Vokal “eu”

Pikiran Rakyat, 8 Jan 2011. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Dalam bahasa Indonesia vokal hanya ada enam, yaitu “a”, “i”, “u”, “e”, “e” dan “o”. Akan tetapi, dalam bahasa Sunda dan Aceh, masih ada satu vokal lagi, yaitu “eu”. Dalam bahasa Bali juga terdapat vokal “eu”, tetapi hanya pada suku kata akhir yang terbuka dengan vokal “a”, seperti pada kata “pedanda” diucapkan “pedandeu”, “pura” diucapkan “pureu”, dan lain-lain. Akan tetapi, dalam bahasa tulisan vokal “eu” itu tidak terdapat dalam bahasa Bali

Karena dalam kebanyakan bahasa lain tidak terdapat vokal “eu”, timbul masalah bagi mereka ketika membaca dalam peta nama-nama tempat di Tatar Sunda atau Aceh yang menggunakan vokal “eu” seperti “Pameungpeuk”, “Cilauteureun”, “Cicaheum”, “Meulaboh”, “Seulimeum”, dan “Peureulak”.

Baca lebih lanjut

Pemelajaran Politik

Pikiran Rakyat, 7 Jan 2010. Imam Jahrudin Priyanto: Redaktur Bahasa Pikiran Rakyat.

ADA rekan yang bertanya tentang judul “Pemelajaran Politik” pada rubrik Apa dan Siapa Pikiran Rakyat, 9 Desember 2010 lalu. Menurut dia, bukankah seharusnya (biasanya) “Pembelajaran Politik”? Saya balik bertanya, apakah bentuk yang disebut terakhir itu sudah benar atau malah tergolong salah kaprah?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita pelajari makna kata pembelajaran dan pemelajaran. Kedua kata berimbuhan ini tentu saja benar dan baku, tetapi pastilah artinya berbeda. Kata pembelajaran tentu ada kaitannya dengan kata membelajarkan.

Baca lebih lanjut

Mencari Kata Dasar

Pikiran Rakyat, 18 Des 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Salah satu kesulitan bagi orang asing mempelajari bahasa Indonesia, ialah mencari kata dasar. Seperti diketahui dalam bahasa Indonesia, kata-kata itu terdiri dari kata dasar dan kata jadian, yaitu kata dasar yang diberi imbuhan. Kalau imbuhan itu berupa sisipan atau akhiran, tidak jadi masalah karena tidak mempengaruhi tempatnya dalam kamus. Akan tetapi, kalau imbuhan itu berupa awalan yang jumlah macamnya lumayan banyak seperti ber-, me-, men-, meng-, mem-, ter-, per-, di-, dll., timbul kesulitan, apalagi kalau awalan itu meluluhkan konsonan pertama kata dasarnya seperti memakai, mengutip, menaksir, dll. Padahal semua lema kamus berdasarkan kata dasar.

Awalan me- meluluhkan huruf pertama kata dasar yang dimulai dengan konsonan tertentu, yaitu konsonani p, k, dan t, dan memberi bunyi sengau sebagai gantinya, sehingga pukul menjadi memukul, pikir menjadi memikirkan, pukat menjadi memukat, karang menjadi mengarang, kutip menjadi mengutip, kira menjadi mengira, takar menjadi menakar, tanding menjadi menandingi, tukar menjadi menukar, dll.

Baca lebih lanjut

Huruf “e”

Pikiran Rakyat, 11 Des 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Sumber: Phong.comDalam abjad Latin EYD ada huruf e yang menyalahi prinsip EYD yang hendak “satu huruf satu fonem”, bisa dibaca baik sebagai e (lemah) seperti dalam kata jelas, pernah, melempem, dll., maupun sebagai é (tajam) seperti dalam kata bebek (dibaca bécék), bebek (bébék), receh (récéh), deret (dérét), dll. Seperti pernah berkali-kali saya kemukakan, hal itu menyebabkan kekacauan dalam membaca kata-kata terutama kata-kata yang belum dikenal, padahal kata-kata baru setiap hari menyerbu bahasa Indonésia baik dari bahasa asing (terutama Inggris) maupun dari bahasa ibu (terutama Jawa dan Jakarta). Kekacauan pembacaan itu dengan mudah kita dengar kalau kita bersedia mendengarkan dengan cermat orang-orang yang berbicara melalui televisi atau radio, baik tokoh pemimpin atau kaum selebriti yang diwawancarai maupun para pembaca berita atau wartawan yang melakukan wawancara.

Baca lebih lanjut

Nama Sama, Tetapi Lain-Lain

Pikiran Rakyat, 4 Des 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Kepada para mahasiswa Osaka Gaidai yang hendak pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya, saya selalu mengingatkan mereka tentang macam-macam makanan dan minuman. Saya katakan banyak makanan yang namanya sama, tetapi ternyata di setiap daerah ada variasi yang berlainan satu dengan yang lain. Sebaliknya ada juga makanan yang namanya berlainan, tetapi ternyata wujud dan rasanya sama di daerah yang satu dengan di daerah yang lain.

Contoh yang sering saya kemukakan adalah kalau memesan minuman di restoran di Singapura (Kuala Lumpur), Bandung, dan Yogyakarta. Di Singapura (Kuala Lumpur) kalau kita memesan teh (tea), kita akan mendapat teh manis yang telah dicampur dengan susu. Kalau mau teh tanpa susu, kita harus meminta tea kosong atau tea o. Kalau mau teh tawar, kita harus memesan tea o tak bergula.

Baca lebih lanjut

Bahasa Pengantar di Lembaga Pendidikan

Pikiran Rakyat, 27 Nov 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Pada 1951, UNESCO menganjurkan agar bahasa pengantar yang digunakan di lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah sebaiknya bahasa ibu anak-anak didik karena bahasa ibu lebih mesra dan lebih dikuasai oleh anak didik. Akan tetapi, pemerintah Republik Indonesia pada 1953 melalui Undang-Undang Pendidikan menetapkan bahwa di sekolah rakyat 6 tahun, yang sebelumnya menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar untuk semua mata pelajaran, hanya boleh digunakan sebagai bahasa pengantar di kelas I-III. Di kelas IV dan selanjutnya sampai sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, bahasa pengantar yang digunakan harus bahasa nasional, bahasa Indonesia. Pada waktu itu memang ada anggapan bahwa segala sesuatu yang berbau daerah (bahasa ibu disebut juga bahasa daerah), membahayakan kenasionalan Indonesia, seakan-akan bahasa ibu atau bahasa daerah itu merupakan lawan dari bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Baca lebih lanjut

Indo dan Peranakan

Pikiran Rakyat, 20 Nov 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Pada masa yang lalu, pendatang dari negeri lain banyak yang tidak membawa istri sehingga mereka banyak yang menikah dengan wanita pribumi, atau banyak juga yang kumpul kebo, yaitu hidup bersama tanpa nikah. Meskipun ada, tetapi jarang sekali ada pernikahan antara laki-laki pribumi dan wanita asing, baik Eropa maupun Cina. Yang umum adalah laki-laki asing dengan perempuan pribumi. Banyak yang kemudian mempunyai anak, baik laki-laki maupun perempuan. Anak-anak itu –yang berdarah campuran– dalam bahasa kita disebut dengan nama yang khusus. Anak-anak campuran antara orang kulit putih (Eropa) dengan perempuan pribumi disebut indo. Akan tetapi, anak-anak campuran antara laki-laki Cina dengan perempuan pribumi disebut peranakan atau Cina peranakan. Tidak ada sebutan khusus buat anak campuran antara laki-laki Arab dan keling dengan perempuan pribumi, meskipun pernikahan antara laki-laki Arab dengan perempuan pribumi cukup banyak, begitu juga antara laki-laki keling dengan perempuan pribumi.

Baca lebih lanjut

Istilah dan Ungkapan Bahasa Inggris

Pikiran Rakyat, 13 Nov 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Harus diakui dalam bidang ilmu banyak sekali istilah bahasa asing, terutama bahasa Inggris, yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Kamus istilah untuk berbagai bidang keilmuan sudah disusun, tetapi ternyata untuk pemakaian sehari-hari tidak cukup, atau istilah itu belum dikenal oleh para ilmuwan dalam bidang yang bersangkutan. Hal itu bisa kita saksikan kalau kita meneliti tulisan-tulisan para ilmuwan, baik yang berupa karangan yang dimuat dalam majalah atau surat kabar maupun dalam buku-buku yang ditulisnya. Dalam karangan-karangan itu kita sering melihat bahwa setelah ditulis istilah dalam bahasa Indonesia, lalu diikuti di antara tanda kurung, istilahnya dalam bahasa Inggris.

Baca lebih lanjut

Sate Madura Tak Ada di Madura

Pikiran Rakyat, 6 Nov 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Saya pernah diantar oleh pelukis asal Madura, Amang Rahman, berkeliling di Pulau Madura mencari sate madura yang saya sukai. Amang memberi tahu bahwa di Madura tak ada sate madura, tetapi mulanya saya tidak percaya. Baru setelah lelah berkeliling dan tidak menemukannya, saya percaya bahwa di Madura tidak ada sate (dan soto) madura, tetapi sate kambing biasa ada. Akan tetapi, sate dan soto madura adanya di Pulau Jawa, dari Surabaya ke barat atau ke timur. Di Bandung dan Jakarta banyak, begitu juga di kota-kota lain dengan bentuk pikulan dan pakaian pedagangnya yang khas. Akan tetapi, di Pulau Madura sendiri tidak ada yang namanya sate madura.

Baca lebih lanjut

“Pribumi” — Apa Artinya?

Pikiran Rakyat, 30 Okt 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Istilah pribumi biasanya digunakan sehubungan dengan penduduk asing, terutama Cina yang dianggap sebagai nonpribumi atau nonpri. Maksud istilah pribumi sama dengan istilah bumiputera yang banyak digunakan padanannya sebelum perang, tetapi sekarang tak pernah terdengar digunakan kecuali sebagai nama perusahaan asuransi. Maksudnya ialah penduduk asli di suatu daerah. Pengertian asli di Indonesia sebenarnya agak sulit dirumuskan, mengingat menurut para ahli, penduduk kepulauan Nusantara ini semuanya juga berasal dari daratan Asia yang datang bermigrasi beberapa ribu tahun yang lalu. Penduduk yang benar-benar asli niscaya sudah punah atau bercampur dengan para pedatang ribuan tahun yang lalu.

Baca lebih lanjut