Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Arsip untuk kategori ‘Ahmad Sahidah

Dilema Metafora Anjing

dengan 4 komentar

Majalah Tempo, 30 Desember 2012. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia.

Sumber gambar: konsultankreatif.com. Terjemahan dari bahasa Jerman: Lalu, saya harus bilang WOW, begitu?

Tulisan Zainuddin Maidin, mantan Menteri Penerangan Malaysia, mengguncang jagad politik Indonesia dan Malaysia. Dimulai dari tuduhan mantan pemimpin redaksi koran terbesar negeri jiran, Utusan, bahwa Habibie, Presiden ke-3 RI adalah anjing imperialisme, pertikaian ini telah membuat blog Zam, panggilan akrab sang menteri, dihujani komentar para blogger Indonesia sehingga memecah rekor. Sebelum ini, komentar terhadap blog bekas menteri penerangan di zaman Abdullah Badawi yang tidak lebih dari 10 telah mencecah ratusan. Hanya saja perlu dimaklumi bahwa gambar Habibie dalam blog itu diterakan dengan The Dog of Imperialism mengandaikan kiasan bernuansa Inggris. Benarkah?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

30 Desember 2012 pada 18.05

Ditulis dalam Ahmad Sahidah, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan ,

Menguji Makna Kata Baru

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 12 Nov 2012. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia

Sumber gambar: Twitter

Sumber gambar: @OvertDictionary

Dalam kamus, para ahli bahasa menerakan makna pada sebuah lema atau leksem, yaitu satuan terkecil dari bahasa. Mereka mengurutkan sebuah kata beserta turunannya yang mempunyai makna tertentu menurut abjad, dari A sampai Z. Meskipun tidak sepenuhnya dijadikan sebagai pegangan yang umum dalam bahasa tulisan dan lisan, kamus dianggap penentu otoritatif terhadap makna kata. Tidak aneh, Kamus Cambridge menyertakan penjelasan di sampul berwarna oranye dengan Guides you to the meaning. Malah Oxford Dictionaries versi online menyelipkan slogan the world’s most trusted dictionary.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

12 November 2012 pada 21.54

Ditulis dalam Ahmad Sahidah, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Mencari Padanan Kata

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 5 Mar 2010. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia

Saya memperhatikan bahwa pengguna bahasa Indonesia lebih rajin mencari padanan kata yang diambil dari kata Inggris daripada tetangganya. One stop, misalnya, diganti dengan istilah satu atap, bukan sehenti, sebagaimana diterakan oleh pengucap atau penulis Malaysia. Masalahnya, apakah penyerapan itu mempunyai akibat pada tindakan pelayanan? Saya punya pengalaman ketika anak saya baru lahir. Dengan sigap, saya membawa pelbagai dokumen untuk mendapatkan akta kelahiran anak saya di kantor catatan sipil negeri jiran. Karena sehenti, saya menyerahkan syarat-syarat di satu titik, lalu tak lama kemudian petugas memberi tahu sijil lahir telah selesai. Saya mengambilnya tanpa membayar.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

5 Maret 2012 pada 07.11

Ditulis dalam Ahmad Sahidah, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Nasib Imbuhan Pe-an

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 21 Nov 2011. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universiti Utara Malaysia

Kemusnahan bahasa tidak terelakkan disebabkan alasan kesejarahan, demografi, atau serbuan bahasa asing. Yang terakhir kadang dibenarkan untuk menjadikan bahasa tertentu bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman melalui penyerapan kosakata baru. Belum lagi ikhtiar penerjemahan ilmu pengetahuan dan istilah teknologi modern memaksa pemakai bahasa yang baik mengerutkan dahi dalam memastikan bahasa sasaran, bahasa Indonesia, tidak semakin pupus. Yang merepotkan, penerjemahan bahasa filsafat, yang meskipun susunannya bukan sama sekali baru, lazim mengandaikan pemahaman tertentu. Hal ini menyebabkan dosen mengambil jalan mudah dengan penyerapan begitu saja, seperti istilah thing-in-itself menjadi sesuatu-dalam-dirinya.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

21 November 2011 pada 02.57

Ditulis dalam Ahmad Sahidah, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Anulir, Konfrontir, Legalisir

dengan 3 komentar

Majalah Tempo, 5 Sep 2011. Ahmad Sahidah, Dosen filsafat dan etika di Universitas Utara Malaysia

Kemelut surat palsu antara Komisi Pemilihan Umum dan Mahkamah Konstitusi menimbulkan pertanyaan lain, di luar masalah legal. Di tengah perseteruan ini, terdapat dua kata yang sering muncul, yakni “anulir” dan “konfrontir”. Ada sebuah keputusan yang “dianulir” sehingga menimbulkan silang sengketa. Demikian pula, kata “konfrontir” berhamburan di media elektronik.

Kita memahami maksud dua kata di atas dalam sebuah konteks kalimat. Namun, jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat, 2008), tampak ada kejanggalan, karena kata “anulir” dianggap lema yang baku, sementara “konfrontir” diikuti tanda panah (→), yang berarti harus diganti dengan kata yang ditunjuk, yaitu “konfrontasi”. Kata “konfrontasi” juga digunakan oleh banyak narasumber, yang menunjukkan bahwa keduanya telah dikenal sebagai kata yang bermakna sama. Kalau memang kata “konfrontasi” dianggap lebih tepat, mengapa masih banyak orang berdegil menggunakan kata “konfrontir”?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

5 September 2011 pada 18.37

Ditulis dalam Ahmad Sahidah, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 353 pengikut lainnya.