa diucapkan orang Sunda kalau bertemu dengan yang lain.

Anggota DPRD-GR itu mempersoalkan arti kalimat tersebut karena menyiratkan arti bahwa orang Sunda selalu sakit-sakitan mungkin karena kurang makan atau selalu dianggap baru sembuh habis sakit. Dia menyarankan agar ungkapan tersebut diganti dengan ungkapan yang lain. Seingat saya persoalan itu tenggelam begitu saja walaupun kalau tak salah timbul juga sedikit polemik dalam surat kabar. Yang jelas, sampai sekarang orang Sunda dalam bahasa Sunda selalu bertanya, “Kumaha damang?” kalau bertemu dengan orang Sunda yang lain (biasanya yang sudah lama tidak bertemu dengannya atau orang itu yang pertama kali bertemu dengannya).

Perlu disebutkan bahwa kebiasaan orang Jepang kalau bertemu sesamanya membuka salam dengan, “O genki desuka?” Itu artinya sama dengan kumaha damang? Tak pernah ada keterangan bahwa pertanyaan itu bertalian dengan keadaan orang Jepang yang selalu sakit-sakitan. Walaupun mengherankan juga mengapa orang Sunda dan orang Jepang menggunakan ungkapan yang artinya sama sebagai pembuka percakapan.

Ungkapan salam yang tak ada artinya atau biasanya tidak diartikan seperti arti yang sebenarnya itu sudah menjadi kebiasaan yang maksudnya tidak lain untuk membuka percakapan. Kata-kata itu hanyalah basa-basi yang di belakangnya hanya mempunyai arti bahwa orang yang mengucapkannya itu bersedia untuk melanjutkan percakapan dengan orang yang dia tegur. Tentu saja hal itu tergantung juga dari nada atau cara dia mengucapkan kalimat itu. Seperti diketahui, kalimat-kalimat yang betapa penuh kata penghormatan pun kalau diucapkan dengan cara tertentu malah bisa menyinggung perasaan yang diajaknya bicara. Kalau demikian, daripada kelanjutan percakapan penuh keramahan, akibatnya mungkin sebaliknya.

Niscaya juga bergantung pada hubungan orang yang menegur dengan yang ditegur. Kalau hubungannya sudah demikian, erat mungkin ungkapan yang dilontarkan pun berlainan. Hubungan yang sudah erat tidak memerlukan basa-basi lagi. Mungkin teriakan, “Hai!” Atau semacamnya saja sudah cukup. Malah orang-orang Surabaya tidak mustahil mengucapkan kata, “Diamput!” atau “Diancuk!” yang dalam percakapan biasa tidak boleh diucapkan. Orang Sunda mungkin hanya akan mengucapkan, “Siah!” kepada kawan akrab yang sudah lama tidak bertemu.

Bahasa tubuh yang menyertai ungkapan-ungkapan itu diucapkan juga berlainan. Ada yang sambil berjabatan tangan, ada yang sambil mengangkat kedua tangannya ke depan dada sambil dikepalkan, ada yang sambil membungkukkan badan sampai derajat tertentu, ada yang sambil merangkulkan kedua tangan memeluk lawan bicaranya, ada yang disertai ciuman di kedua belah pipi. Kebiasaan memeluk sambil mencium kedua belah pipi itu sejak beberapa likur tahun menjadi kebiasaan orang Indonesia kalangan tertentu juga. Sebelumnya orang Indonesia bersalaman dengan sebelah atau dua belah tangan (munjungan) atau sambil menganggukkan kepala. Mungkin kebiasaan saling peluk dan saling cium kedua belah pipi itu pengaruh dari Arab yang dibawa orang-orang Muslim. Akan tetapi, tentu saja pengaruh dari Arab itu hanya dilakukan di antara sesama lelaki. Di Indonesia sekarang saling cium kedua pipi dilakukan juga antara lelaki dan perempuan, walaupun mereka Muslim. Mungkin itu pengaruh dari Prancis (Eropa).

Saya sendiri berpendapat bahwa bersalaman dengan kedua belah tangan (munjungan) seperti yang biasa dilakukan oleh orang Sunda (dahulu, sebab sekarang banyak yang sudah membiasakan berpelukan), adalah cara yang paling baik kalau dijadikan kebiasaan salam nasional di Indonesia.

Sumber ilustrasi: “Hello” in many languages.

About these ads

Written by Rubrik Bahasa

8 Mei 2010 at 05.39

Ditulis dalam Ajip Rosidi, Pikiran Rakyat

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. hmm..

    menarik juga..
    salam ya..

    tonosaur

    9 Mei 2010 at 10.27


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.563 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: