Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Arsip untuk kategori ‘Majalah Tempo

Iwak Pitik, Iwak Tempe, Iwak Peyek

leave a comment »

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 18 Nov 2013)

Iki iwak pitikBeberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman gambar yang menarik melalui telepon seluler. Gambar hitam-putih yang berupa goresan tangan yang sederhana itu lebih mirip karya siswa taman kanak-kanak terdiri atas tiga gambar berbeda, tapi terangkai dalam satu cerita. Gambar pertama berbentuk ikan laut. Gambar kedua, di samping kanan gambar pertama, berupa gambar ayam. Sedangkan gambar ketiga berwujud ikan, tapi berkaki ayam. Ketiga gambar itu dilengkapi keterangan dalam bahasa Jawa. Di atas gambar pertama tertulis iki iwak (ini ikan). Keterangan gambar kedua bertulisan iki pitik (ini ayam). Adapun keterangan gambar ketiga merupakan gabungan gambar pertama dan kedua, yakni iki iwak pitik (ini ikan ayam).

Melihat gambar ketiga berikut membaca keterangan yang menyertainya, reaksi pertama saya adalah mengatakan: mana ada ikan ayam, atau lebih tepatnya: ikan berkaki ayam. Mobilitas ikan tidak menggunakan kaki, tapi berenang dengan menggerakkan sirip dan ekor. Jika manusia berkaki ikan, di dalam dunia dongeng tentu saja ada, yaitu ikan duyung. Meski di alam nyata belum pernah ditemukan ikan ayam, dalam bahasa keseharian kita malah sering mendengar istilah tersebut, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.

Baca entri selengkapnya »

Written by Rubrik Bahasa

18 November 2013 at 21.49

Ditulis dalam Majalah Tempo, Samsudin Adlawi

Dikaitkatakan dengan

Rok Luar

leave a comment »

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 11 Nov 2013)

LANGIT membersit jernih ketika saya tiba di Bandar Udara Internasional Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menjelang tengah hari beberapa waktu yang lalu. Bandara itu tergolong gres, baru beroperasi sekitar tiga tahun terakhir menggantikan Selaparang yang kini tampak tua. Terletak di sebuah kawasan desa di Kabupaten Praya, Lombok Tengah, sekitar lima puluh kilometer dari Mataram, ibu kota provinsi, lapangan gegana yang baru itu tampak megah di tengah padang kosong. Tak ada bangunan besar lain di sekitarnya. Sebagian besar area lahan yang masih terbentang luas itu berupa sawah, ladang, dan sedikit hunian penduduk. Dulu, kata sopir yang menjemput saya, kawasan itu sangat sepi dan jarang didatangi orang.

“Ada yang menyebutnya rok luar,” ujar Pak Sopir tertawa kecil. Dia mengaku tak paham maksud istilah itu karena cuma dengar dari obrolan para pakar yang pernah ia jemput. Saya ingat gurauan serupa, entah siapa pemulanya, yang menyebut “rok luar” sebagai terjemahan outskirts secara harfiah. Dalam The Con­cise Oxford Dictionary (1987), kata itu berarti “outer border or fringe of town, district, subject, etc.” Ringkas kata, outskirts adalah daerah pinggiran kota. Awalnya, kata itu berbentuk tunggal yang dirakit dari out plus skirt, dan supaya tidak kèder dengan pakaian “rok” dibuatlah jamak. Perihal “rok” itu dalam kosakata Inggris cukup disebut skirt, yang dijelaskan sebagai “woman’s outer garment hanging from waist” alias pakaian luar perempuan yang menggantung dari pinggang ke bawah. Ngisoran, kata orang Jawa.

Baca entri selengkapnya »

Written by Rubrik Bahasa

11 November 2013 at 17.35

Ditulis dalam Kasijanto Sastrodinomo, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Colenak, Batagor, Misro

with 2 comments

Majalah Tempo, 4 Nov 2013. Rainy M.P. Hutabarat, Pekerja media dan penulis

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa telah mencantumkan banyak akronim baru. Rudal (peluru kendali), berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), sinetron (sinema elektronik), cerpen (cerita pendek), dan sendratari (seni drama dan tari) hanyalah beberapa contoh.

Karena gemar makanan dan penasaran, saya pun menyu­suri akronim nama-nama makanan dalam kamus tersebut. Beberapa nama penganan terekam: dicocol enak disingkat colenak, yakni “penganan, dibuat dari singkong yang dibakar dan dicocolkan ke kinca (cairan dari gula merah)”; bakso tahu goreng (batagor), “makanan khas Bandung yang dibuat dari tahu berisi adonan bakso kemudian digoreng, diberi kuah kacang atau kuah bakso”; aci dicolok (cilok), “bakso yang dibuat dari tepung kanji dan dihidangkan dengan ditusuk seperti satai”; amis di jero (misro), “penganan dibuat dari singkong dan gula merah yang digoreng seperti comro”; dan oncom di jero (comro), “penganan dari singkong yang diparut, dibentuk bulat panjang, di dalamnya diisi oncom yang dibumbui, kemudian digoreng”. Uniknya, semua akronim itu merupakan nama penganan Sunda.

Baca entri selengkapnya »

Written by Rubrik Bahasa

4 November 2013 at 23.06

Ditulis dalam Majalah Tempo, Rainy M.P. Hutabarat

Dikaitkatakan dengan

Setiap 28 Oktober…

with 2 comments

Majalah Tempo, 28 Okt 2013. Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo

PADA 28 Oktober 1978, Presiden Soeharto memberi seruan bahwa bahasa Indonesia berperan sebagai bahasa persatuan, menghindarkan kita dari pertikaian bahasa dan politik. Anggapan itu memunculkan kebijakan khas rezim Orde Baru, berdalih atas stabilitas politik dan pembangunan. Soeharto menginginkan agar ada pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, mengandung kehendak penguasa: menempatkan bahasa Indonesia untuk legitimasi kekuasaan.

Amanat Soeharto tampil menjadi tema dalam Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta bertema “Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia”. Semangat panitia dan peserta kongres pada masa Orde Baru itu berbeda dengan efek kesejarahan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo (1938) dan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan (1954). Bahasa Indonesia pada masa Orde Baru adalah modal bagi penguasa mencipta karisma dan pesona. Penguasa bertabiat sebagai “tuan bahasa”, digunakan untuk memberi perintah dan membentuk kepatuhan. Agenda memperalat bahasa Indonesia demi pembangunan mengartikan keingkaran atas kesejarahan bahasa Indonesia.

Baca entri selengkapnya »

Written by Rubrik Bahasa

28 Oktober 2013 at 18.17

Ditulis dalam Bandung Mawardi, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Satu Rumpun, Dua Jalan

leave a comment »

Majalah Tempo, 21 Okt 2013. Karim Raslan, Kolumnis mengenai Asia Tenggara dari Malaysia

Bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia memiliki akar tunjang yang sama, Melayu Riau, saya bersyukur. Ini menandakan ada sebuah pertalian erat dua bangsa dalam satu rumpun besar. Sebagai bahasa yang pernah menjadi lingua franca Nusantara, bahasa Melayu menjadi perlambang superioritas budaya Melayu dalam banyak hal. Menurut saya, baik Indonesia maupun Malaysia wajib berutang budi kepada pionir kesusastraan Melayu abad ke-19, Raja Ali Haji. Bangsawan Kesultanan Melayu-Riau ini, melalui magnum opus Tuhfat al-Nafis dan beberapa karya lain, telah banyak mempengaruhi historiografi Melayu hingga kini.

Tentu saja, sebagai bekas bahasa pemersatu, bahasa Melayu tak lepas dari aspek pengaruh bahasa lain. Hal ini sebagai pertanda globalisasi dan pergulatan kosmopolitanisme yang melanda Nusantara selama beberapa abad, sebelum kolonialisme menikam jantung Nusantara. Persentuhan dengan budaya asing inilah yang kemudian membuat bahasa Melayu dan bahasa Indonesia memiliki banyak kata serapan dari bahasa asing ataupun bahasa daerah.

Baca entri selengkapnya »

Written by Rubrik Bahasa

21 Oktober 2013 at 21.26

Ditulis dalam Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.545 pengikut lainnya.