Arabisme dan Keindonesiaan

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 22 Sep 2014

Dalam rubrik “Memoar” majalah Tempo edisi 25-31 Agustus 2014, Ali Audah dianggap sebagai pekerja bahasa yang piawai karena berhasil menerjemahkan buku Arab ke dalam bahasa Indonesia yang baik. Menariknya, betapapun penerjemah ini berketurunan Arab, lelaki kelahiran Bondowoso tersebut berusaha untuk tidak kearab-araban. Sepertinya ia sadar bahwa bahasa itu hanya alat berkomunikasi, sehingga terjemahan dalam bahasa setempat itu mungkin. Betapapun bahasa Indonesia banyak menyerap kata dari bahasa rumpun Semitik ini, bahasa Melayu sejatinya mengandaikan asal-muasal Sanskerta yang kental.

Baca lebih lanjut

Dari Bistik ke Tayub Eropah

Zen Hae*, Majalah Tempo, 15 Sep 2014

Berdepan-depan dengan bahasa asing, bangsa kita menempuh pelbagai cara. Dari yang paling mudah, yakni menyerap, hingga yang sulit, yaitu menerjemahkan dan memadankan. Menyerap istilah asing sudah terjadi sejak pertama kali nenek moyang kita berhubungan dengan bangsa asing, terutama lewat perdagangan, penyebaran agama, dan penjajahan. Bahasa Indonesia hari ini adalah bahasa Melayu yang diperkaya oleh anasir bahasa Sanskerta, Arab, Persia, Hindi, Tamil, Portugis, Belanda, Cina, Jepang, dan Inggris-di samping anasir bahasa daerah.

Baca lebih lanjut

Lewah

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 8 Sep 2014

Benarkah di dunia ini tidak ada yang sempurna? Ternyata ada, misalnya kalimat. “Saya pergi” adalah contoh kalimat sempurna. “Saya” sebagai subyek, sementara “pergi” sebagai predikat. Begitu sederhana, tapi justru kesederhanaan itulah yang menjadikannya sempurna.

Dalam teori jurnalistik, selalu dikatakan bahwa berita, agar “sempurna”, harus memenuhi unsur dasar 5W (who, what, when, where, why) dan 1H (how). Tapi penekanannya bisa berbeda-beda. Jika peristiwa yang hendak ditonjolkan, unsur what didahulukan. Bila pelaku, korban, atau saksi yang lebih penting, unsur who yang ditonjolkan. Unsur dalam 5W + 1H yang sering dipakai memang what dan who. Unsur when dan where digunakan sebagai pelengkap. Sedangkan why dan how dipakai sebagai penjelasan.

Baca lebih lanjut

Bulur

Eko Endarmoko*, Majalah Tempo, 1 Sep 2014

Kata adalah perangkat paling penting dalam komunikasi. Ia semacam kendaraan pembawa bongkah-bongkah gagasan. Ia menjadi wadah, atau wakil, segala macam hal dari benda-benda di alam sekitar hingga konsep paling pelik. Bisa saja orang berkomunikasi tanpa sepatah kata pun, yaitu dengan bahasa isyarat. Tapi kualitas komunikasi di sana tentu sangatlah terbatas. Seorang dosen filsafat dapat kita bayangkan akan mengalami kesulitan menjelaskan pikiran-pikiran Ki Ageng Suryomentaram atau Heidegger di depan kelas dengan ragam bahasa itu. Sebaliknya, seorang tukang parkir bisa dengan mudah menjalankan kerjanya walau tanpa berkata-kata.

Baca lebih lanjut

Ayam Arab, Ayam Kampung, Ayam Buras

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 25 Agu 2014

Nun di Belgia, Eropa Barat, terdapatlah ayam petelur yang disebut ayam silver brakel kiel-setidaknya itulah yang disebutkan oleh Komunitas Peternak Ayam Berkualitas di Indonesia. Disebutkan, pada 1989, ayam bercorak burik hitam putih itu didatangkan beberapa ekor ke Temanggung, Jawa Tengah, demi kepentingan para kolektor ayam. Namun adalah para peternak yang membuatnya berkembang dan tersebar.

Baca lebih lanjut

Merdeka, tapi Bebas Jugakah kita?

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 18 Agu 2014

Sejak 1945, setiap tanggal 17 Agustus kita merdeka. Itu sebabnya tanggal itu disebut Hari Kemerdekaan, yang kita rayakan dan keramatkan. Merdeka berarti memiliki hak untuk bertindak, berbicara, atau berpikir sesuai dengan kehendak masing-masing. Kemerdekaan juga berarti kekuasaan untuk menentukan nasib sendiri, tidak tergantung, dan bebas bergerak.

Baca lebih lanjut

Terjemahan

Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, 11 Agu 2014

Lost in TranslationSaya tak mengerti mengapa film Lost in Translation disebut demikian. Karya Sofia Coppola ini bercerita tentang dua orang Amerika yang semula tak saling kenal di sebuah negeri asing, Jepang, dan akhirnya jadi akrab dan mesra, tapi tetap berpisah.

Mungkin di sini translation telah jadi sebuah kiasan. Terjemahan selalu mengandung momen pertemuan yang intens, bukan sekadar perjumpaan, dan dalam tiap pertemuan ada yang hilang, dilepas, tapi ada hal lain yang didapat. Kalaupun beberapa elemen tak kembali ketika sebuah karya dialihbahasakan ke dalam bahasa lain, selalu ada yang muncul baru.

Baca lebih lanjut

Bahasa dan Idul Fitri

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 4 Agu 2014

Sejarah diri dan Indonesia turut terbentuk dari kalimat-kalimat di koran, majalah, dan kartu pos. Momentum Idul Fitri adalah perayaan bahasa. Jejak historis di Hindia Belanda mengabarkan gairah bahasa bagi publik, memberi kalimat-kalimat mengandung makna selamat dan permohonan maaf. Idul Fitri menjadi mozaik bahasa, mengajak kita melakukan produksi makna.

Ucapan Idul Fitri tampil dalam penerbitan edisi akhir koran Asia-Raya, 7 September 1945. Kalimat “minal aidin wal faidzin” tertera jelas di halaman muka, tersaji dengan ukuran besar. Pihak redaksi juga mengumumkan pelaksanaan salat Idul Fitri di Lapangan Ikada, 8 September 1945.

Baca lebih lanjut

Demagogi Lagi

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 28 Jul 2014)

TIGA kali membaca kolom bahasa Rocky Gerung, “Demagogi” (Tempo, 7-13 Juli 2014), Wawa, pelajar sekolah menengah, tetap bertanya-tanya apa gerangan arti kata pada judul kolom itu. Ia merasa tak menemukan definisi demagogi yang lugas dalam tulisan tersebut. Pada teks, ia membaca demagogi (adalah) “busa kalimat”, atau “demagogi adalah ilmu menyiram angin demi menuai bau”, dan seterusnya. Baginya, ungkapan itu terasa canggih tapi sulit dipahami. Jujur ia mengaku “belum cukup umur” untuk mengerti pikiran abstrak.

Namun ia juga punya “kriteria” bahwa suatu kolom bahasa seyogianya bisa memberi penjelasan semantis yang terang.

Pertanyaan tersebut mungkin bukan sekadar soal teknis kebahasaan. Ada pantulan kesenjangan: generasi sekarang tak mengalami riuh-rendah politik masa lalu yang, mengutip sejarawan Ricklefs, penuh “janji kosong”. Isu demagogi merebak sepanjang masa Demokrasi Terpimpin yang direngkuh Presiden Sukarno kala itu. Sukarno sendiri sadar dirinya sering dijuluki demagog oleh pihak tertentu. “Ada juga yang mengatakan bahwa saya ini seorang ‘demagog’, dan ada pula yang menyebutkan saya seorang ‘fraseolog’ yang pandai memakai perkataan muluk-muluk,” katanya dalam pidato peringatan Proklamasi Kemerdekaan pada 1961.

Baca lebih lanjut

Kiasan Binatang

Ahmad Sahidah* (Majalah Tempo, 21 Jul 2014)

Kata majemuk membabi-buta diungkapkan sebagai perilaku kalap. Lalu, kalau binatang ini tak buta, apakah ia tak akan mengamuk dengan sengit? Mungkin kita tak perlu mengusik asal-usul kata sejauh itu. Hanya, kita mafhum bahwa binatang acap digunakan sebagai bahasa kiasan untuk menggambarkan perilaku manusia, buruk atau baik. Menariknya, meskipun kata tersebut juga dijumpai dalam Kamus Dewan Malaysia, warga jiran lebih memilih kata membuta-tuli, yang sama sekali tak menyebut binatang tertentu, meskipun maknanya sama dengan membabi-buta.

Menariknya, terkait dengan membabi-buta dan membuta-tuli, mengapa warga Malaysia jarang menggunakan kata yang pertama dalam percakapan sehari-hari? Ini bisa dikaitkan dengan keengganan orang Melayu menyebut babi, yang tidak halal untuk dimakan sehingga tak enak diungkapkan. Namun sebagian orang melihat perilaku ini sebagai penghormatan orang Melayu kepada dua etnis besar lain, Tionghoa dan India, yang mengkonsumsi hewan tersebut.

Jadi, meskipun berbahasa itu bersifat suka-suka, dalam praktek komunikasi, penutur menjaga perasaan mitra agar percakapan mendatangkan keakraban, bukan ketidaknyamanan.

Baca lebih lanjut