Pa-ra-hyang-an

Pikiran Rakyat, 25 Apr 2011. Imam Jahrudin Priyanto

SEBAGAI pengguna bahasa, sering kali kita tidak terlalu peduli terhadap asal usul kata yang kita gunakan. Misalnya parahyangan, priangan, raden, raka, rama, rayi, ratu, ataupun rahayu.

Sekarang kita kaji dulu kata parahyangan. Kata ini dipakai sebagai nama universitas swasta terkemuka di Kota Bandung dan (pernah) juga menjadi nama kereta api yang teramat populer pada rute Bandung-Jakarta atau sebaliknya. Bagaimana kata ini terbentuk?

Begawan bahasa Prof. Dr. Anton M. Moeliono mengurai kata parahyangan sebagai pa-ra-hyang-an. Pa-an adalah konfiks (imbuhan yang mengapit) bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia sejajar dengan per-an. Baiklah, sekarang kita kupas makna ra dan hyang. Hyang adalah dewa. Sementara ra, menurut Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia itu, adalah awalan untuk menghormat (dalam bahasa Jawa kuno). Dengan demikian, parahyangan berarti tempat para dewa. Dengan makna seperti ini, yang terbayang adalah tempat yang indah. Kiranya ini sejajar dengan ungkapan “tanah Parahyangan tercipta saat Tuhan tersenyum”. Betapa indahnya.

Tanpa kita sadari, awalan ra ini pun digunakan dalam kata raden (dari rahadyan), raka (ra-kaka), rama (ra-ama), rayi (ra-ayi), ratu (ra-tu), dan rahayu (ra-ahayu). Ahayu semakna dengan ayu atau cantik. Pada ratu, tu mengacu ke orang, sehingga ratu berarti orang yang terhormat, dan pada saat itu tidak mengacu ke laki-laki atau perempuan.

Untuk mempelajari makna parahyangan, saya juga melakukan studi pustaka dengan membuka Kamus Jawa Kuna-Indonesia karangan Prof. P.J. Zoetmulder bekerja sama dengan S.O. Robson (dengan penerjemah Darusuprapta-Sumarti Suprayitno) yang isinya luar biasa. Menurut kamus yang juga direkomendasikan oleh Prof. Anton M. Moeliono untuk saya beli dan pelajari ini, ra merupakan kependekan dari raditya. Selain itu, ra juga biasa ditempatkan di depan kata benda yang menunjuk kategori orang-orang dari derajat tertentu (rahadyan) atau orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan orang yang berderajat lebih tinggi (ra putu). Kata rahadyan ini, seperti dikemukakan di atas, ada kaitannya dengan gelar raden.

Sementara hyang (kamus ini mencantumkan hyan, dengan n gelung yang dilafalkan selayaknya ng) berarti dewa, dewi, yang dipuja sebagai dewa, Tuhan, dewa yang bertalian dengan tempat, bunga, pohon, bagian badan, dan sebagainya. Menurut kamus setebal 1.496 halaman itu, hyan (dibaca hyang) sering kali ditempatkan di depan kata benda (nama diri) misalnya hyan (hyang) Indra ataupun san hyan (sang hyang) Indra. Kahyanan (kahyangan) berarti tempat kediaman dewa-dewa atau dewa tertentu, surga, candi, tempat suci, tempat kediaman komunitas yang taat pada agama, ataupun pertapaan. Sementara (m)akahyanan atau (m)akahyangan berarti penghuni atau kepala kahyangan (pertapaan). Kamus ini memberi arti parhyanan (parhyangan), paryanan (paryangan), dan prahyanan (prahyangan) sebagai tempat pemujaan dewa.

Sementara dalam kehidupan sehari-hari, terutama di Jawa Barat, dikenal pula kata priangan yang merupakan varian singkat dari parahyangan. Orang Belanda menyebut priangan sebagai preanger, seperti digunakan pada  nama hotel di pusat Kota Bandung.

About these ads

2 thoughts on “Pa-ra-hyang-an

  1. Penjelasan kata “parahyangan” secara etimologis, meski tidak begitu paham, saya salut dengan penulis rubrik ini. Menarik, menambah wawasan kita, terutama bagi yang bukan dari tanah Sunda.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s