Ayam Arab, Ayam Kampung, Ayam Buras

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 25 Agu 2014

Nun di Belgia, Eropa Barat, terdapatlah ayam petelur yang disebut ayam silver brakel kiel-setidaknya itulah yang disebutkan oleh Komunitas Peternak Ayam Berkualitas di Indonesia. Disebutkan, pada 1989, ayam bercorak burik hitam putih itu didatangkan beberapa ekor ke Temanggung, Jawa Tengah, demi kepentingan para kolektor ayam. Namun adalah para peternak yang membuatnya berkembang dan tersebar.

Produksinya kini tercatat 60-70 persen lebih tinggi daripada ayam kampung, yang hanya 30-40 persen. Sebagai pabrik telur, ayam dari Belgia ini, dari usia lima bulan sampai delapan tahun, setiap tahun bisa menghasilkan 260-270 telur. Lebih tinggi dari ayam ras petelur, yang setiap ekor hanya bertelur 230-240 butir per tahun.

Baca lebih lanjut

Merdeka, tapi Bebas Jugakah kita?

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 18 Agu 2014

Sejak 1945, setiap tanggal 17 Agustus kita merdeka. Itu sebabnya tanggal itu disebut Hari Kemerdekaan, yang kita rayakan dan keramatkan. Merdeka berarti memiliki hak untuk bertindak, berbicara, atau berpikir sesuai dengan kehendak masing-masing. Kemerdekaan juga berarti kekuasaan untuk menentukan nasib sendiri, tidak tergantung, dan bebas bergerak.

Kemerdekaan yang kita miliki merupakan hasil revolusi. Itu sebabnya sering kita dengar orang mengatakan satu-satunya jalan ke kemerdekaan adalah lewat revolusi meskipun hal ini tidak berlaku bagi semua negara. Banyak negara yang setiap tahun merayakan juga kemerdekaan tanpa pernah mengalami revolusi. Salah satu padanan kata “merdeka” adalah “bebas”, tapi kita rasanya tidak pernah menyebut tanggal 17 Agustus sebagai Hari Kebebasan. Paling tidak, istilah yang disebut terakhir itu kurang atau bahkan tidak lazim digunakan. Apakah hal itu karena kemerdekaan tidak identik atau tidak dengan sendirinya memberi kita kebebasan?

Baca lebih lanjut

Terjemahan

Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, 11 Agu 2014

Lost in TranslationSaya tak mengerti mengapa film Lost in Translation disebut demikian. Karya Sofia Coppola ini bercerita tentang dua orang Amerika yang semula tak saling kenal di sebuah negeri asing, Jepang, dan akhirnya jadi akrab dan mesra, tapi tetap berpisah.

Mungkin di sini translation telah jadi sebuah kiasan. Terjemahan selalu mengandung momen pertemuan yang intens, bukan sekadar perjumpaan, dan dalam tiap pertemuan ada yang hilang, dilepas, tapi ada hal lain yang didapat. Kalaupun beberapa elemen tak kembali ketika sebuah karya dialihbahasakan ke dalam bahasa lain, selalu ada yang muncul baru.

Baca lebih lanjut

Bahasa dan Idul Fitri

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 4 Agu 2014

Sejarah diri dan Indonesia turut terbentuk dari kalimat-kalimat di koran, majalah, dan kartu pos. Momentum Idul Fitri adalah perayaan bahasa. Jejak historis di Hindia Belanda mengabarkan gairah bahasa bagi publik, memberi kalimat-kalimat mengandung makna selamat dan permohonan maaf. Idul Fitri menjadi mozaik bahasa, mengajak kita melakukan produksi makna.

Ucapan Idul Fitri tampil dalam penerbitan edisi akhir koran Asia-Raya, 7 September 1945. Kalimat “minal aidin wal faidzin” tertera jelas di halaman muka, tersaji dengan ukuran besar. Pihak redaksi juga mengumumkan pelaksanaan salat Idul Fitri di Lapangan Ikada, 8 September 1945.

Baca lebih lanjut

Demagogi Lagi

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 28 Jul 2014)

TIGA kali membaca kolom bahasa Rocky Gerung, “Demagogi” (Tempo, 7-13 Juli 2014), Wawa, pelajar sekolah menengah, tetap bertanya-tanya apa gerangan arti kata pada judul kolom itu. Ia merasa tak menemukan definisi demagogi yang lugas dalam tulisan tersebut. Pada teks, ia membaca demagogi (adalah) “busa kalimat”, atau “demagogi adalah ilmu menyiram angin demi menuai bau”, dan seterusnya. Baginya, ungkapan itu terasa canggih tapi sulit dipahami. Jujur ia mengaku “belum cukup umur” untuk mengerti pikiran abstrak.

Namun ia juga punya “kriteria” bahwa suatu kolom bahasa seyogianya bisa memberi penjelasan semantis yang terang.

Pertanyaan tersebut mungkin bukan sekadar soal teknis kebahasaan. Ada pantulan kesenjangan: generasi sekarang tak mengalami riuh-rendah politik masa lalu yang, mengutip sejarawan Ricklefs, penuh “janji kosong”. Isu demagogi merebak sepanjang masa Demokrasi Terpimpin yang direngkuh Presiden Sukarno kala itu. Sukarno sendiri sadar dirinya sering dijuluki demagog oleh pihak tertentu. “Ada juga yang mengatakan bahwa saya ini seorang ‘demagog’, dan ada pula yang menyebutkan saya seorang ‘fraseolog’ yang pandai memakai perkataan muluk-muluk,” katanya dalam pidato peringatan Proklamasi Kemerdekaan pada 1961.

Baca lebih lanjut

Kiasan Binatang

Ahmad Sahidah* (Majalah Tempo, 21 Jul 2014)

Kata majemuk membabi-buta diungkapkan sebagai perilaku kalap. Lalu, kalau binatang ini tak buta, apakah ia tak akan mengamuk dengan sengit? Mungkin kita tak perlu mengusik asal-usul kata sejauh itu. Hanya, kita mafhum bahwa binatang acap digunakan sebagai bahasa kiasan untuk menggambarkan perilaku manusia, buruk atau baik. Menariknya, meskipun kata tersebut juga dijumpai dalam Kamus Dewan Malaysia, warga jiran lebih memilih kata membuta-tuli, yang sama sekali tak menyebut binatang tertentu, meskipun maknanya sama dengan membabi-buta.

Menariknya, terkait dengan membabi-buta dan membuta-tuli, mengapa warga Malaysia jarang menggunakan kata yang pertama dalam percakapan sehari-hari? Ini bisa dikaitkan dengan keengganan orang Melayu menyebut babi, yang tidak halal untuk dimakan sehingga tak enak diungkapkan. Namun sebagian orang melihat perilaku ini sebagai penghormatan orang Melayu kepada dua etnis besar lain, Tionghoa dan India, yang mengkonsumsi hewan tersebut.

Jadi, meskipun berbahasa itu bersifat suka-suka, dalam praktek komunikasi, penutur menjaga perasaan mitra agar percakapan mendatangkan keakraban, bukan ketidaknyamanan.

Baca lebih lanjut

Merenungkan Makna (PDIP)

Berthold Damshauser* (Majalah Tempo, 14 Jul 2014)

Lapor! Sudah saatnya saya kembali melaporkan diskusi yang terjadi pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman.

“Pak,” tanya seorang mahasiswa, “kami sempat membaca tulisan Bapak di kolom Bahasa majalah Tempo edisi 24-30 Juni 2013, yang berjudul ‘Evolusi Bahasa dan Manusia Indonesia’. Lepas dari kenyataan bahwa tulisan sok filosofis itu tidak lebih dari sebuah laporan biasa, kami kurang memahaminya, dimulai dari judulnya.”

“Lho,” pikir saya, “bukannya bangga tulisan guru mereka dimuat di majalah terpandang, mahasiswa saya malah mengkritik.” Tapi, ya, tak apa, daripada kesal, lebih baik memasang wajah ilmiah dan bereaksi dengan sabar: “Barangkali konsep ‘manusia Indonesia’ yang kurang jelas. Mari saya terangkan.”

Baca lebih lanjut

Demagogi

Rocky Gerung* (Majalah Tempo, 7 Jul 2014)

Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.

Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

Baca lebih lanjut

Mata Gelap, Gelap Mata

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 30 Jun 2014)

Seabad silam, 1914, Marco Kartodikromo (1890-1932) menerbitkan novel atau soerat tjerita berjudul Mata Gelap. Novel berisi tokoh-tokoh pendamba kehidupan moderan, pemuja asmara, serta melek uang dan status sosial. Marco mengisahkan kehidupan kaum muda saat mengalami modernisasi di Semarang dan Priangan, 1910. Zaman telah modern. Kita bisa mengerti alam pikir para tokoh melalui persepsi atas busana, uang, profesi, alat transportasi, bioskop, dan makanan. Novel berperan mendokumentasikan geliat kaum pribumi menanggapi modernitas dengan pelbagai nilai dan tindakan.

Penggunaan judul Mata Gelap membuat kita penasaran terhadap pemaknaan dalam sajian cerita. Marco Kartodikromo cenderung memaknai ungkapan “mata gelap” berkaitan dengan perselingkuhan atau nafsu lelaki untuk bisa mencintai dua perempuan. Pengertian ini muncul saat kita mengikuti cerita dan membuat catatan tentang karakter tokoh bernama Soebriga. Semula, Soebriga memuja kecantikan perempuan asal Priangan bernama Retna Permata. Pujian disampaikan secara berlebihan. Cinta dan nafsu pun bercampur demi mendapatkan Retna Permata.

Baca lebih lanjut

Kaidah yang Goyah

Eko Endarmoko* (Majalah Tempo, 23 Jun 2014)

Sejak duduk di bangku sekolah menengah, kita sudah mengenal “kaidah kpst” dalam pelajaran bahasa Indonesia, tapi kini konsep sederhana itu rasanya menyisakan pengertian yang sedikit dan kebingungan yang bertubi.

Kaidah ini mengatur kata dasar berhuruf awal k, p, s, dan t, manakala mendapat awalan me- atau pe-, huruf-huruf di awal kata itu hilang atau luluh. Namun ada beberapa bentuk yang menyimpangi kaidah itu, yang kadang mendapat sebutan lebih sopan: perkecualian. Anehnya, dalam beberapa kasus, penutur bahasa Indonesia umumnya justru pernah lebih akrab dengan perkecualian atau anomali itu. Contoh: mengkilat(p), mempesona, mempengaruhi, mempercayai, dan mempopulerkan.

Belum jelas benar, apakah karena menyandang predikat perkecualian atau karena sudah lama telanjur dipakai, tatkala kaidah kpst absen, yang terjadi malah tidak terasa menyimpang alah bisa karena biasa? Bandingkanlah bentuk anomali yang terasa lazim tadi dengan bentuk yang mematuhi kaidah tapi justru terkesan aneh (setidaknya kali pertama berjumpa): mengilat(p), memesona, memengaruhi, memercayai, dan memopulerkan.

Tapi saya pikir itu karena belum terbiasa saja.

Baca lebih lanjut