Arsip untuk kategori ‘LPDS’
KBBI IV yang Membuat Penasaran
LPDS, 20 Mei 2010. T.D. Asmadi: Pengajar LPDS.
Seandainya saya menulis kalimat, “Setelah memirik badan saya, Bujang pergi ke dapur dan kemudian memirik lombok,” apakah pembaca mengerti maksudnya?
Saya berpendapat, sebagian besar tidak memahami kalimat tersebut. Kata memirik itulah yang menjadi sebab. Meski lema pirik, lalu menjadi memirik, sudah ada pada edisi I KBBI, kata itu asing bagi siapa pun. Saya yang setiap hari membaca berbagai surat kabar, kadang-kadang mendengarkan radio, dan berkali-kali menonton berbagai stasiun televisi belum pernah membaca, mendengar, dan menyaksikan kata itu.
Arti Tanggal 2 Mei bagi Bahasa Indonesia
LPDS, 8 Feb 2010. T.D. Asmadi, Ketua Forum Bahasa Media Massa (FBMM).
Tanggal 2 Mei ternyata mempunyai arti penting bagi Bahasa Indonesia. Harimurti Kridalaksana, mantan Rektor Universitas Atma Jaya dan juga mantan Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, menyebut tanggal tersebut sebagai saat M. Tabarani mengusulkan penggunaan istilah ‘Bahasa Indonesia’ kepada Kongres Pemuda Pertama tahun 1926. Apa sebenarnya yang terjadi pada tanggal tersebut?
Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia
LPDS 30 Des 2009. Anton M. Moeliono*.
1. Diglosia
Jika dalam masyarakat Melayu tingkat keberaksaraan yang rendah berlangsung terlalu lama sehingga budaya baca-tulis sangat terbatas, muncul gejala diglosia yang dicirikan oleh adanya ragam bahasa adab yang resmi yang seakan dilapiskan di atas ragam dasar yang dipakai rakyat biasa yang tidak atau kurang terpelajar. Pada tahun 1930, dua tahun setelah peristiwa ikrar Sumpah Pemuda, tingkat keberaksaraan masyarakat Indonesia hanya 31 persen. Pada tahun 2005 jumlah niraksarawan masih 10 juta. Bahkan ada catatan sebuah survei, dewasa ini angkatan tenaga kerja Indonesia (di atas 15 tahun) 60 persen—70 persen hanya berijazah sekolah dasar.
Permasalahan Berbahasa
LPDS 30 Jun 2009. Bagian I, II, dan III. Yayah B. Mugnisjah Lumintaintang, pengajar di LPDS.
I.
a. Pendahuluan
Topik pembicaraan tertera di atas merupakan salah satu mata pembahasan pada ”Lokakarya Jurnalistik untuk Redaktur”; alhamdulillah, saya mendapat kehormatan dari Ketua Dewan Pers dan Ketua Lembaga Pers Dr. Soetomo untuk menjadi pembicaranya. Untuk itu, saya menyampaikan terima kasih yang tulus.
Bahasa Negara, Bahasa Nasional
LPDS 2 Apr 2009, TD Asmadi, pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo..
Bahasa Negara
Setelah 28 Oktober 1928 tanggal penting lainnya bagi Bahasa Indonesia adalah 18 Agustus 1945. Pada tanggal tersebut Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai Bahasa Negara. Ketetapan ini tercantum dalam Pasal 36 UUD 1945 yang berbunyi: Bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia.
Menuju Naskah Bebas Cacat
LPDS 25 Mar 2009. Warief Djajanto Basorie.
Menyunting naskah merupakan salah satu tugas seorang redaktur. Setiap redaktur serius mau naskah hasil suntingannya itu layak muat. Tetapi karya jurnalistik sering tak luput dari cacat. Makalah kecil ini meninjau apa saja cacat umum berita, sejumlah contoh cacat dalam naskah jurnalistik, dan panduan bagaimana wartawan, khususnya redaktur, dapat menyajikan naskah bebas cacat.
Panduan bagi Redaktur
LPDS, 2 Mar 2009. T.D. Asmadi, pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo.
Redaktur – bahasa Belanda/Prancis – redacteur: Orang yang menangani bidang redaksi (KBBI). Editor – bahasa Latin edere (e = keluar + dare = memberi). Edere berarti menjulang, menyembul, memberitahukan, atau menerbitkan. Penyunting – ‘sunting’ = hiasan rambut, seperti bunga, kembang goyang (bunga tiruan, umumnya dari logam, yang bergoyang-goyang), tusuk konde, dan lain-lain. Suntingan membuat rambut menjadi mahkota bagi wanita. Penyunting bertugas memperindah naskah.
Bedakan dengan istilah editor pada bahasa Inggris. Media Barat memiliki copy-editor, selain editor/redaktur. Di Inggris/AS yang menjadi editor biasanya tidak memeriksa dan menurunkan naskah. Yang melakukan tugas pemeriksaan/ penurunan adalah copy editor. Jabatan copy editor ini merupakan jenjang tersendiri dan paling mempunyai peluang untuk menduduki posisi tertinggi di struktur organisasi rekdaksi.

