Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Arsip untuk kategori ‘Bandung Mawardi

Bahasa, Politik, dan Hoesni Thamrin

dengan 2 komentar

Majalah Tempo, 3 Feb 2012. Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo.

Rezim Orde Lama, melalui penerbitan buku Hari-hari Bersedjarah dan Peristiwa-peristiwa Penting (1963), mencantumkan penjelasan bahwa 11 Januari adalah Hari Peringatan M.H. Thamrin. Kita mungkin mengenal Mohammad Hoesni Thamrin (16 Februari 1894-11 Januari 1941) berkaitan dengan nama jalan di Jakarta atau memori kepahlawanan. Penghormatan terhadap tokoh memang mengesankan ingatan kesejarahan. Kita sering mengenal nama-nama tokoh tapi jarang menelisik peran tokoh tersebut di masa silam.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

3 Februari 2013 pada 21.57

Ditulis dalam Bandung Mawardi, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Bahasa dan Indonesia Baru

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 23 Des 2012. Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo.

Sumber gambar: amartapura.com

Ingatan atas sejarah bahasa Indonesia adalah penghormatan kerja para pengasuh adab dan buku di masa lalu. Bahasa menentukan adab. Bahasa menjiwai Indonesia. Para pengasuh adab melakoni misi membesarkan dan menggerakkan bahasa Indonesia dengan suguhan buku-buku impresif. Tanggung jawab sebagai pengasuh adab menjelaskan hasrat pembentukan dan pengembangan bahasa Indonesia.

Sutan Takdir Alisjahbana menulis buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1949) untuk membuktikan optimisme menguatkan adab berpijak ke bahasa. Buku ini mengandung maksud pemodernan bahasa Indonesia tanpa meninggalkan hakikat asali. Sutan Takdir Alisjahbana memang berhasrat menjadikan bahasa Indonesia sebagai modal merengkuh modernitas. Bahasa mesti mewartakan gagasan dan amalan kemodernan di Indonesia. Agenda mengasuh bahasa berarti mengarah ke pembaruan atau perubahan-perubahan konstruktif. Sutan Takdir Alisjahbana menjelaskan pamrih mengajukan buku itu ke publik: “… tatabahasa ini berusaha sungguh-sungguh membuat orientasi baru tentang pemandangan bahasa Indonesia seluruhnja.” Kita mengenang buku itu lanjutan gairah adab mengacu ke hajatan Poedjangga Baroe di masa 1930-an.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

23 Desember 2012 pada 12.29

Ditulis dalam Bandung Mawardi, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Nostalgia ‘Ratu Dunia’

dengan 2 komentar

Majalah Tempo, 9 Jan 2012. Bandung Mawardi, Esais dan Penyair.

Selisik sejarah bahasa sering melahirkan pertanyaan. Sejarah memang rimbun misteri. Saya mengurusi misteri ini dengan keinginan wajar: mengerti dan memiliki. Saya ingin mengerti sejarah agar tidak menanggung misteri sepanjang hidup. Saya ingin memiliki sejarah sebagai pengalaman untuk merawat takjub.

Saya membuka kembali koleksi buku-buku lawas di kardus-kardus kumal. Mata ini memandang buku berjudul Falsafah Ratu Dunia (1949) garapan Adi Negoro. Buku setebal 160 halaman ini menguraikan banyak hal. Adi Negoro menjelaskan melalui anak judul: “Uraian tentang pokok-pangkal kekuasaannja jaitu anggapan umum dan dari hal tiang-tengah keradjaannja jakni demokrasi serta alat-alat pemerentahannja seperti kepandaian mengarang dan berpidato, achirnja tudjuan negaranja jakni kebudajaan jang asli dan pembelaan harta-warga jang tak ternilai atau hak azazi manusia merdeka dalam negara jang merdeka dan berdaulat.” Kalimat panjang ini menggoda pembaca untuk menikmati halaman demi halaman sampai khatam.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

9 Januari 2012 pada 11.27

Ditulis dalam Bandung Mawardi, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

‘Bumiputera’ dan Orang Indonesia

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 7 Nov 2011. Bandung Mawardi, Esais dan penyair

Foto: Wikimedia Commons

Mohammad Hatta, seorang intelektual tenar, menyuguhkan esai bertajuk “Soal Bahasa Indonesia” di majalah Pemandangan (Nomor 239/240, 26-27 Oktober 1941). Pada 1930-an dan 1940-an, bahasa Indonesia adalah soal darurat dalam dunia jurnalistik dan politik. Bahasa Indonesia memang mulai hidup, tapi riuh dengan persoalan-persoalan pelik tentang linguistik, etik, estetik, dan politik. Keributan pemakaian istilah di pelbagai surat kabar memunculkan kecaman, apologi, dan perdebatan. Para ahli bahasa menamai bahasa Indonesia di sekian surat kabar kala itu sebagai bahasa sarap alias kotoran.

Celaan itu bisa kita acukan ke Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, 1938. Kongres dipicu usul Raden Mas Soedardjo Tjokrosisworo, wartawan di harian Soeara Oemoem, Surabaya. Sosok ini rajin membuat istilah baru dalam bahasa Indonesia untuk menandingi pemakaian bahasa di pelbagai surat kabar kalangan Cina. Kongres dilangsungkan dengan sokongan para jurnalis, sastrawan, dan guru.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

7 November 2011 pada 21.38

Ditulis dalam Bandung Mawardi, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 351 pengikut lainnya.