Arsip untuk kategori ‘Ahmad Sahidah’
Mencari Padanan Kata
Majalah Tempo, 5 Mar 2010. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia
Saya memperhatikan bahwa pengguna bahasa Indonesia lebih rajin mencari padanan kata yang diambil dari kata Inggris daripada tetangganya. One stop, misalnya, diganti dengan istilah satu atap, bukan sehenti, sebagaimana diterakan oleh pengucap atau penulis Malaysia. Masalahnya, apakah penyerapan itu mempunyai akibat pada tindakan pelayanan? Saya punya pengalaman ketika anak saya baru lahir. Dengan sigap, saya membawa pelbagai dokumen untuk mendapatkan akta kelahiran anak saya di kantor catatan sipil negeri jiran. Karena sehenti, saya menyerahkan syarat-syarat di satu titik, lalu tak lama kemudian petugas memberi tahu sijil lahir telah selesai. Saya mengambilnya tanpa membayar.
Nasib Imbuhan Pe-an
Majalah Tempo, 21 Nov 2011. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universiti Utara Malaysia
Kemusnahan bahasa tidak terelakkan disebabkan alasan kesejarahan, demografi, atau serbuan bahasa asing. Yang terakhir kadang dibenarkan untuk menjadikan bahasa tertentu bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman melalui penyerapan kosakata baru. Belum lagi ikhtiar penerjemahan ilmu pengetahuan dan istilah teknologi modern memaksa pemakai bahasa yang baik mengerutkan dahi dalam memastikan bahasa sasaran, bahasa Indonesia, tidak semakin pupus. Yang merepotkan, penerjemahan bahasa filsafat, yang meskipun susunannya bukan sama sekali baru, lazim mengandaikan pemahaman tertentu. Hal ini menyebabkan dosen mengambil jalan mudah dengan penyerapan begitu saja, seperti istilah thing-in-itself menjadi sesuatu-dalam-dirinya.
Anulir, Konfrontir, Legalisir
Majalah Tempo, 5 Sep 2011. Ahmad Sahidah, Dosen filsafat dan etika di Universitas Utara Malaysia
Kemelut surat palsu antara Komisi Pemilihan Umum dan Mahkamah Konstitusi menimbulkan pertanyaan lain, di luar masalah legal. Di tengah perseteruan ini, terdapat dua kata yang sering muncul, yakni “anulir” dan “konfrontir”. Ada sebuah keputusan yang “dianulir” sehingga menimbulkan silang sengketa. Demikian pula, kata “konfrontir” berhamburan di media elektronik.
Kita memahami maksud dua kata di atas dalam sebuah konteks kalimat. Namun, jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat, 2008), tampak ada kejanggalan, karena kata “anulir” dianggap lema yang baku, sementara “konfrontir” diikuti tanda panah (→), yang berarti harus diganti dengan kata yang ditunjuk, yaitu “konfrontasi”. Kata “konfrontasi” juga digunakan oleh banyak narasumber, yang menunjukkan bahwa keduanya telah dikenal sebagai kata yang bermakna sama. Kalau memang kata “konfrontasi” dianggap lebih tepat, mengapa masih banyak orang berdegil menggunakan kata “konfrontir”?
Berburu Kosakata Indonesia
Majalah Tempo, 20 Jun 2011. Ahmad Sahidah, Pengajar Pascasarjana Institut Agama Islam Nurul Jadid, Paiton, Jawa Timur
MENGAPA seseorang harus merasa menggunakan atau menyelipkan kata Inggris di antara kalimat bahasa Indonesia? Karena kekurangan kosakata, memang sengaja untuk sebuah efek, atau sekadar citra belaka?
Sebuah pertunjukan wicara (lazim dikenal sebagai talk show) di televisi. Acara yang sering disiarkan secara langsung (lazim disebut live) ini sangat penting untuk menciptakan ruang bagi khalayak untuk memahami isu hangat. Dalam acara Coffee Break di TV One pada April lalu, pembawa acara mewawancarai Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Mochammad Jasin. Namun tulisan ini tidak akan mengurai perdebatan tentang korupsi, melainkan penggunaan bahasa dalam acara tersebut. Mari mulai dari nama acara, Coffee Break, yang ditambahi dengan cogan obrolan curhat dan inspiring. Seharusnya kita bisa mengganti nama tayangan itu dengan Jeda Kopi dan kata inspiring bisa diganti dengan penuh ilham. Bukankah menyatukan kata obrolan, curhat, dan tiba-tiba inspiring menimbulkan keanehan?
Kata, Damai, dan Kekerasan
Majalah Tempo, 2 Mei 2011. Ahmad Sahidah: Pengajar Program Pascasarjana Institut Agama Islam Nurul Jadid, Paiton, Jawa Timur
Otak pelaku pengirim bom buku telah tertangkap. Sebelumnya, pihak aparat berhasil membuat gambar sketsa sang kurir, yang berwajah tirus, berpipi kurus, dan bermata sayu. Kelompok itu menyebut diri “Firaqul Maut wal Ightiyalat”. Mengapa ada kecenderungan pelaku dan nama organisasi yang menggelorakan kekerasan menggunakan bahasa Arab?
Apakah di benak para pelaku kekerasan itu sendiri nama berbahasa Indonesia atau Jawa tidak mencerminkan “Islam” sehingga alias berbahasa Arab wajib digunakan untuk menabalkan diri sebagai muslim sejati? Demikian pula, istilah-istilah teknis yang berkaitan dengan organisasi teroris menggunakan bahasa Arab, seperti ketua dengan amir, dan struktur organisasi seluruhnya menggunakan kata Arab, misalnya mantiqi untuk menggantikan kata divisi teritorial. Uniknya, di beberapa wilayah di Indonesia, nama-nama warung telekomunikasi juga berbahasa Arab, seperti Al-Hidayah dan An-Nur, sebelum akhirnya banyak yang tutup karena kalah bersaing dengan telepon seluler.
Bahasa Jiwa Bangsa
Majalah Tempo, 28 Mar 2011. Ahmad Sahidah: Pengajar Program Pascasarjana IAINJ Paiton, Jawa Timur.
UNGKAPAN di atas menunjukkan bahwa bahasa suatu bangsa mencerminkan jiwa pemakainya. Boleh dikatakan, sepanjang sejarah, pembentukan bahasa Indonesia telah melalui tiga fase penting, yaitu pengaruh India, Arab, dan terakhir Inggris. Kalau kita mencermati bahasa Melayu lama, serapan kosakata Sanskerta begitu kuat, bahkan kata sarung yang berasal dari Negeri Gangga itu telah identik dengan agama tertentu. Selanjutnya, setelah Islam masuk ke Nusantara, kosakata Arab turut memperkaya perbendaharaan dan bahkan pada waktu yang sama bahasa yang berasal dari Sanskrit telah dipahami secara semantik sebagai ungkapan dari praktik agama Islam, seperti puasa dan sembahyang.
Antara Kata Indonesia atau Serapan
Majalah Tempo, 10 Jan 2011. Ahmad Sahidah: Staf peneliti pascadoktoral pada Universitas Sains Malaysia.
BAHASA kebangsaan Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Meskipun setelah ditelusuri, bahasa ini hakikatnya menyerap begitu banyak bahasa Sanskrit, hampir 60 persen. Namun, sebagai sistem bahasa tersendiri ia telah mempunyai aturan gramatikal khas, malah juga memperkaya perbendaharaan kata dan aturan tata bahasa dari bahasa lain, seperti bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tetapi, berbeda dengan Malaysia yang banyak menyerap bahasa Arab, dalam beberapa hal, bahasa Indonesia lebih banyak mengambil kosakata bahasa Inggris. Sementara masyarakat negeri jiran menyebut tadbir, kita menyebutnya administrasi. Sementara di Malaysia mengatakan isytihar, di Indonesia memilih serapan bahasa Inggris dan menyebutnya deklarasi. Lalu, bagaimana dengan aturan penyusunan sebuah kata kerja?
Belajar Bahasa Jiran
Majalah Tempo, 4 Okt 2010. Ahmad Sahidah: Fellow Peneliti Pascadoktoral di Universitas Sains Malaysia.
Masihkah kita mau belajar dari jiran? Mungkin tidak. Persoalan yang acap kali membelit Indonesia Malaysia bisa menjadi batu sandungan. Tapi, jika kita masih ingin memberi porsi pada diskusi perbedaan bahasa Melayu Malaysia dan bahasa Indonesia, simaklah ini. Apa yang tebersit di benak kita dengan kalimat berikut ini:
Kita merasa seronok menonton rancangan bual politik di televisyen semalam.
Ujaran semacam ini akan terdengar asing di sini karena ada beberapa kata yang bisa menimbulkan kesalahpahaman karena ketaksaan makna kata, seperti seronok, rancangan, dan bual. Bukankah kalimat tersebut sangat sederhana?
Memurnikan Bahasa Kebangsaan
Majalah Tempo, 22 Mar 2010. Ahmad Sahidah. Peneliti di Universitas Sains Malaysia.
SIAPA pun yang membaca plakat di tembok koridor Busway Bank Indonesia berkaitan dengan tema lingkungan akan merasa telah turut serta menyelamatkan bumi. Coba simak kutipannya, “Dengan memilih menggunakan model transportasi massal, seperti busway, berarti kamu telah berpartisipasi dalam penanganan masalah perubahan iklim.” Di sebelah petikan ini terdapat kalimat dengan huruf yang lebih besar, “Ya, kamu telah melakukan hal yang benar.” Tapi mengapa masih banyak orang menggunakan kendaraan pribadi, jika mereka tahu itu salah? Tentu, dengan tuduhan ini mereka akan banyak berkilah.

