Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

‘Kematian’ Penyukat Beras

with 6 comments

Lampung Post, 10 Agu 2011. Yuliadi M.R., Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Perkembangan ilmu dan teknologi berpengaruh terhadap kehidupan bahasa (Indonesia). Seiring itu, satu sisi bertambah perbendaharaan kosakata, pada sisi yang lain terjadi “kematian” beberapa kosakata. “Kematian” kosakata itu bisa terjadi karena jarang dipakai atau tidak digunakan sama sekali, baik itu dalam lisan atau tulis. Tentu kita akan bersependapat hal itu merupakan salah satu bentuk (ancaman) kepunahan suatu bahasa.

Dalam masyarakat, terutama Melayu dulu, ketika membayar zakat kita kenal penyukat beras, seperti kata cupak, gantang, atau pikul. Dalam perkembangannya, alat penyukat sebagai alat ukur berat itu mulai terlupakan. Menurut KBBI edisi IV, cupak digunakan untuk satuan takaran beras, yaitu seperempat gantang, sedangkan satu gantang sama dengan 3,125 kilogram. Satu pikul sama dengan 62,5 kilogram.

Kini kata cupak, gantang, atau pikul telah tersingkir oleh satuan ukur berat seperti ons, gram, kilogram, atau karung. Lalu, untuk satuan ukuran panjang, kita kenal kata jengkal, depa, atau hasta. Juga tidak jauh beda nasibnya dengan kosakata sebelumnya. Dalam penelusuran KBBI, kata jengkal ialah ukuran sepanjang rentangan antara ujung ibu jari tangan dan ujung jari lain yang direntangkan.

Begitu juga dengan kata depa. Depa adalah satuan ukur yang ukurannya sepanjang kedua belah tangan mendepang dari ujung jari tengah kiri sampai ke ujung jari tengah kanan. Satu depa dapat dikatakan empat hasta atau enam kaki. Juga satuan ukur hasta, satu hasta yaitu satu ukuran sepanjang lengan bawah, sama dengan seperempat depa.

Kini satuan-satuan ukur, seperti mililiter (ml), liter (l), kiloliter (kl), galon (gal.), sentimeter (cm), meter (m), atau kilometer (km), merupakan satuan ukuran mutakhir dan konvensional, menggeser dan menggusur satuan ukur lama tersebut. Kendati satuan ukur cupak, gantang, pikul, jengkal, depa, dan hasta masih dipakai dalam transaksi tradisional pada masyarakat perdesaan, tetapi intensitas pemakaiannya sudah sangat jarang. Paling hanya dipakai oleh generasi tua, hal itu pun digunakan dalam ragam lisan.

Generasi sekarang barangkali tidak tahu sama sekali dengan kata-kata itu. Kosakata itu sepertinya dapat dikatakan hilang atau mati dalam dunia generasi sekarang. Apalagi untuk kosakata kati, tahil, nail, atau sukat. Jangankan untuk tahu bentuk dan rupanya, mendengar kosakata itu pun tidak pernah sama sekali.

Selain karena kata-kata arkais itu hanya terpampang dalam kamus-kamus, kita (sekarang ini) hanya dapat jumpai pada kitab-kitab usang. Istilah itu dalam KBBI, satu kati sama dengan bobot 6 ons sedangkan satu tahil sama dengan berat 37,8 gram. Lalu, satu nail sama dengan 16 gantang serta satu sukat sama dengan empat gantang.

Tidak dapat dimungkiri tidak sedikit kosakata itu mulai terlupakan atau malah kini mati. “Kematian” kosakata itu selain disebabkan telah kedaluwarsa dan tidak lagi dapat dijadikan konvensi satuan ukur masa kini, juga disebabkan perubahan zaman dan oleh lahirnya satuan ukur konvensional dan global. Tentu saja matinya kosakata bahasa kita tidak hanya dalam satuan ukur, juga (akan) terjadi dalam hal-hal yang lain. Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap dan bertindak? Apakah dengan diam, tentunya tidak!

About these ads

Written by Rubrik Bahasa

10 Agustus 2011 pada 08.59

Ditulis dalam Lampung Post, Yuliadi M.R.

Dikaitkatakan dengan

6 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Terima kasih informasinya. Mengingatkan ukuran-ukuran sederhana yang dulu pernah diajarkan oleh guru SD saya.

    iadiahrespatiw

    11 Agustus 2011 at 09.13

  2. MHS (menurut hemat saya), berbagai satuan ukur yang dibahas dalam artikel ini berkurang penggunaannya karena ada satuan lain yang lebih tepat takarannya dan lebih diterima secara luas. Bahasa berkembang mengikuti perkembangan kebudayaan manusia, termasuk interaksinya dengan kelompok masyarakat lain. Jadi, saya pikir sah-sah saja pengistilahan satuan ukur baru menggantikan yang lama.

    “Kematian” makna suatu kata tidak selalu negatif. Toh kita bisa mendaur ulang kata-kata arkais tersebut untuk merujuk berbagai ancangan (konsep) baru yang terus bermunculan seiring dengan perkembangan kebudayaan kita. Di sinilah kamus berperan untuk merekam kedinamisan makna kata dan melestarikannya bagi generasi berikut.

    Ivan Lanin

    11 Agustus 2011 at 09.17

  3. Bahasa Indonesia itu bahasa yang masih hidup. Artinya masih dipakai dalam oleh masyarakat pemakainya. Karena itu, bahasa Indonesia akan senantiasa mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat pemakainya.
    Menghilangnya kata-kata yang dicontohkan di atas merupakan hal yang wajar karena perkembangan satuan ukuran yang tidak lagi menggunakan cara tradisional. Dengan demikian, kata-kata itu semakin semakin ditinggalkan seiring kebudayaan itu juga ditinggalkan. Ini adalah seleksi alam; suatu peritiwa kebahasaan yang sangat wajar. Bukankah istilah-istilah penggantinya juga memperkaya kosa kata bahasa Indonesia?
    Kita juga tidak perlu meminta orang untuk kembali menggunakan istilah-istilah itu di masa budaya sekarang. Kalau ingin melestarikan kosa kata seperti beberapa kata di atas, bisa dalam bidang lain, misalnya dalam puisi atau karya sastra lain.

    :) Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    Mochammad

    11 Agustus 2011 at 09.29

  4. rumput-rumputi padi jarang,
    mandang[1] gayo[2] membawa buah
    turut-turuti sukat malang
    mandang dialut[3] oleh tuah

    [1] mandang = memandang, semoga
    [2] gayo=raya dalam arti besar
    [3] alut = senggol

    herman

    11 Agustus 2011 at 11.12

  5. Mantab Gan…….

    Wahyu Eko Prasetyo

    11 Agustus 2011 at 16.58

  6. Budaya masyarakat yang “membunuh” kosakatanya sendiri. Seleksi alam. Bukan cacat bagi suatu bahasa.

    Abu Usamah as-Sulaimani

    24 April 2013 at 14.26


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.546 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: