Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Beri-beri

dengan 2 komentar

KOMPAS, 21 Okt 2011. André Möller, Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia

Foto: Kazvorpal, Wikimedia Commons (by-sa)

Judul di atas tak mengacu kepada penyakit radang, juga tidak kepada kegiatan dermawan. Béri-béri di sini merujuk kepada benda kecil yang belum masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, belum dianugerahi lema sendiri. Beri adalah bagian akhir dari stroberi, sebuah kata yang sudah dapat entri tersendiri dalam KBBI. Nah, sebelum KBBI mencantumkan kata seperti bluberi dan blakberi, mari sejenak membahas jenis makanan lezat dan bergizi ini.

Dalam bahasa Inggris berry adalah kata yang menggambarkan buah empuk yang dihasilkan dari satu indung telur. Dalam bahasa Indonesia saya sarankan kita memakai kata beri, seperti dalam stroberi tadi. Secara botanis tomat adalah sebuah beri. Begitu pula anggur dan pisang. Kata stroberi sudah sangat mengindonesia, Bahkan, kata stroberi bisa kita anggap bagian dari bahasa Indonesia yang baik dan betul.

Bagaimana dengan beri-beri lain? Yang cukup populer di Indonesia, setidaknya dalam bentuk ponsel, adalah blakberi, blackberry. Beri ini sangat gelap warnanya, maka tak begitu mengherankan diberi nama ini. Lalu, mengapa dalam bahasa Indonesia mesti tetap disebut blackberry atau blakberi? Lebih baik, menurut pandangan sederhana saya, kita menyebutnya beri hitam. Sama halnya dengan sebuah beri lain, yang kini sering muncul dalam macam-macam resep makanan dan juga makanan siap saji (seperti es krim) di Indonesia. Beri ini adalah yang disebut blueberry atau bahasa Indonesianya: bluberi. Beri ini memiliki nama blueberry dalam bahasa Inggris karena buahnya memang sangat biru. Kalau begitu halnya, mengapa tak kita sebut beri biru saja?

Beri kecil lain yang terdapat baik dalam warna hitam, putih, maupun merah adalah yang dalam bahasa Inggris disebut currant. Daripada diindonesiakan sebagai kurant, mari kita tengok bahasa Swedia sejenak, yang kebetulan juga bahasa ibu saya. Dalam bahasa kecil ini buah ini disebut beri anggur. Nama ini pun cocok di Indonesia meski berinya sendiri mungkin belum pernah muncul di pasar Indonesia. Dengan arus globalisasi yang kian deras, beri kecil ini pasti akan tiba di Indonesia suatu saat dan alangkah baik kalau sudah bernama. Beri ini akan merasa lebih hangat penyambutannya jika dipanggil dengan nama yang tepat: beri anggur hitam, beri anggur merah, dan beri anggur putih.

Sebuah beri lain yang belum—atau setidaknya sangat jarang—masuk di wilayah Indonesia adalah yang dalam bahasa Inggris disebut lingonberry. Kebetulan kata lingon ini memang dari bahasa Swedia karena beri merah ini tumbuh sangat subur di sebagian Swedia. Barangkali kata ini berasal dan berhubungan dengan kata ljung yang adalah tumbuhan (Calluna vulgaris) dan sering didapat di dekat lingon ini. Selai lingon adalah bagian yang tak terpisahkan dari bakso goreng, yang merupakan sajian khas Swedia. Alangkah enak kalau pada suatu saat selai lingon ini bisa didapat di Indonesia.

Nah, inti tulisan ini: mari mencanangkan kata beri untuk menggambarkan buah-buah kecil yang belum dapat nama dalam bahasa Indonesia, dan mari menghindari bentuk seperti blakberi dan bluberi dan menguar-uarkan bentuk seperti beri hitam dan beri biru sebagai penggantinya.

Foto: Kazvorpal, Wikimedia Commons (by-sa)

About these ads

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

21 Oktober 2011 pada 07.03

Ditulis dalam André Möller, KOMPAS

Dikaitkatakan dengan

2 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Usulan yang menarik. Secara gramatikal penggunaan kata beri biru, beri hitam sudah tepat. Akan tetapi, perlu diantisipasi bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat kata beri yang tidak ada hubungannya dengan buah maupun nama penyakit. Kata “beri” yang bermakna menyampaikan sesuatu ini homograf dengan kata “beri” bermakna ‘buah yang empuk’. Hal ini dapat menimbulkan salah pelafalan. Dengan demikian, sosialisasi untuk kata beri ini perlu disambut hangat. Terima kasih telah memperkaya khazanah bahasa indonesia. Salam.

    mymayangsari sari

    25 Oktober 2011 pada 17.56

  2. Ini kesempatan kedua saya membaca tulisan Mr. Andre Moller, dan tetap membuat saya terpesona. Terima kasih atas penjabarannya, betul-betul menambah wawasan saya.

    Abu Usamah as-Sulaimani

    20 Juni 2012 pada 17.07


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 351 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: