Arsip untuk kategori ‘Menurut penulis’
Main (di) Stadion
Lampung Post, 28 Mar 2012. Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Riau
“Kena batunya,” suara lirih Atan membuyarkan konsentrasi penumpang lain yang sedang berjuang agar tidak terantuk karena ulah sopir yang harus selalu menggoyang kendaraannya untuk menghindari tebaran lubang di hampir sepanjang jalan. Mereka terhenyak penuh tanya, apa gerangan yang (akan) terjadi.
“Maaf, Bang. Maaf, Kak. Gumam awak tadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan nasib kami di angkot ini,” kata Atan mencoba menenangkan. “Awak hanya geli melihat tulisan pada papan nama di proyek pembangunan stadion tadi,” ujarnya melanjutkan.
Antara Indonesia Melawan Qatar
Lampung Post, 21 Mar 2012. Kiki Zakiah Nur, S.S.
Menonton pertandingan sepak bola sebenarnya bukan kegemaran saya. Tetapi, demi menemani suami yang menggemari sepak bola, saya ikut menyaksikan pertandingan sepakbola kesebelasan Indonesia melawan Qatar yang disiarkan secara langsung oleh sebuah stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Pertandingan babak pertama berakhir seri dengan kedudukan masing-masing 2.
Sebelum diselingi jeda iklan, reporter olahraga mengatakan kalimat yang bunyinya begini, “Baik, pemirsa. Jangan ke mana-mana. Kita saksikan pertandingan berikutnya antara Indonesia melawan Qatar setelah iklan yang berikut.”
Pemakaian pasangan antara…, melawan…, dengan contoh kalimat seperti itu sangat sering digunakan oleh reporter atau wartawan olahraga pada acara pertandingan sepak bola. Secara sepintas memang sepertinya tidak ada yang salah pada kalimat tersebut.
Rumah Sang Pendeta
Majalah Tempo, 19 Mar 2012. Putu Setia, Nama baptis Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
Beberapa hari sebelum saya dibaptis sebagai pendeta pada 2010, ada ritual yang jelimet di rumah tinggal saya. Rumah saya dinaikkan “statusnya” menjadi griya. Ini sebutan tempat tinggal yang dianggap suci, karena penghuninya tak lagi tergoda urusan duniawi. Begitulah formalnya.
Saya sempat bergurau: “Di Jakarta saya pernah tiga tahun tinggal di griya.” Banyak orang tertawa dan ada yang menuduh saya “tak tahu aturan”. Tapi saya ngotot: “Ya, betul, saya tinggal di Griya Wartawan Cipinang Muara.” Orang menjadi maklum setelah saya jelaskan itu kompleks perumahan wartawan.
Komedian?
KOMPAS, 16 Mar 2012. Kurnia JR, Cerpenis
Sekarang ada sebutan yang lebih populer bagi seniman panggung pengocok perut: komedian. Istilah pelawak mulai ditinggalkan tanpa alasan jelas kecuali kecenderungan masyarakat yang mudah terkesima oleh kosakata keinggris-inggrisan. Ini gejala peyorasi dalam linguistik. Dalam hal ini, kata pelawak mengalami degradasi semantik.
Peminjaman atau penyerapan kosakata dari bahasa asing adalah situasi alamiah dan wajar dalam suatu bahasa. Yang celaka jika proses itu berakibat pembonsaian khazanah bahasa kita sendiri. Kosakata asing diserap seraya merendahkan derajat makna padanannya yang sudah ada dalam bahasa kita tanpa urgensi sama sekali.
Hemat Perlu Cermat
Lampung Post, 14 Mar 2012. Chairil Anwar, Alumnus FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Lampung
Jika dalam artikel-artikel sebelumnya banyak dicermati tentang pemborosan dan kemubaziran kata yang seharusnya dihindari, tulisan kali ini akan membahas tentang penghematan satuan bahasa yang justru harus dihindari karena tidak sesuai dengan aturan kebahasaan.
Penghematan dilakukan untuk menciptakan tuturan atau tulisan yang efektif. Namun, kita sebagai pemakai bahasa jangan terlalu over dalam menyingkat, bahkan menghilangkan suatu unsur kebahasaan. Alhasil, alih-alih ingin menciptakan komunikasi yang efektif, bahasa yang digunakan justru meyimpang dari kaidah kebahasaan.
Tuturan atau satuan bahasa yang lazim digunakan oleh pemakai bahasa terkait dengan penyingkatan yang keliru di antaranya pada kata “pom bensin”, “promo”, “rinci”, “optimis”, “bra”, “relawan”, dan lain-lain.
Dict-(ator)
Majalah Tempo, 12 Mar 2012. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
ADA suasana hati yang tak nyaman tatkala seseorang merasa didikte orang lain. Dikte-mendikte bisa ditafsirkan sebagai praksis kekuasaan yang tak imbang dan memaksa. Dalam dikte terkandung suatu perintah yang harus diikuti oleh terdikte tanpa boleh membantah. Barangkali perasaan semacam itulah yang menyelimuti sebagian besar anggota Dewan Perwakilan Rakyat ketika memilih pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi beberapa waktu lalu. Untuk menetapkan empat pemimpin KPK, para wakil rakyat itu tak merasa perlu mengikuti peringkat calon yang disodorkan panitia seleksi.
Sebelumnya, panitia seleksi telah mengunggulkan empat nama dari delapan calon pemimpin KPK. Namun panitia menyanggah telah mendikte anggota parlemen. Sistem pemeringkatan dalam seleksi, menurut Imam Prasodjo, anggota panitia, semata-mata demi transparansi dan pertanggungjawaban kepada publik: bahwa urutan nama calon pemimpin KPK itu tidak muncul ujug-ujug, tapi melalui perhitungan yang matang. DPR akhirnya hanya memilih seorang dari empat unggulan panitia seleksi, lainnya diambil dari “sisa” calon. Jika bukan karena dikte-mendikte, hasil pilihan itu mengesankan bahwa DPR lebih mementingkan hitungan politik alih-alih menguatkan lembaga KPK dalam membasmi durjana korupsi (Tempo, 12-18 Desember 2011).
Kopitiam
KOMPAS, 9 Mar 2012. Samsudin Berlian, Pemerhati Makna Kata
Baru saja Mahkamah Agung mengesahkan keputusan Pengadilan Niaga Medan bahwa kopitiam adalah merek milik eksklusif seorang pengusaha Jakarta, yang langsung saja memerintahkan semua pengusaha kopitiam berhenti memakai nama itu untuk tempat usaha mereka.
Kopitiam adalah gabungan menarik dua kata yang melibatkan banyak budaya. Kopi menempuh perjalanan panjang dari Arab qahwah, Turki kahveh, Italia caffè, sampai Belanda koffie, sebelum diserap Melayu. Belanda menguasai Malaka sejak pertengahan abad ke-17.
Tiam kata Hokkien untuk toko. Bagian besar imigran Cina di Asia Tenggara berasal dari Provinsi Hokkien [Mandarin: Fujian] dan sudah ratusan tahun bahasa dan adat istiadat Hokkien di antara mereka bercampur dengan Melayu. Jadi, kopitiam tak lain tak bukan tak lebih tak kurang berarti ’kedai kopi’.
Mencari Padanan Kata
Majalah Tempo, 5 Mar 2010. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia
Saya memperhatikan bahwa pengguna bahasa Indonesia lebih rajin mencari padanan kata yang diambil dari kata Inggris daripada tetangganya. One stop, misalnya, diganti dengan istilah satu atap, bukan sehenti, sebagaimana diterakan oleh pengucap atau penulis Malaysia. Masalahnya, apakah penyerapan itu mempunyai akibat pada tindakan pelayanan? Saya punya pengalaman ketika anak saya baru lahir. Dengan sigap, saya membawa pelbagai dokumen untuk mendapatkan akta kelahiran anak saya di kantor catatan sipil negeri jiran. Karena sehenti, saya menyerahkan syarat-syarat di satu titik, lalu tak lama kemudian petugas memberi tahu sijil lahir telah selesai. Saya mengambilnya tanpa membayar.
Pesta Kalimat Pendek
Lampung Post, 29 Feb 2012. F. Moses; Pemerhati bahasa, tinggal di Telukbetung
COBALAH tengok kaca belakang angkot-angkot di sepanjang jalan setiap melintasi ruas-ruas kota; saat kendaraanmu terdahului, ketika mereka mengetem di sepanjang halte, depan mal, bahkan di pelipiran trotoar yang membuat pejalan kaki sedikit terganggu.
Perhatikanlah sejenak—sesungguhnya mereka hendak menebar pesona berbahasa mereka. Semacam ada isyarat yang hendak diunggah oleh mereka dari suara hati kecil sesungguhnya. Semacam pelisanan mereka untuk dirimu ketahui; dari frasa-frasa, idiom, bahkan tak jarang adalah semacam aforisma. Menurut saya. Tentunya kamu punya pendapat lain, ya.
Kalam Komunitas Kelam
Majalah Tempo, 27 Feb 2012. Veven Sp. Wardhana, Penghayat budaya massa
Buah apel, dalam bahasa Latin, disebut malus. Tak berbeda, “apel Malang” dan “apel Washington” pun tetap saja malus. Apel adalah buah dalam makna denotatif. Yang membedakan, masing-masing dibudidayakan di perkebunan di (kabupaten) Malang, Jawa Timur, dan Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Itu untuk bahasa petani dan ilmu botani. Namun, dalam bahasa para politikus yang tersangkut skandal pembangunan Wisma Atlet SEA Games, kosakata Latin tersebut tak berlaku bagi dua ragam apel itu. Bahkan sama sekali tak ada kaitannya dengan buah. “Apel Malang” merupakan kata ganti untuk uang rupiah, sementara “apel Washington” identik dengan alat tukar uang dolar Amerika.
Dalam sebuah persidangan skandal tersebut terjelaskan, penggantian kata apel untuk uang dimaksudkan agar tak terkesan vulgar. Maksudnya, perlu ada penghalusan atau pelembutan, yang dalam linguistik disebut eufemisme.

