Macan Ompong

Lampung Post, 4 Agu 2010. Yuliadi M.R.: Pemerhati bahasa, tenaga teknis bahasa Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

DALAM bincang-bincang pada suatu waktu di warung kopi, seorang teman berceloteh, “Belanda bak macan ompong di hadapan Spanyol kala mereka bertanding di final Piala Dunia pada waktu yang lalu”. Mengapa Belanda dikatakan bak macan ompong? Apakah pendayagunaan istilah itu dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi berbahasa?

Situasi kejiwaan—dalam kajian psikologi bahasa—berpengaruh terhadap ekspresi berbahasa seseorang. Ekpresi itu dapat diamati dalam pilihan kata (diksi) yang digunakan dalam berbahasa. Pendayagunaan istilah macan ompong dalam pernyataan di atas adalah sebagai salah satu bentuk luapan emosi: ketidakpuasan, ketidakkendalian, atau ketidakterimaan terhadap kenyataan.

Istilah macan ompong dalam KBBI adalah kata kiasan untuk mengiaskan macan kertas “sesuatu yang tampak kuat dan galak, tetapi sebenarnya tidak bertenaga dan jinak”. Dengan alasan ini, bila Belanda dikatakan macan ompong seperti celoteh teman di atas, rasa-rasanya dapat diterima. Selain itu, memang pada kenyataannya Belanda di hadapan Spanyol tidak mampu berbuat banyak.

Luapan emosi seseorang berpengaruh terhadap bahasa yang digunakan. Salah satu bentuk penggunaan bahasa, yaitu pendayagunaan istilah dalam bidang perbinatangan. Dalam masyarakat acap kita jumpai istilah babi buta, kucing garong, atau buaya darat. Pendayagunaan istilah-istilah itu terasa lebih ekspresif dan emosif. Sekadar contoh, babi buta, istilah ini dipakai untuk mengiaskan keadaan yang tidak diduga atau tidak disangka-sangka, dan tidak terkendali: Jerman membabi buta terhadap Argentina dengan skor 4:0.

Begitu pula istilah kucing garong, untuk mengiaskan perilaku seseorang yang tidak peduli, tanpa pertimbangan, dan main sikat saja. Kata kucing garong dapat diartikan kucing yang tidak bertuan dan hidup dari menggarong “mencuri”. Bila seseorang yang perilakunya main sikat saja tanpa pertimbangan dapat dikatakan si kucing garong. Mungkin setali dengan kata buaya darat. Buaya darat dapat mengiaskan seseorang yang suka memakan apa saja, termasuk teman dekat.

Ada pula istilah otak udang, kata ini dilekatkan kepada seseorang yang tidak/jarang menggunakan otak “akal dan pengetahuannya” dalam bertindak dan bersikap. Begitu pula dengan kata kabar burung? Kata kabar burung juga berangkat dari perspektif negatif. Artinya kabar atau berita yang tersiar belum jelas dan pasti kebenarannya. Kabar itu berkembang karena adanya bincang atau gosip dari seseorang/kelompok kepada orang lain.

Lain lagi dengan istilah muka badak, istilah itu diberikan kepada seseorang yang tidak mempunyai rasa malu. Sejalan juga dengan istilah malu kucing, malu kucing dapat dilekatkan kepada seseorang yang bersikap pura-pura malu. Bahkan untuk menyatakan sikap yang mendua, yaitu tidak mempunyai pendirian (munafik), ikut ke sini dan ikut ke sana disebut ular kepala dua.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pendayagunaan istilah macan ompong, babi buta, kucing garong, otak udang, atau kabar burung dalam berbahasa selain sebagai bentuk luapan emosi, istilah itu bertujuan untuk mengungkapkan perasaan dengan bahasa yang lebih ekspresif dan tendensif terhadap sesuatu hal karena ketidakpuasan, keputusasaan, atau ketidakterimaan.

About these ads

One thought on “Macan Ompong

  1. Istilah bahasa kita yang patut dilestarikan, mari kita bantu menghidupkannya selalu dengan menulis artikel seperti ini.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s