Problematika Imbuhan ‘Ter’

Lampung Post, 3 Agu 2011. Chairil Anwar, Alumnus S-1 FKIP Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung

Saat berkomunikasi, kita sebagai pemakai bahasa Indonesia tentu dituntut untuk menerapkan kaidah kebahasaan dengan cermat. Namun, dalam penggunaannya sehari-hari, tidak sedikit ditemukan penyimpangan yang dilakukan masyarakat bahasa terhadap kaidah yang seharusnya ditaati. Salah satunya adalah ketidakcermatan dalam menggunakan imbuhan “ter”.

Sesuai kaidah, salah satu fungsi awalan “ter” adalah menyatakan “ketidaksengajaan” di samping menyatakan “paling” serpeti kata terbaik dan tercantik, lalu menyatakan “dapat di (kata dasar)” seperti kata tercapai dan terjangkau.

Akan tetapi, pada kasus tertentu, untuk menyatakan makna ketidaksengajaan, pemakai bahasa kerap menggantikan imbuhan ter- dengan imbuhan “di”. Dengan begitu, tidak jarang dalam penulisan berita sekalipun, kita jumpai kalimat berikut ini:

“Pengendara motor tewas ditabrak truk pengangkut semen.”

Dalam konteks kalimat ini, sopir truk sebenarnya tidak berniat untuk menabrak pengendara motor nahas tersebut. Dengan kata lain, kejadian tersebut memang tidak benar-benar diharapkan oleh sopir, dan tidak ada unsur kesengajaan di dalammya.

Berdasarkan fungsi imbuhan “ter” yang telah dipaparkan sebelumnya, pemakaian imbuhan “di” pada kata ditabrak dalam kalimat di atas adalah keliru, alias tidak berterima.

Penggunaan yang tepat berdasarkan konteks kalimat itu adalah menggunakan imbuhan “ter”. Dengan demikian, kalimat itu seharusnya menjadi “Pengendara motor tewas tertabrak truk pengangkut semen.”

Penyimpangan serupa juga terdapat dalam kalimat-kalimat berikut ini: “Tikus itu mati dilindas motor”, atau “Seorang ibu diserempet opelet saat menyeberang.”

Berdasarkan penguraian itu, dapat disimpulkan bahwa kunci dari penggunaan imbuhan “ter” dalam kasus ini adalah logika berbahasa atau penalaran, yang dapat kita analisis berdasarkan konteks kalimatnya.

Berkaitan dengan kasus sebelumnya, pada contoh-contoh berikut ini, imbuhan di- dan ter- dapat diterima, bergantung dari maksud yang akan disampaikan—apakah menyatakan kesengajaan atau ketidaksengajaan.

“Kamus bahasa Indonesia itu dibawa oleh Ujang.” Kalimat itu bermakna bahwa kamus tersebut memang sengaja dibawa.

Apabila kalimatnya diubah menjadi seperti berikut ini: “Kamus bahasa Indonesia itu terbawa oleh Ujang.”

Maka, makna kalimat berubah, berarti Ujang tidak sengaja membawa kamus tersebut.

Dari salah satu problematika afiks “ter” ini, dapat disimpulkan bahwa konteks memang melatarbelakangi sebuah komunikasi, dalam hal ini melalui media tulisan. Dan sebagai pemakai bahasa, konteks membantu kita untuk menerapkan kaidah bahasa Indonesia dengan cermat.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s