Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Etika dan Etiket

dengan 5 komentar

KOMPAS, 13 Apr 2012. K. Bertens, Guru Besar Emeritus Unika Atma Jaya, Jakarta

Sumber gambar: VirginiaTech

Beberapa waktu lalu dalam rubrik ”Klasika” Kompas edisi 5 Maret 2012 dimuat artikel singkat, ”Etika Berbicara di Telepon”. Di situ dijelaskan bagaimana operator telekomunikasi di perusahaan harus menjalankan tugasnya. Misalnya, ia tidak boleh bicara dengan nada tinggi. Nada bicara harus selalu dijaga dan tetap tenang. Sebagai pembuka percakapan, ia harus mengucapkan salam dan menyebutkan namanya kepada lawan bicara. Sebelum menutup pembicaraan, ia tidak boleh lupa mengucapkan terima kasih kepada lawan bicara, dan seterusnya.

Tidak disangkal, semua petunjuk itu berguna dan malah penting karena penampilan seorang operator telepon untuk sebagian menentukan ”wajah” perusahaan bagi dunia luar. Namun, tidak benar bahwa hal-hal itu menyangkut etika. Petunjuk-petunjuk tadi bicara tentang etiket saja, bukan tentang etika. Mestinya penulis memakai judul ”Etiket Berbicara di Telepon”.

Seperti sering terjadi, di sini pun etika dicampuradukkan dengan etiket. Padahal, dua pengertian itu sangat berbeda: etika mengacu ke ranah moral, sedangkan etiket mengacu ke ranah sopan santun. Memang benar, ada alasan juga mengapa etika dan etiket sering disamakan. Pertama, bentuk kedua kata itu dalam bahasa Indonesia sangat mirip, seolah-olah yang satu hanya sekadar variasi dari yang lain. Kedua, dan lebih penting lagi, baik etika maupun etiket mengandung norma bagi tingkah laku kita.

Menurut etiket, kita sebagai pegawai perusahaan tidak boleh berbicara dengan pelanggan di telepon dengan nada tinggi atau dengan cara tidak sabar. Menurut etika, kita tidak boleh berdusta melalui telepon (ataupun dengan cara lain). Dalam dua contoh ini etiket dan etika memberi norma tentang perilaku yang sama, tetapi dari sudut pandang yang sangat berbeda.

Etiket menyoroti baik-buruknya perilaku dalam arti sopan santun. Etika menyoroti baik-buruknya perilaku dalam arti moral.

Di sini tentu tidak dimaksudkan bahwa segi sopan santun tidak penting dalam pergaulan di masyarakat. Hanya mau dikatakan bahwa segi moral jauh lebih penting lagi. Mengapa demikian? Karena etiket hanya memandang manusia dari luar, sedangkan etika menilai manusia dari dalam dengan melihat ke dalam hatinya. Misalnya, kita menyaksikan bagaimana seorang koruptor melalui pembicaraan di Blackberry-nya dengan pejabat pemerintah merencanakan suatu usaha korupsi besar-besaran. Perilakunya sangat sopan. Berulang kali kita dengar, ”Ya, Pak”, ”Tidak, Pak”, ”Terima kasih, Pak” dengan nada halus dan hormat. Namun, bagaimana dari sudut etika? Walaupun kita tidak mengerti isi pembicaraan karena orang itu terus pakai kode, pada kenyataannya perilakunya sangat tidak etis.

Barangkali sekarang sudah jelas mengapa etika dan etiket tidak boleh dicampuradukkan. Kalau kita lakukan begitu, kita bisa membuat kesalahan fatal dalam menilai tingkah laku orang. Banyak penipu berhasil dalam melakukan kejahatan justru karena berlaku sangat halus dan sopan. Sambil sepenuhnya memenuhi norma etiket, orang tetap bisa munafik. Etiket bisa menjadi kedok untuk menyembunyikan perbuatan yang tidak etis sekalipun. Dalam konteks etika, hal itu tidak mungkin.

About these ads

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

13 April 2012 pada 12.25

Ditulis dalam K. Bertens, KOMPAS

Dikaitkatakan dengan

5 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. wah! saya tercengang membacanya.

    Afandi Sido (@FandySido)

    25 Mei 2012 pada 17.17

  2. Mari, bersama-sama kita lihat definisi dua kata ini menurut KBBI edisi III:
    - eti·ka /étika/ n ilmu tt apa yg baik dan apa yg buruk dan tt hak dan kewajiban moral (akhlak)
    - eti·ket [2] /étikét/ n tata cara (adat sopan santun, dsb) dl masyarakat beradab dl memelihara hubungan baik antara sesama manusianya

    Satu lagi, ada satu kalimat yang janggal pada paragraf kedua: “Tidak disangkal, semua petunjuk itu berguna dan malah penting karena penampilan seorang operator telepon untuk sebagian menentukan ‘wajah’ perusahaan bagi dunia luar.” Yang perlu digarisbawahi ialah frasa “untuk sebagian” anak kalimat “karena penampilan seorang operator telepon untuk sebagian menentukan ‘wajah’ perusahaan bagi dunia luar.”
    Mungkin, maksudnya adalah “merupakan sebagian aspek/faktor” atau cukup digunakan “sedikit-banyak akan”. Hanya si penulis yang mengetahui hakikatnya.

    Abu Usamah as-Sulaimani

    14 Juni 2012 pada 08.59

  3. waaaaaaaaaah
    keren.. ayo kita perbaiki sama2 etika maupun etiket kita…

    cumakatakata

    31 Juli 2012 pada 14.36

  4. Memang demikian. Jika dirunut ke bahasa Inggris pun jelas bedanya antara “ethics” dan “etiquette”.

    sigit djatmiko

    2 November 2012 pada 18.05


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 350 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: