Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Mati Lampu atau Mati Listrik

dengan 3 komentar

Lampung Post, 2 Maret 2011. Fadhilatun Hayatunnufus: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan penggunaan kata mati lampu dan mati listrik. Banyak orang yang mengatakan mati lampu jika PLN memadamkan listrik dan ada pula yang mengatakan mati listrik. Akan tetapi, selama ini kata yang sering saya dengar adalah mati lampu. Apakah mati lampu itu, artinya semua lampu dimatikan oleh PLN sama halnya dengan mati listrik.

Penggunaan kedua kata itu menyebabkan saya mempertanyakan bentuk manakah yang benar dari kedua kata itu atau apakah kedua kata tersebut sama-sama boleh digunakan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata lampu adalah alat untuk menerangi, contohnya dalam kalimat: Halaman rumah berdinding bambu itu kelihatan agak gelap karena lampunya mati.

Arti kata listrik adalah daya atau kekuatan yang ditimbulkan oleh adanya pergesekan atau melalui proses kimia, dapat digunakan untuk menghasilkan panas atau cahaya, atau untuk menjalankan mesin. Contohnya dalam kalimat: Rumah itu belum mempunyai listrik.

Berdasarkan logika, mati lampu berarti semua lampu mati. Ini berarti yang lain (barang elektronik, seperti televisi, radio, kulkas, dsb.) masih menyala, sedangkan mati listrik semua barang elektronik mati. Agak aneh juga jika kita mengatakan mati lampu saat semua lampu dan barang-barang elektronik mati.

Kita seharusnya mengatakan mati listrik bukan mati lampu karena kata mati listrik menyatakan semua lampu dan barang-barang elektronik mati, dan kata mati lampu menyatakan hanya lampu saja yang mati.

Ternyata, terjadi kesalahpahaman dengan kata mati lampu dan mati listrik. Orang-orang berpikir kalau mati lampu itu sama artinya dengan mati listrik dan yang mematikan bukan kita sendiri dengan kesadaran sendiri, tetapi dimatikan oleh PLN.

Kesalahan ini sudah sejak dari dulu. Saat listrik mati (mati listrik) banyak yang mengatakan lampu mati (mati lampu), padahal salah kaprah. Seperti halnya dengan masak nasi, yang selama ini digunakan untuk mengatakan memasak beras. Arti kata masak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sudah matang dan sudah waktunya untuk diangkat, seperti dalam kalimat: Nasi sudah masak, makanlah dulu. Sedangkan arti kata nasi adalah beras yang sudah dimasak, seperti dalam kalimat: Ia tidak mau makan nasi. Jadi, seharusnya kita mengatakan memasak beras.

Mengapa? karena salah satu fungsi imbuhan me- adalah membentuk kata kerja. Imbuhan me- +masak menjadi memasak (verba) yang artinya membuat (mengolah) panganan, makanan, dll. Beras artinya padi yang telah terkelupas kulitnya (yang menjadi nasi setelah ditanak).

Jadi, seharusnya kita mengatakan memasak beras bukannya masak nasi, karena jika kita menggunakan kata masak yang artinya matang dan nasi yang artinya beras yang sudah dimasak maka arti kata masak nasi tersebut tidaklah sama dengan memasak beras. Kata memasak beras artinya beras tersebut dimasak hingga menjadi nasi, sedangkan kata masak nasi, artinya nasi yang telah matang (nasi sudah matang kok dimasak).

Nah, setelah kita mengetahui arti kata mati listrik dan mati lampu, sekarang sebaiknya kita menggunakan kata mati listrik untuk menyatakan pemadaman listrik yang dilakukan oleh PLN bukannya kata mati lampu. Bagaimana menurut Anda?

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

2 Maret 2011 pada 16.11

Ditulis dalam Fadhilatun Hayatunnufus, Lampung Post

Dikaitkatakan dengan

3 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Silakan buka tautan ini:
    http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&action=view&phrase=tanak

    Di situ jelas ada frasa “menanak nasi” yang artinya “memasak nasi,” tetapi tidak ada “memasak beras.” Jadi, menurut saya, frasa “menanak nasi” atau “memasak nasi” sudah betul.

    me·na·nak v 1 memasak nasi (dl periuk, dng direbus saja tidak dikukus); 2 memasak dng merebus atau mengukus;

    pe·na·nak n orang yg tugasnya menanak nasi; juru tanak;

    Sofia

    4 April 2011 pada 16.48

  2. Bahasa menyangkut rasa, tidak semata-mata logika.
    Berikut ini contoh-contoh pemakaian bahasa Indonesia yang tidak sesuai logika, namun sudah berterima.

    1. Siapa namamu? (Mneurut logika, yang benar adalah apa namamu?)
    2. Berapa nomor teleponmu? (menurut logika, apa nomor teleponmu? atau angka berapa nomor teleponmu?)
    3. Di mana alamatmu? (menurut logika, yang benar adalah apa alamatmu?)
    4. Minum air putih. (Yang dimaksud air bening, bukan?)
    5. Sudah beribu-ribu kali kukatakan. (benarkah? barangkali sepuluh kali saja belum)

    Masih banyak lagi.

    Salam,
    -jr.-

    Joko Riyanto

    7 April 2011 pada 11.54

  3. memang sudah salah kaprah dari dahulu,harusnya emang mati listrik, seperti contohnya juga pada “air putih”….yg kita minum adalah air bening kenapa jadi air putih? seperti susu atau air kanji aja putih warnanya wkwkwkwk…salam :)

    sonny

    9 Februari 2012 pada 18.38


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.