Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Rumah Sang Pendeta

with 3 comments

Majalah Tempo, 19 Mar 2012. Putu Setia, Nama baptis Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

Beberapa hari sebelum saya dibaptis sebagai pendeta pada 2010, ada ritual yang jelimet di rumah tinggal saya. Rumah saya dinaikkan “statusnya” menjadi griya. Ini sebutan tempat tinggal yang dianggap suci, karena penghuninya tak lagi tergoda urusan duniawi. Begitulah formalnya.

Saya sempat bergurau: “Di Jakarta saya pernah tiga tahun tinggal di griya.” Banyak orang tertawa dan ada yang menuduh saya “tak tahu aturan”. Tapi saya ngotot: “Ya, betul, saya tinggal di Griya Wartawan Cipinang Muara.” Orang menjadi maklum setelah saya jelaskan itu kompleks perumahan wartawan.

Griya atau kadang ditulis geriya memang untuk tempat tinggal para Brahmana, pendeta di kalangan umat Hindu. Banyak aturan yang dikenakan, baik untuk penghuninya maupun untuk tetamunya.

Dari mana istilah itu berasal? Orang langsung menyebut Sanskerta. Maklumlah, pendeta Hindu akrab dengan bahasa Sanskerta karena semua mantra pemujaan memakai bahasa itu. Sanskerta adalah bahasa Weda (Veda).

Dalam bahasa Sanskerta–kalau memang itu asal-usulnya–kata itu ditulis grhya dengan huruf “r” berisi titik di bawahnya. Bagi orang yang memahami Sanskerta, huruf “r” dengan titik di bawahnya dibaca “ri” sehingga grhya harus dibaca grihya. Namun orang Melayu yang tak mempelajari bahasa yang tak dipakai sebagai bahasa pergaulan itu lebih condong membaca dengan grahya, bahkan graha.

Ada Kamus Sanskerta-Indonesia karangan Dr Purwadi dan Eko Priyo Purnomo (keduanya pengajar di UGM Yogya) yang menyebutkan ada kata griya dalam bahasa Sanskerta yang berarti: rumah, wisma. Namun kamus ini dalam kata pengantarnya sudah merancukan bahasa Sanskerta dengan bahasa Kawi (Jawa Kuno), seolah-olah kedua bahasa itu sama.

Dalam Kamus Jawa Kuno-Indonesia susunan L. Mardiwarsito ditemukan kata grha (juga dengan huruf “r” memakai titik di bawahnya) dan diberi arti rumah. Grha (Jawa Kuno versi Mardiwarsito) ini lebih mirip dengan grhya (Sanskerta). Tapi grhya tidak berarti rumah, melainkan: suatu desa atau perkampungan dekat kota (antara lain di Kamus Sanskerta-Indonesia karya I Made Surada, lulusan S-2 Sanskerta Universitas Allahabad, India).

Yang hendak saya katakan adalah kata-kata yang muncul belakangan, apakah itu ada di bahasa daerah (lokal) atau bahasa nasional, banyak menyerap kata yang ada dalam bahasa sebelumnya. Bisa jadi griya yang dipakai dalam bahasa Indonesia saat ini adalah serapan dari grha (Jawa Kuno) dan grhya (Sanskerta).

Boleh jadi pula, kata graha yang banyak digunakan saat ini untuk arti yang sama, yakni rumah atau wisma, adalah serapan yang “salah paham soal bunyi”.

Dalam hal umat Hindu tetap memakai griya untuk rumah pendeta (padahal jika mengacu pada Sanskerta artinya tak pas) barangkali mewarisi kesalahpahaman ketika kata itu diserap ke Jawa Kuno. Harap dipahami, bahasa Kawi pun menjadi bahasa ritual umat Hindu–selain bahasa untuk seni sakral.

Tapi bisa pula pemakaian kata griya itu dengan kesadaran memasukkan kiasan–sebagaimana kekhasan orang Bali yang tecermin dalam bahasa daerahnya–karena para Brahmana di masa lalu memang harus dekat dengan kota karena mereka menjadi Bhagawanta (penasihat) kerajaan.

Kalau begitu halnya, saya berpikir sederhana, biarkan saja kata serapan itu dipakai apa adanya sesuai dengan kenyataan saat ini. Jadi, biarkan griya tetap dipakai sesuai dengan bunyi versi Sanskerta, sementara graha juga tetap dipakai dengan arti yang sama: rumah atau wisma.

Masalahnya adalah kata graha nyata-nyata ada dalam bahasa Jawa Kuno yang berarti buaya, sehingga Bina Graha adalah tempat untuk membina para buaya.

Namun berapa banyak pemakai bahasa Jawa Kuno saat ini? Kata graha sudah dianggap “bukan buaya”. Selain ada Bina Graha, ada Graha Pena (gedung Jawa Pos), Lila Graha (wisma pemda Bali di Bedugul), dan banyak lagi. Begitu pula kata griya sudah mulai “tak suci lagi”, istilah ini dipakai oleh banyak pengembang. Bahkan di Bali sendiri ada hotel dan perumahan memakai nama griya, padahal di sana tak ada pendeta yang tinggal.

Menyederhanakan serapan kata Sanskerta yang rumit itu sebenarnya sudah dilakukan sejak dulu tanpa ada masalah. Para pengamat mencatat, sudah sekitar 800 kata Sanskerta diserap ke bahasa Melayu dengan pengucapan versi Melayu.

Kita kadang lupa kalau payudara itu berasal dari kata payodhara (Sanskerta). Mungkin kita agak rikuh memakai kata yang lahir dari kiasan: buah dada.

About these ads

Written by Rubrik Bahasa

19 Maret 2012 at 10.04

Ditulis dalam Majalah Tempo, Putu Setia

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Terima kasih untuk payudaranya. Belum masuk di buku Russel Jones.

    Mengenani griya/graha: asalnya गृ ga diberi ri jadi gri, lalu ditambah ha ह. Seharusnya jadi griha :-)

    Kamus Sanskerta Monier menulisnya gRha. Artinya macam-macam, termasuk juga rumah, kuburan, dunia bawah, pembantu. Pengertian “rumah pendeta” di Bali yang mungkin penyempitan. Barangkali lho ya, Pinandita. (kalau biku Buddha dipanggil Bante, pendeta Hindu dipanggil apa?)

    herman

    21 Maret 2012 at 10.52

  2. kalw soal itu jg bnyk trjd dlm bhs arab yg dipake dlm bhs indo. ironisnya, org2 muslim sndri bnyk yg gak sadar. Yaitu kata “silaturrahmi”, yg sharusnya “silaturrahiim”. Artinya jauh berbda. Law yg “silaturrahmi” tu berarti menyntuh kmaluan permpuan, sdangkn “silaturrahiim” brarti menymbung persaudaraan.
    Y bgtulah nasib bhsa serapan, bda lidah beda hsil pengucpan

    irham

    9 Mei 2012 at 07.15

    • Beda kata, beda makna; dan ini fatal, bisa menjerumuskan umat. Intinya, kita mesti hati-hati dalam menggunakan bahasa serapan.

      Abu Usamah as-Sulaimani

      5 September 2012 at 15.04


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.563 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: