Frasa Hitam-Putih dalam Kejahatan

Lampung Post, 25 Jan 2012. Yuliadi M.R., Pemerhati bahasa, bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Entah alasan apakah istilah kata hitam dan putih digunakan sebagian orang untuk mengungkapkan suatu (kejahatan) tertentu. Frasa yang mungkin akrab frasa kejahatan “kerah putih”, white collar crime, seperti kejahatan pencucian uang, kejahatan profesi, kejahatan komputer dan internet, kejahatan bantuan likuiditas bank, juga kejahatan penjualan pasal.

Pemberdayaan kata putih digunakan juga dalam kejahatan yang ilegal: “kupon putih”, seperti judi togel, buntut, atau nalo. Begitu pula penyebutan benda (bubuk) jahat yang merusak fungsi syaraf dan kesadaran: “bubuk putih”, dengan istilah lain disebut sabu-sabu atau putau. Tentu saja masih banyak frasa lain yang menggunakan kata putih.

Selain itu, pendayagunaan kata hitam dalam kejahatan seperti “daftar hitam”. Kata daftar hitam dapat diartikan daftar yang berisi nama-nama orang atau lembaga yang dicari dan diawasi untuk kepentingan penegakan hukum. Begitu pula dengan kata “kuda hitam”, istilah ini biasanya dipakai dalam dunia catur, dapat diartikan individu atau kelompok yang selalu diperhitungkan dan diperhatian karena sepak terjangnya.

Keberadaan kuda hitam akan ditempatkan di peringkat teratas dan skala tinggi bagi pesaing utama. Sampai ada ungkapan, “hati-hati dengan langkah si kuda hitam, karena penuh misteri dan sulit ditebak”. “Kambing hitam” dilekatkan untuk orang yang dijadikan tumpuan kesalahan padahal dia tidak salah.

Frasa “pengacara hitam” dialamatkan untuk orang yang membantu seorang pelaku kejahatan untuk lolos dari hukuman, sedangkan lingkungan mereka dinamai “dunia hitam”: lingkungan kehidupan yang bertentangan dengan norma hukum yang berlaku atau kehidupan tentang orang-orang yang melakukan kejahatan dan pelacuran.

Bahkan, keahlian yang dimiliki seseorang tentang kebatinan yang berhubungan dengan pekerjaan setan atau pekerjaan mencelakakan orang (seperti membuat orang gila, mencuri dengan bantuan makhluk halus) disebut “dunia hitam”. Lalu frasa “buku hitam” untuk menyebut nama-nama atau catatan tentang seorang kurang baik.

Kata putih dan hitam didayagunakan dalam kejahatan barangkali salah satu tujuannya eufimisme bahkan bisa jadi untuk basa-basi. Karena sikap itu lahirlah putusan yang hati-hati, tidak pasti, dan pilih kasih juga jual beli. Keputusan itu diklausakan oleh sebagian orang, putusan “bak membelah bambu” dan “tajam ke bawah, tumpul ke atas”.

About these ads

5 thoughts on “Frasa Hitam-Putih dalam Kejahatan

  1. “Kata putih dan hitam didayagunakan dalam kejahatan barangkali salah satu tujuannya eufimisme bahkan bisa jadi untuk basa-basi.”

    Artikel ini menjadi agak sukar dicerna karena ia memasukkan pembahasan tentang ‘frasa hitam’ — yang sebetulnya, sampai tataran tertentu, secara metaforis sudah masuk dalam bingkai makna ‘kejahatan’.

    Kalau saya perhatikan kesimpulan yang dibuat Yuliadi M.R. dalam artikelnya ini, maka seharusnya ia memfokuskan pembahasan pada ‘frasa putih’ saja. Karena kata ‘putih’ sukar berada di dalam bingkai makna ‘kejahatan’. Dan karena itulah ia menjadi gejala semantik yang patut diamati: mengapa ‘putih’ disertakan dalam bingkai makna ‘jahat’?

    Yuliadi menjawabnya: “barangkali salah satu tujuannya eufimisme bahkan bisa jadi basa-basi”.

    Saya punya satu lagi cara memahami artikel Yuliadi ini. Tapi nanti saja saya bagikan. Masih saya timbang-timbang.

    Begitu, Mas Ivan. :)

    • Baiklah. Terima kasih. Mungkin yang membuat saya kesulitan adalah gaya penyusunan kalimat sang penulis. Ambil contoh kalimat pertama alinea terakhir,

      “Kata putih dan hitam didayagunakan dalam kejahatan barangkali salah satu tujuannya eufimisme bahkan bisa jadi untuk basa-basi.”

      Kalimat ini mungkin akan jauh lebih mudah dipahami jika diubah sedikit menjadi:

      “Barangkali salah satu tujuan pendayagunaan kata putih dan hitam dalam kejahatan adalah untuk eufemisme, bahkan bisa jadi sekadar basa-basi.”

      Duh, gaya editorial saya memang terlalu tradisional.

      • Hahahaha… Kalau teknik rancang-sintaksis di artikel itu memang amburadul sih. :)

        Saya lebih mempermasalahkan dasar argumen Yuliadi. Artikel ini kalau disunting dengan baik (retorika dan dasar-dasar argumennya) bakal menjadi artikel yang menarik sebetulnya.

        Yang menggelitik saya itu, kok bisa Yuliadi mengakhiri artikelnya dengan kalimat ini: “Keputusan itu diklausakan oleh sebagian orang, putusan “bak membelah bambu” dan “tajam ke bawah, tumpul ke atas”?

        Saya curiga, apa dia sedang mencoba mengkaji citra makna dalam bingkai “kejahatan putih” dan “kejahatan hitam”, ya? Yang “putih” itu kejahatan elite, kejahatannya orang-orang berpangkat, berada, berpendidikan. Sedangkan yang ‘hitam’ itu kejahatan jelata. Kemudian Yuliadi membuat logika: “putih” itu “atas”, “hitam” itu “bawah”. Dan kemudian keputusan-keputusan hukum kita: cemen sama yang putih, garang sama yang hitam — cemen sama yang elite, garang sama yang jelata.

        Hedeeh… Kalau mau membuat analisis yang ujungnya seperti itu, data yang dimiliki Yuliadi sangat kurang.

        Apa saya tuangkan saja pikiran saya ini dalam bentuk tulisan baru, ya? Hahahaha…

  2. Konotasi warna hitam dan putih, sisi negatifnya yang dibahas di sini. Sesuatu yang netral dapat condong menjadi sesuatu yang tidak baik karena variasi gabungan kata dan persepsi masyarakat yang terikat dengan kebudayaannya. Bahasa, mengubah hakikat kata.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s