Arsip untuk kategori ‘Majalah Tempo’
Bahasa, Politik, dan Hoesni Thamrin
Majalah Tempo, 3 Feb 2012. Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo.
Rezim Orde Lama, melalui penerbitan buku Hari-hari Bersedjarah dan Peristiwa-peristiwa Penting (1963), mencantumkan penjelasan bahwa 11 Januari adalah Hari Peringatan M.H. Thamrin. Kita mungkin mengenal Mohammad Hoesni Thamrin (16 Februari 1894-11 Januari 1941) berkaitan dengan nama jalan di Jakarta atau memori kepahlawanan. Penghormatan terhadap tokoh memang mengesankan ingatan kesejarahan. Kita sering mengenal nama-nama tokoh tapi jarang menelisik peran tokoh tersebut di masa silam.
Bunyi pada Teks Kita
Majalah Tempo, 27 Jan 2013. Roy Thaniago, Redaktur majalah Bung!
Simaklah kalimat ini: “Ajaklah dia membicarakan kasus yang mengacak-acak sektor keuangan negara. Maka suasana akan beralih lebih panas dan meriah, mirip musik berirama staccato yang mengentak-entak.”
Kalimat itu terdapat pada salah satu tulisan majalah ini halaman 124, edisi 27 Mei 2012, yang menampilkan wawancara dengan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Mungkin sang penulis berupaya bersolek bahasa. Menggunakan metafor bebunyian untuk melukiskan suatu keadaan tentu sah saja. Penggunaan yang pas dan kreatif malah akan menambah daya imajinatif suatu tulisan. Tapi bila penggunaannya tidak pas, apalagi keliru, tentu akan mengaburkan realitas suasana yang sesungguhnya. Bukan hanya itu, praktik tersebut malah akan mencemari istilah atau bahasa teknis suatu disiplin ilmu tertentu.
Sang Pemula
Majalah Tempo, 20 Jan 2013. Hairus Salim H.S., Penulis dan Editor.
Di kantor saya, setiap kali ada rapat atau diskusi kecil, usul untuk suguhan air minumnya selalu saja aqua. Tapi yang muncul sering bukan Aqua, bisa merek minuman lain yang jumlahnya sekarang menjamur. Aqua sendiri dalam bahasa Latin memang artinya air. Tentu istilah itu digunakan bukan karena keinginan menghidupkan bahasa Latin, melainkan karena Aqua adalah merek pertama air minum kemasan yang dikenalkan di Indonesia sejak 1980-an dan kini sangat populer.
Mirip dengan kasus aqua di atas adalah produk makanan mi dadak, istilah kamus bahasa Indonesia untuk menyebut makanan mi yang setelah dimasak sekejap sudah siap buat disantap. Meski kini ada banyak merek untuk jenis makanan yang paling menasional ini, orang tetap lebih sering menyebutnya supermi, yang boleh jadi merupakan merek mi dadak yang pertama. Jadi, kalau di sebuah kios kecil ada yang bilang ingin beli supermi, yang dimaksud belum tentu Supermi sebagai merek produk itu. Bisa juga merek lain yang kini jumlahnya telah mencapai puluhan.
Revitalisasi
Majalah Tempo, 13 Jan 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Sumber gambar: KidzMatter Ministries
DI sebuah tikungan jalan raya menuju Puncak, Bogor, pandangan saya mampir pada sekeping papan kayu bertulisan “Reparasi Alat Vital” yang terpaku pada sebuah pohon tua. Alamat bengkel tempat reparasi tidak tercantum, kecuali nomor telepon. Juga tidak disebutkan jenis alat vital apa saja yang bisa dipermak di biro jasa itu. Jika mengikuti Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, sublema alat vital semestinya termasuk mesin pesawat terbang dan mesin pabrik. Namun, tak mungkin mesin-mesin besar bisa dibongkar-pasang di situ. Jelas kemudian teks pada papan kayu itu hanyalah trik penawaran “terapi syahwat” mirip iklan klinik terapi serupa yang dijajakan seorang rocker di televisi.
Metamorfosis ‘Kiri’
Majalah Tempo, 6 Jan 2013. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos dan penyair.

Sumber gambar: Fellowship of the Minds
KIRI dan kanan. Antonim dua kata itu tidak terbatas pada arah semata, tapi juga menjalar hingga ke aspek kehidupan lebih luas, dari etika pergaulan sehari-sehari, religi, hingga politik.
Dalam kehidupan sosial-budaya, “kanan” dianalogikan kepada hal-hal baik. Sebaliknya “kiri” dikaitkan dengan yang tidak baik. Ketika anak balita menjulurkan tangan kiri untuk menerima permen pemberian orang, orang tuanya akan segera mencegah dan bilang, “Hayo, tangan kanannya mana?”

