Problematika Penggunaan Merek Produk

Lampung Post, 28 Sep 2011. Chairil Anwar, S.Pd., Alumnus S-1 FKIP Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unila

Salah satu sifat sebuah bahasa adalah mengalami perkembangan. Hal ini terjadi karena keterbukaan pemakai bahasa terhadap faktor dari luar, misalnya terbuka terhadap bahasa asing yang pada akhirnya kerap diselipkan dalam pemakaian bahasa asalnya.

Terkait dengan itu, ternyata penyelipan unsur bahasa dalam bahasa kita tidak hanya berasal dari bahasa asing. Kenyataannya, dalam masyarakat bahasa juga ditemukan penggunaan kata-kata yang mulanya berasal dari sebuah merek produk yang kemudian merek produk tersebut lebih cenderung digunakan.

Akibatnya, hal tersebut mampu mengancam eksistensi padanan bahasa Indonesianya. Pernahkah kita mendengan ujaran berikut.

“Masukkkan bekal itu dalam Tupperware!”

“Kami tidak mandi karena Sanyo di kontrakan rusak.”

“Jim, belikan Aqua botol untuk bapak.”

“Para siswa menggunakan Pilox untuk mencoret-coret seragam mereka saat kelulusan.”

“Kita harus bawa Autan biar enggak digigit nyamuk.”

“Harga iPad sekarang mulai menurun.”

“Cuma beli Magic Com, Bu, enggak ada uang lagi.”

Tupperware, Sanyo, Aqua, Pilox, Autan, iPad, dan Magic Com merupakan merek-merek produk yang mulai mampu menggantikan padanan bahasa Indonesianya—masing-masing tempat/wadah makanan, pompa air, air mineral, cat semprot, calir antinyamuk, sabak elektronik/komputer tablet, dan penanak nasi elektronik.

Parahnya, nama-nama produk tersebut tetap digunakan walaupun tidak merujuk kepada nama produk yang dimaksud. Faktor utama penyebab kasus ini dilatarbelakangi oleh tenarnya nama produk tersebut di telinga para pemakai bahasa dalam rentang waktu yang relatif lama.

Faktor lainnya, penggunaan nama produk tersebut dinilai lebih efektif menyampaikan gagasan si penutur ketimbang menggunakan padanannya yang telah dibakukan dalam KBBI. Hal ini tentunya manjadi ancaman bagi bahasa kita.

Kita bisa saja mengucapkan ujaran sebelumnya menjadi seperti ini.

“Para siswa menggunakan cat semprot untuk mencoret-coret seragam mereka saat kelulusan.”

“Kita harus bawa calir antinyamuk biar enggak digigit nyamuk.”

“Cuma beli penanak nasi elektronik, Bu. Enggak ada uang lagi.”

“Harga komputer tablet sekarang mulai menurun.”

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat cenderung menggunakan merek-merek produk itu ketimbang padanan bahasa Indonesianya.

Selain contoh-contoh tersebut, merek-merek produk yang dinilai mulai menggantikan atau lebih tenar daripada padanan bahasa Indonesianya antara lain BlackBerry (ponsel cerdas/smartphone), Supermie (mi instan), Pampers (popok), Baygon (racun serangga/obat nyamuk), dan sebagainya.

Hal ini menjadi suatu fenomena yang dilematik, karena di sisi lain penggunaan nama produk tersebut mengancam kosakata padanannya dalam bahasa indonesia, tetapi di sisi lainnya pemakaian nama produk-produk itu dinilai lebih efektif dalam berkomunikasi.

Fenomena ini membuktikan bahwa bahasa berkembang bukan hanya ke arah yang positif, tetapi juga dapat mengarah negatif.

Sebelum semakin parah, kita sebagai pencinta bahasa Indonesia hendaknya mengubah kebiasaan buruk tersebut.

About these ads

7 thoughts on “Problematika Penggunaan Merek Produk

  1. Kalau membaca majalah tentang tulis-menulis di luar negeri, banyak “iklan” yang dipasang oleh produsen yang nama mereknya dipakai sebagai nama benda, yang isinya mengimbau para penulis agar tidak menggunakan merek mereka, karena dianggap berpotensi merusak reputasi merek tersebut (misalnya, orang mengeluhkan Aqua, padahal yang dikeluhkan air mineral merek lain).

    • Dalam semantik “tradisional” hingga sekarang semantik kognitif, fenomena tersebut sudah lazim. Silakan periksa Palmer, yang menggunakan istilah generik untuk “odol”, aqua”, “indomie”, “teh botol”, dan Austin. Fillmore, Chafe, Lakoff, Langacker, dan lain-lain yang mengusung istilah (lagi) metafora, metonimi, sinekdoke, dll.

      Gejala yang disebutkan dalam artikel di atas merupakan salah satu cara manusia dalam melakukan pengonsepan hal-hal, kejadian-kejadian, atau pengalaman-pengalaman. Perwujudannya dalam bahasa bisa menggunakan metafora, metonimi, dan gaya bahasa lainnya.

      Sehari-hari pun kita tak akan terlepas dari metafora dan metonimi. Bukankah kita mengatakan mengambil ATM, naik Honda ,naik motor, nonton RCTI, membaca “Kompas”, naik “Pakuan”, menelaah Sapardi, gawangnya masih perawan, bintang lapangan hijau, merumput, bertanding di kandang lawan, dan ribuan metafor serta metonim lainnya yang terdapat dalam kegiatan berbahasa alami kita, bukan sekadar bahasa kosmetik.

  2. Ping-balik: Memopulerkan Calir « Rohyatisofjan’s Blog

  3. bahasa terus mengalami perkembangan, mungkin para guru harus selalu mengingatkan muridnya tentang bahasa dan istilah baku yang benar menurut kaidah, berjuanglah guru :-D.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s