Perubahan Makna Pemakzulan

Majalah Tempo, 27 Des 2010. Saidi A. Xinnalecky: Wartawan.

SEKALI lagi. Makna “pemakzulan” yang berasal dari bahasa Arab secara etimologis berarti penyingkiran, pengasingan, penyendirian, dan sejenisnya. Persepsi kita tentang makna istilah ini akan rancu lagi jika ditinjau dari istilah fikih (ilmu hukum Islam). Turun dari takhta, kekuasaan, atau jabatan tidak mengenal “makzul” (asal kata pemakzulan). Tapi nuzul, manzul, dan tanazul adalah derivasi dari asal kata kerja nazala (turun atau jatuh).

Ada sanggahan terhadap tulisan saya berjudul “Hikayat Pemakzulan” dalam kolom ini beberapa waktu lalu (Tempo, 25-31 Oktober 2010). Argumen utama kritik itu berpedoman pada kebebasan bahasa lokal untuk menyerap kosakata asing, yang definisinya tidak mesti dirumuskan sama persis.

Makna serapan itu biarlah berlaku domestik, antara lain, seperti ditunjukkan oleh Qaris Tajudin dalam kolom ini (Tempo, 8-14 November 2010), dengan kata “kalimat” yang diserap dari bahasa Arab. “Kalimat” dalam bahasa Indonesia adalah apa yang dimaksud “al-jumlatu al-mufidz” dalam bahasa Arab. Susunan kata-kata (al-huruf) yang membentuk suatu pengertian, sebelum sampai pada level “al-kalam”, susunan al-jumlah (Indonesia: kalimat atau paragraf) yang membentuk sebuah makna tekstual.

Demikian juga kata “pemakzulan” yang, saya katakan, berasal dari kata ma’zul. Derivasi dari kata ‘azl (al-‘azl) yang bermakna menyingkirkan atau mengasingkan. Namun telah mengalami deviasi sehingga bergeser ke arti yang bersumber dari kitab Hikayat Muhammad Hanafiah di Semenanjung Malaka (Melayu) pada 1450. Meminjam istilah antropologi linguistik bisa disebut sebagai hasil fosilisasi atau konvensionalisasi yang menyimpang dari aslinya.

Qaris Tajudin, dalam tulisannya, mempertahankan bahwa maknanya bisa sama dengan pengertian yang diberikan oleh bahasa Indonesia. Dia memberikan contoh tulisan beberapa media berbahasa Arab, seperti Reuters pada 25 Oktober lalu berjudul “Haakim Afghani saabiq yaquul innahu ‘uzila li-intiqadihi Iran”. Diartikan: mantan penguasa Afganistan mengatakan dia dimakzulkan karena kritis terhadap Iran. Lalu dicontohkan berita di situs Aljazeera.net pada 2 Juli 2010, tentang pemecatan seorang gubernur di Yaman dengan memakai kata ‘azala dengan arti memecat.

Hemat saya, penerjemahan kalimat di atas tepat dengan argumen yang saya berikan tentang makna pemakzulan. Qaris hanya memberikan argumen paradoksal terhadap apa yang saya maksud. Penempatan kata-kata yang merupakan derivasi dari al-‘azl di berita-berita itu justru membenarkan pengertian penyingkiran para pejabat itu. Kata “mencabut” dan “memecat” sekadar selera untuk memikat pembaca.

Mantan pejabat Afganistan itu tadinya bukan di pucuk kekuasaan, nasib dia bisa dikatakan dengan ‘uzila, ‘azala, maupun naqala, intaqala (Arab: pindah) dan sejenisnya. Demikian salah satu gubernur di Yaman itu. Jabatan dia tergolong pengangkatan dari yang menyingkirkan. Aneh juga, ada contoh lain, yang tidak terlalu dibutuhkan, dalam bahasa Latin yang mengartikan al-‘azl dengan coitus interruptus. Yang tepat adalah menghentikan persetubuhan atau menyingkirkan alat kemaluan dari vagina (menjelang ejakulasi).

Media-media itu tepat, dalam konteks ini. Bisa dikatakan sebagai upaya menghindari kata nazala dan nuzila atau derivasinya yang lain seperti tanazul, nuzul, atau manzul yang bisa berefek semantic confusion. Karena an-nazl berarti menjatuhkan atau menurunkan sesuatu (kekuasaan) dari pucuk, menurut leksikal, maupun makna terminologis dalam ilmu hukum Islam, al-Fiqhu as-Siayasah.

Tak perlu membongkar lembaran-lembaran Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk meneliti kebenaran arti kosakata asal Arab. Saya yakin, dari semua kosakata serapan itu tidak banyak yang menyimpang dari makna aslinya. Varietas bahasa Melayu yang berasal dari morfologi kosakata Arab terjadi dalam konteks penyerapan untuk melengkapi kekurangan khazanah bahasa yang tersedia.

Dengan sedikit berhipotesis, bahwa di Indonesia, kendati terdapat banyak komunitas keturunan Arab, khususnya Yaman Selatan (Hadhrah Maut), tidak terdapat bahasa Kroel Arab. Sebuah proses terbentuknya varietas bahasa dan gramatikanya yang diwariskan beberapa generasi, tapi bisa menyimpang dari makna aslinya (Van Bree, 1990: 272).

Karena itu, sejauh hanya menyangkut perbedaan pengertian dalam konteks leksikal, bisa dimaklumi. Tetapi, menyangkut sebuah istilah teknis dalam disiplin ilmu, seperti hukum Islam, sebaiknya dikembalikan pada maqom-nya, agar tidak terjadi kesalahan penafsiran. Seharusnya dalam fikih menurunkan pucuk penguasa suatu negara dengan istilah “tanazul” atau “manzul”; kita menggunakan “makzul” yang beda makna, walau perbedaan itu tipis. Seharusnya ada defosilisasi warisan yang menyimpangkan makna ini.

Bukankah istilah teknis ilmu pengetahuan beserta definisinya berlaku universal?

About these ads

3 thoughts on “Perubahan Makna Pemakzulan

  1. Bahasa, menurut saya adalah “suka-suka pemakainya” asal memberikan pemahaman sesuai dengan yang dimaksud pembicara dan dipake oleh sebagian besar orang-orang. Jadi kurang bijaksana jika memaksakan untuk mengganti kata ‘AZALA —–> kepada NAZALA. Dalam kontek perununan kekuasaan ini. Ilmu Fiqh pake istilah akar kata ‘AZALA bukan akar NAZALA, merupakan langkah JENIUS sebab dalam ilmu lain (Studi Al-Qur`an) ada istilah NUZULUL QUR`AN. coba dicek makna “Inzal” dan “Tanzil” dalam hal ini. Agar bisa dibedakan dengan sesuatu yang menurut hemat saya tengah dicoba untuk “dipaksakan” Pak Saidi ini. (sekedar contoh) Pemanzulan Gusdur, apa Pemakzulan Gusdur.? Maaf tidak sebagus tulisan Pak Saidi. Sebab ini murni tulisan dari lubuk kalbu (apa Qalbu, ya ?!) saya.

    • Pak Saidi justru yang membantah tulisan penulis artikel pada rubrik bahasa sebelumnya, silakan lihat lagi: http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/10/25/hikayat-pemakzulan/#comment-1354.
      Jadi, beliau justru yang menjunjung arbiter atau konsep “suka-suka” berbahasa semau penuturnya. Meski saya paham argumentasi kedua penulis, kalbu ini tetap condong pada asas kepraktisan, sebagaimana yang diusung Pak Saidi dan Mas Mohammad Solihin.
      Adapun pemakaian kata ini dalam konteks khusus, fikih Islam, bisa saja dijadikan semacam selingkung atau ditetapkan sebagai istilah tersendiri, tidak mengapa insya Allah.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s