Arsip untuk kategori ‘Bambang Bujono’
Perlukah Kitab Vortaro?
Majalah Tempo, 3 Mei 2010. Bambang Bujono: Wartawan.

RASANYA tak ada bahasa yang tak mengandung kata asing, sedikit atau banyak. Kadang memang terasa merisikan, setidaknya membuat kita bertanya, apakah kata asing tersebut tiada padanannya, atau si pemakai malas mencari, atau pemakai merasa lebih pintar dengan kata asing itu. Maka Ahmad Sahidah dalam rubrik “Bahasa!” majalah ini terheran-heran bahwa password lebih licin meluncur dari lidah seorang pembawa acara daripada kata sandi.
Sesungguhnya masalah ini sudah disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia I, 1938, di Solo, 10 tahun sesudah Sumpah Pemuda dikumandangkan. Ketika itu seorang intelektual muda bernama Amir Sjarifuddin (kelak menjadi Perdana Menteri RI, 1947-1948) pagi-pagi sudah mengingatkan bahwa “segala bahasa… akan menghadapi soal menyesuaikan kata dan faham asing ke bahasa sendiri.”
Guru Bangsa
Majalah Tempo, 15 Feb 2010. Bambang Bujono, Wartawan.
Dari mana datangnya ”guru bangsa”? Sebelum Abdurrahman Wahid disebut-sebut sebagai ”guru bangsa” belakangan ini—setelah ia meninggalkan kita—istilah ini ramai digunakan ketika partai-partai menyiapkan calon presiden dan wakil presiden menjelang pemilihan presiden 2004. Salah satu kandidat calon presiden, Nurcholish Madjid, disebut-sebut sebagai ”guru bangsa”, dan muncul pendapat, sayang kalau Cak Nur menjadi presiden, karena Indonesia akan kehilangan seorang ”guru bangsa” yang dibutuhkan. Akhirnya Nurcholish memang mengundurkan diri, bukan karena ia ingin menjadi ”guru bangsa”, melainkan karena pemilihan calon presiden kala itu menurut cendekiawan ini memerlukan dana besar dan ia tak memilikinya.
Pembaca Terakhir
Majalah Tempo 10 Agu 2009. Bambang Bujono. Wartawan.
Di antara Anda, pembaca, dan majalah ini ada seorang penjaga bahasa. Ia resmi disebut redaktur bahasa. Dialah orang terakhir yang membaca majalah ini sebelum sampai ke Anda.
Seorang penulis boleh saja menurunkan artikel berita yang sangat menarik. Seorang redaktur pelaksana silakan saja menyunting naskah seorang penulis dengan piawai. Namun semua itu bisa tak berarti bilamana dalam naskah terdapat kesalahan data, fakta, ejaan nama, atau ada ketidakkonsistenan menyebut peristiwa, misalnya. Seorang redak tur bahasa diharapkan menengarai itu semua, memperbaikinya, atau melaporkannya kepada redaktur atau redaktur pelaksana.
Bahasa yang Melindungi
Majalah Tempo, 10 Nov 2008. Bambang Bujono: Wartawan.
EUFEMISME dan sifat arbitrer pada bahasa memungkinkan pembentukan bahasa “baru”. Dua hal inilah yang memungkinkan terbentuknya bahasa prokem, misalnya, bahasa yang konon digunakan oleh para preman sebagai bahasa rahasia di antara mereka. Disebut rahasia karena bahasa itu mirip kode-kode yang digunakan di antara mereka. Bahasa ini digunakan, antara lain, untuk memberikan informasi bila ada sesuatu yang membahayakan mereka. Varian dari bahasa prokem adalah bahasa gaul, yang digunakan oleh, biasanya, para remaja. Para remaja menggunakan bahasa ini terutama bukan untuk menghindari bahaya, melainkan lebih untuk gagah-gagahan, lebih untuk menyatakan identitas bahwa mereka berbeda dengan, misalnya, kaum dewasa. Misalnya, bodrex (bodoh), ciptadent (berciuman).

