Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Runtuhnya Durian Montong

dengan satu komentar

KOMPAS, 7 Okt 2011. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Foto: Wikimedia Commons

Uang miliaran rupiah yang diduga untuk menyogok pejabat di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi itu dibungkus dalam kardus bekas kemasan durian montong, jenis durian besar asal Thailand. Disiarkan oleh berbagai media, kardus berisi duit yang tampak berat itu digotong petugas Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai barang bukti. Andai tak dicegat awak KPK, para pejabat itu, bak peribahasa lama, ”bagai mendapat durian runtuh”. Cocokkah peribahasa itu melukiskan duit yang diperoleh secara gelap?

Kita tahu bahwa peribahasa bagai mendapat durian runtuh menamsilkan seseorang yang kejatuhan rezeki nomplok. Alam pikiran yang menyelimuti peribahasa itu adalah bahwa seseorang yang kejatuhan rezeki itu sedang mengalami kesulitan materiel, atau tak pernah membayangkan akan beroleh keberuntungan secara mendadak. Orang menang undian bisa diperikan dengan peribahasa ini. Seseorang yang dipromosikan dalam suatu jabatan juga sering dikatakan mendapat durian runtuh. Di sini metafora durian mewakili jenjang status atau martabat seseorang yang naik pangkat. Jadi, dalam peribahasa tersebut, durian bisa materiel (terutama) ataupun nonmateriel. Yang penting halal.

Sogok-menyogok di luar contoh peribahasa tersebut karena proses ”runtuhnya durian” tidak wajar. Buah itu tak rontok sendiri ke bumi, layaknya buah matang pohon, tetapi diunduh paksa, slintutan pula. Selain itu, para pelaku penyogokan diasumsikan tak dalam kesulitan materiel, tetapi lebih didorong oleh nafsu mengeruk banyak duit secara kilat. Maka, perlu ditengok sindiran yang mengatakan bahwa orang yang ketiban duren pasti cepat sugih (kaya), tetapi ”sugih borok” akibat tertusuk duri-duri yang menyeringai di sekujur kulit buah itu. Jadi, ”runtuhnya durian” dalam sindiran itu bisa ditafsirkan terkuaknya borok moralitas manusia.

Dijuluki ”raja buah”, durian tampaknya memang buah istimewa sehingga jadi sumber perumpamaan yang mencerminkan kenikmatan, kekuatan, dan kekuasaan. Pemeo seperti durian menunjukkan pangsanya, misalnya, berarti tentang orang yang selalu ingin menunjukkan kelebihannya. Di sini ”kelebihan” bisa berupa kekuasaan, kekayaan, atau kepandaian. Sedangkan peribahasa bagai timun melawan durian memperlihatkan makna kuasa yang tak imbang: orang kecil melawan orang besar—yang, bisa ditebak, biasanya akan berakhir sia-sia.

Yang menarik adalah peribahasa masak durian masak manggis, artinya kaum lelaki biasanya tak dapat memegang rahasia, sedangkan perempuan bisa mendekapnya rapat-rapat. Boleh tidak setuju. Namun, misi rahasia memasok ”durian montong” dalam beberapa skandal penyogokan kepada pejabat akhir-akhir ini tampak dilakoni kaum perempuan meski akhirnya terkuak juga. Jangan lupa, buah durian itu sendiri adalah jenis makanan ”berdarah panas” karena kandungan nutrisinya yang padat. ”Jika anda memakannya pada malam hari,” tulis Lionel Bauer dalam durian.net, ”anda bisa tidur tanpa selimut.”

Ibarat buah simalakama, duren terlalu nikmat untuk dilewatkan, tetapi bisa jadi malapetaka bila tak arif memanfaatkannya. Begitu pula ”durian montong” kardusan itu.

Sumber foto: Wikimedia Commons

About these ads

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

7 Oktober 2011 pada 14.40

Ditulis dalam Kasijanto Sastrodinomo, KOMPAS

Dikaitkatakan dengan

Satu Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Agak njelimet bahasannya, tapi menarik. Satu hal yang saya bingung, mengapa penulis menggunakan kata “materiel” dan bukan “materiil”?
    Sudah saya cek di KBBI edisi III offline, juga di daring KBBI Pusat Bahasa (yang sudah pasti lebih terkini database-nya), namun tidak ditemukan bentuk baku dan makna kata ini.
    Sekali lagi, tanya kenapa?

    Abu Usamah as-Sulaimani

    20 Juni 2012 pada 17.00


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 359 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: