Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Andai Anda Melayu Riau

dengan 11 komentar

KOMPAS, 30 Mar 2012. Taufik Ikram Jamil, Sastrawan Berbahasa Ibu Melayu Riau

Bagaimana perasaan Anda jika sesuatu yang Anda miliki tiba-tiba asing, padahal dari segi fisik, benda tersebut tak berubah sama sekali, bahkan Anda masih menyandang sebutan sebagai pemiliknya? Orang Melayu Riau memiliki pengalaman mengenai hal ini dari berbagai segi. Tak saja berkaitan dengan ekonomi dan politik, juga bahasa.

Ringkas cerita, bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Kenyataan ini tentu saja menyebabkan tak sedikit orang Melayu Riau di bawah ambang sadarnya beranggapan bahwa bahasa Indonesia juga bahasa Melayu Riau. Tepat sekali yang dikatakan Sapardi Djoko Damono, salah seorang bintang sastra Indonesia, dalam bukunya bahwa besar kemungkinan hanya orang Melayu Riau dan Jakarta saja yang telah menjadikan bahasa Indonesia bahasa ibu sejak kecil.

Cuma tentu saja, banyak hal yang membedakan antara Melayu Riau dan Jakarta ketika berhadapan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Pasalnya, dalam diri Melayu Riau, ketika menggunakan bahasa Indonesia, ada perasaan kepemilikan asal. Tak demikian halnya bagi orang Jakarta yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dengan latar belakang keragaman.

Sekarang bayangkan saja diri Anda sebagai orang Melayu Riau yang sedang membaca koran atau majalah. Bagaimana perasaan Anda ketika bertemu dengan kata seronok dalam lembaran yang sedang Anda baca. Dalam bahasa Melayu Riau, seronok berarti sesuatu yang menyenangkan, sementara dalam media yang Anda baca mengarah pengertian pada pornografi.

Mungkin juga Anda menemukan frasa sumpah serapah yang dalam bahasa Indonesia cenderung bermakna sebagai suatu keadaan tindakan berkaitan dengan marah. Namun, dalam bahasa Melayu Riau, kumpulan dua kata itu berhubungan dengan jampi-jampi. Kalau berhubungan dengan marah, sebutannya adalah sumpah seranah. Jadi, keduanya dibedakan oleh satu fonem: antara -p- dan -n-, serapah–-seranah.

Alkisah, banyak lagi contoh yang dapat disebutkan. Namun, contoh-contoh tersebut sudah memadailah menunjukkan arah perkembangan bahasa Indonesia yang tak merujuk pada asal bahasa Indonesia itu sendiri. Hal semacam ini juga terjadi pada memasukkan serapan baru dalam bahasa Indonesia yang mengesampingkan bahasa asalnya, termasuk bahasa daerah lain—tentu saja perlu tulisan tersendiri untuk memperkatakannya.

Sebagai orang Melayu Riau, apa yang Anda lakukan berhadapan dengan kenyataan ini, apalagi kalau Anda seorang penulis? Pasalnya, di Riau sendiri, akhirnya kebanyakan orang mengikuti arus penggunaan kata-kata yang maknanya tak sesuai dengan kata asalnya dan menjadi bahasa ibu Anda dengan tujuan agar dapat dipahami. Di sisi lain, Anda menolak keadaan tersebut dengan alasan-alasan kebahasaan itu sendiri baik ditinjau dari psikologi maupun sosial, disadari atau tidak.

Akhirnya, pikiran dan perasaan Anda berputar-putar sendiri dengan masalah itu yang niscaya mengganggu kreativitas. Jadi, Anda bingung, kan?

About these ads

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

30 Maret 2012 pada 08.47

Ditulis dalam KOMPAS

Dikaitkatakan dengan

11 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. jangankan org riau..org johor juga akan musykil melihat penggunaan seronok di indonesia masa kini. kami akan tertanya2 apakah punca perbezaan ini di indonesia sedangkan ia diambil dari BM (johor)-riau. kalau di malaysia kami gunakan sumpah seranah untuk caci maki dan jampi-serapah untuk guna-guna bomoh@dukun.

    mehmet adem barissever

    1 April 2012 pada 01.19

  2. Itulah yg disebut dg bahasa itu. Sifatnya yg dinamis akan terus berkembang mengikuti perkembangan peradaban bangsa dan penutur bahasanya. Ini kenyataan yg memang tak bisa dimungkiri. Yg penting kita bisa saling mengerti dlm komunikasi dan tetap berpatokan pd kaidah bahasa yg berlaku. Namun sayangnya, makna baru kata seronok yg merujuk pd pornografi tidak tertera dlm KBBI, yg ada justru makna asli seperti dlm pengertian org Melayu Riau asli.

    Simon Bahir

    2 April 2012 pada 06.35

  3. Bahasa indonesia memang bahasa melayu absolute, cuman dipanggilnya sbg bahasa indonesia oleh para pemuda dikarenakan utk menghndari imperialisme bahasa. Selain itu pula banyak para pemikir bahasa indonesia yg berasal dari tanah melayu, seperti riau, minangkabau, dan daerah sumatera yg lain.

    Haedir

    15 April 2012 pada 16.27

  4. se·no·noh a, tidak — , kurang — tidak patut atau tidak sopan (tt perkataan, perbuatan, dsb); tidak menentu atau
    tidak manis dipandang (pakaian dsb): kelakuan yg tidak –; pakaian tidak –; ke·ti·dak·se·no·noh·an n
    keadaan tidak senonoh

    se·ro·nok a menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dsb): dl dunia keronggengan ini suara pesinden itu sama- sama — dan menarik hati; me·nye·ro·nok·kan v menimbulkan rasa seronok; ke·se·ro·nok·an n perihal (yg
    bersifat) seronok

    Eva

    26 April 2012 pada 12.07

  5. ada beberapa yang perlu dibaiki..serapah dan seranah di melayu riau tetap ada penggunaanya….kata seronok dan segala macam rasanya tk perlu di ributkan karena pemahaman sedikit saja…

  6. Saya penasaran dengan kalimat penulis artikel ini, yang berada di baris ketiga dari bawah: “Hal semacam ini juga terjadi pada memasukkan serapan baru dalam bahasa Indonesia yang mengesampingkan bahasa asalnya, termasuk bahasa daerah lain—tentu saja perlu tulisan tersendiri untuk memperkatakannya.”

    Apakah penggunaan verba “memperkatakan” di situ tepat? Mengapa tidak digunakan saja “membahas”, “memaparkan”, atau “menjelaskan” yang lebih umum digunakan sebagai penerang penjabaran ragam tulis. Berikut kutipan makna verba tersebut menurut KBBI edisi III:
    - mem·per·ka·ta·kan v menguraikan sesuatu dng perkataan; membicarakan; merundingkan: semua orang akan ~ cela orang itu yg tidak terhapuskan

    Mungkinkah penulis terpengaruh dengan pemahaman orang-orang Melayu-Riau dalam hal ini?

    Abu Usamah as-Sulaimani

    18 Juni 2012 pada 08.59

  7. SAYA ORANG AWAM YG TIDAK AHLI DALAM MASALAH BAHASA TAPI SAYA BETUL2 TERTARIK DG TULISAN INI BESERTA KOMEN2 YG ADA. BETUL2 MENAMBAH WAWASAN SAYA…

    Abu Hany

    10 Agustus 2012 pada 14.39

  8. [...] Indonesia merupakan bahasa yang kaya, berakar dari Bahasa Melayu-Riau yang disempurnakan menjadi bahasa yang lebih halus. Berasal dari sebuah bahasa Austronesia dari [...]

  9. Sejauh dapat dikembalikan kepada makna yang “asli”, saya pribadi akan lebih suka mengikuti makna yang “asli” itu dalam berbahasa. Merupakan tugas penyusun kamus untuk menjelaskan pengertian setiap kata sesuai dengan maknanya yang “asli”. Namun perlu diingat, mempersoalkan keaslian makna itu dapat pula menjebak pengguna bahasa ke dalam kesulitan. Bahasa Melayu Riau pun, saya kira, tak sedikit menyerap aneka istilah dari bahasa Arab, atau bahasa-bahasa asing lain, yang dalam penggunaannya bisa pula bergeser dari pengertian maupun cara pengucapannya yang asli. Ini wajar terjadi, sebab, seperti dikatakan dalam salah satu komentar di atas, bahasa itu dinamis.

    Itu pula sebabnya ada yang disebut etimologi, kajian mengenai asal-usul kata dan perubahan maknanya. Kamus yang bagus memang seharusnya dilengkapi penjelasan etimologis ini. Kita lihat contohnya dalam salah satu kamus bahasa Inggris, pada lema “police”.

    Origin: French, from Old French, from Late Latin “politia” government, administration, from Greek “politeia”, from “polites” citizen, from “polis” city, state; akin to Sanskrit “pur” rampart, Lithuanian “pilis” castle.
    First use: 1716.

    Jadi bisa kita lihat kata “police” (polisi) saja bisa bergeser dari pengertiannya yang awal dalam bahasa Latin atau Yunani.

    sigit djatmiko

    2 November 2012 pada 19.07

  10. saya adalah orang Riau, sepengetahuan saya ada beberapa kosa kata dalam bahasa melayu Riau yang memiliki persamaan bunyi tapi beda arti. Hal ini membuat kanak-kanak di Riau agak kesulitan dan bingung sendiri apabila mereka belajar bahasa Indonesia.

    Abi burrahman

    23 Desember 2012 pada 11.16

  11. saya orang riau tepatnya pekanbaru tapi sekarang udah jarang yang memakai bahasa melayu , orang disini lebih banyak berbahasa minang mulai dari anak anak sama orang dewasa mungkin hanya ditempat tertentu saja orang menggunakana bahasa melayu seperti kantor gubernur

    jamal

    16 Maret 2013 pada 15.24


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 359 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: