Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Sulitnya Bahasa Indonesia

with 11 comments

Majalah Tempo, 24 Mei 2010. Agus R. Sarjono: Penyair.

Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini.

Untuk mengenal situasi mutakhir di Indonesia, Berthold Damshauser, dosen kawakan bahasa Indonesia di Universitas Bonn, membagikan kliping teks wawancara tokoh terkemuka Indonesia. Ia tercengang melihat nyaris tak satu pun mahasiswanya mampu memahami teks itu.

Ada dua kesulitan, ternyata. Pertama, mereka kesulitan memahami kalimat-kalimat sang tokoh yang kerap kehilangan subyek atau predikat, diselingi ungkapan daerah dan ungkapan asing. Ini masih ditambah dengan logika kalimat yang sulit ditangkap serta pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Mengungkapkan sesuatu dengan tidak taksa (clear and distinct) memang bukan kelaziman bagi para tokoh Indonesia.

Saya yang nasionalis Pancasilais dengan tegas menolak untuk membahasnya. Jika kita akui bahwa para tokoh pun tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, apa alasan para mahasiswa dan sarjana asing untuk belajar bahasa Indonesia? Maka segera saya larikan kesulitan itu pada persoalan kedua, yakni sistem bahasa Indonesia yang pada dasarnya cukup berbeda dari bahasa-bahasa Eropa.

Salah satu perbedaan dasar adalah masalah penanda waktu. Bahasa-bahasa Eropa-Inggris, Jerman, dan Belanda, misalnya-memiliki penanda waktu yang jelas sehingga dari bentuk kalimatnya segera dapat diketahui apakah sesuatu terjadi pada masa lampau, masa kini, atau masa depan. Bahkan, dapat segera diketahui pula apakah kegiatan itu sedang terjadi, telah terjadi, akan terjadi, sedang terjadi tapi belum selesai, telah terjadi tapi masih terus berlanjut, dan sebagainya. Pada bahasa Indonesia, semua itu tidak segera dapat diketahui. Jika ada kalimat: “Agenda utama pemerintah adalah memberantas korupsi”, tidak segera menjadi jelas apakah memberantas korupsi itu sedang dijalankan dan sudah beres, sedang dijalankan dan masih terus berproses, akan segera dijalankan di masa depan, atau bahkan masih rencana belaka yang sama sekali belum diketahui kapan akan dilaksanakan.

Apakah dengan demikian bahasa Indonesia tidak lengkap dan gawat dibanding bahasa lain, tentu saja tidak dapat disimpulkan segegabah itu. Sebuah bahasa selalu saja lahir, mencerminkan, dan bahkan kompatibel dengan budaya yang melahirkannya. Budaya Indonesia sejak berabad lalu memandang waktu sebagai sesuatu yang sirkuler, dengan masa silam, masa kini, dan masa depan masih (dianggap) bersatu. Pengenalan masyarakat Indonesia atas waktu nonsirkuler baru dimulai dengan masuknya Islam ke Indonesia yang membagi hari dalam lima waktu ibadat. Karena masuknya Islam ke Indonesia disambut hangat dalam haribaan mistik yang berakar kokoh di masyarakat, waktu nonsirkuler itu pun lebur dalam jagat waktu sirkuler. Tradisi Kristiani yang datang kemudian serta memiliki perspektif waktu nonsirkuler juga hanya memberikan dampak tipis dalam mengubah perspektif atas waktu pada masyarakat karena ia pun dilebur pula dalam tradisi mistik di masyarakat.

Masalah lain yang membuat orang asing pusing dalam belajar bahasa Indonesia adalah urusan imbuhan. Kesaktian imbuhan dalam bahasa Indonesia demikian luar biasa sehingga ia dapat mengubah makna kata hingga batas tak terduga.

Membicarakan pembicaraan dan cara berbicara para pembicara dalam urusan imbuhan memerlukan pembicaraan tersendiri agar dapat terbicarakan dengan baik.

Alhasil, para mahasiswa Jerman jurusan bahasa Arab, Cina, atau Jepang yang pada semester pertama wajahnya pucat, setelah lulus, wajah mereka mulai berseri-seri. Sementara itu, wajah mahasiswa jurusan bahasa Indonesia yang berseri-seri di semester awal, begitu lulus, segera menjadi pucat. Kepucatan ini kian bertambah seiring makin dalamnya mereka mempelajari bahasa Indonesia.

“Nah, tahu rasa kalian,” demikian bisik hati saya. Jangan remehkan bahasa Indonesia, man! Negara-negara Arab boleh saja kaya, negara Jepang boleh saja makmur dan canggih berteknologi, negara RRC boleh saja sukses memberantas korupsi dan tumbuh menjadi raksasa yang membanjiri dunia dengan barang-barang murahnya; tapi maaf, sejauh menyangkut bahasa, bahasa Indonesialah yang paling sulit dipelajari.

Saya pun meninggalkan mahasiswa Jerman dengan kebanggaan luar biasa. Saya tidak bisa berbahasa Arab, Jepang, atau Cina. Meskipun bahasa-bahasa itu mudah dipelajari, saya belum berniat mempelajarinya. Jika kita sudah menguasai bahasa yang rumit seperti bahasa Indonesia, bahasa lain tidak menjadi prioritas utama.

Sumber ilustrasi: iStockphoto.

About these ads

Written by Rubrik Bahasa

24 Mei 2010 pada 22.55

Ditulis dalam Agus R. Sarjono, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

11 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Makasih rubriknya.
    Akan saya pakai untuk kelas artikel saya :)
    Biar para “bule2″ itu kalo bahasa Indonesia itu susah :)

    lita

    24 Mei 2010 at 23.11

  2. Bagus sekali :D. saya suka bacanya.

    Muda Bentara

    24 Mei 2010 at 23.25

  3. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa kacau, karena bangsa juga masih kacau. Kita (orang Indonesia) akan dapat berbahasa Indonesia dengan baik kalau kita sudah dapat “berbangsa” dengan baik.

    Rudi Wilson

    25 Mei 2010 at 06.17

    • Gila! Singkat, padat, jelas, namun masuk ke dalam hati. Sepertinya Anda benar, mas Rudi Wilson.

      ademalsasa

      26 Mei 2010 at 19.22

  4. Saya sedang mempelajari bahasa Mandarin dan menemukan beberapa kemiripan dengan bahasa Indonesia, termasuk ketiadaan penanda waktu dalam kata kerja, serta kalimat tanpa subjek. Mungkin ini salah satu kekhasan bahasa Timur. Tidak perlu dianggap sebagai kelemahan atau ketidaklengkapan.

    Femmy

    25 Mei 2010 at 08.35

  5. Wuaduh, pikiran pongah macam apa ini?! Seakan-akan, semakin sukar dan rumit sebuah bahasa untuk dipelajari maka semakin mantaplah bahasa itu (dan tak perlulah belajar bahasa lain). Pemikiran macam ini sama-setubuh dengan pemikiran “semakin mudah sebuah bahasa dipelajari maka semakin sepelelah bahasa itu.” Tulisan ini jelek sekali!!!

    Wahyu Ginting

    30 Mei 2010 at 00.24

  6. Bagaimanapun bahasa Indonesia tetaplah sebagai bahasa yang relatif mudah untuk dipelajari dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia ini.

    Imam Baehaqie

    12 Juni 2010 at 20.39

  7. namun sangat disayangkan sekali, saat ini di sekolah-sekolah internasional yang marak berdiri di kota-kota besar seperti Jakarta, bahasa Indonesia hanya menjadi bahasa pengantar ketiga setelah bahasa Inggris dan Mandarin..huuuh

    yusuf efendi

    29 Juni 2010 at 10.09

  8. sulitnya memahami tulisan ini. sesudah kesulitan semoga ada kemudahan. saya jadi teringat pelajaran saya mulai smp, selalu pelajaran bahasa asing terutama sintaksis dan gramatikal terasa lebih mudah. nah lo, jangan mudah memperdaya diri sendiri. jadi guru bahasa memang berat, dibaliknya ada logika tindakan dan budaya.

    widhy sinau

    19 Maret 2011 at 22.57

    • Kelemahan pengajaran akan “bahasa indonesia” untuk ‘orang bule’ sebenarnya ada pada pengajaran mengenai “imbuhan” yg perlu disederhanakan untuk mereka, contoh untuk mahasiswa bule yg lagi belajar:

      Imbuhan ME+ untuk membuat kata menjadi Kata Kerja+(aktif)
      Imbuhan PE+ untuk membuat kata menjadi Kata Benda
      Imbuhan DI+ untuk membuat kata menjadi kata kerja-(pasif)

      Contoh:

      Tangkap kata dasarnya dulu, dikira2 apa kata dasarnya, terus baru kemudian….

      Saya ditendang singa
      Saya di-’tendang’ singa
      I am-’kick’ed (by) lion

      Pengeboman kota bandung
      PE+’bom’-an city bandung
      The ‘bomb’ing (of) bandung city

      Anjing menonjok tikus
      Anjing ME+’tonjok’ tikus
      Dog ‘punch’ mouse

      Pelajaran Ini untuk bule

      james

      13 November 2012 at 21.56

  9. ‘tika tsunami di Aceh, banyak bule yang datang dan kami orang-orang Aceh jadi heran karena banyak juga bule mampu berbahasa Indonesia (padahal mereka mengaku dua atau tiga bulan di Indonesia).

    Anehnya, mereka pun mengaku sangat susah belajar bahasa Aceh. Sebab, bahasa Aceh banyak sekali vokalnya.

    Edi Miswar Mustafa

    17 April 2013 at 07.35


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.544 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: