Arsip untuk kategori ‘Berthold Damshauser’
Bahasa Indonesia dan Puisi
Majalah Tempo, 18 Nov 2012. Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Bonn, Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak

Sumber gambar: dumais.us
Sudah saatnya saya melapor lagi tentang sebuah diskusi pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn. Bayangkan! Di antara mahasiswa saya ada yang tertarik pada puisi Indonesia! Bahkan ada yang mencoba menerjemahkannya ke bahasa Jerman. Namun upaya itu mengakibatkan mereka frustrasi.
“Pak, susah sekali memahami teks berbagai puisi Indonesia. Kami bingung, lalu bertanya kepada teman kami, orang Indonesia, apa kiranya maksud kalimat-kalimat tertentu. Jawaban yang kami terima belum jelas juga karena teman-teman Indonesia memberi keterangan yang sangat berbeda, bahkan bertentangan.”
“Lho,” jawab saya, “puisi memang memungkinkan banyak tafsiran.”
Bahasa Indonesia sebagai Cermin?
Majalah Tempo, 20 Feb 2012. Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia, Universitas Bonn; Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak
Suatu hari pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, kami berdiskusi tentang penerjemahan. Saya memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk memahami dan menerjemahkan teks berita di sebuah harian Indonesia yang bukan saja mengandung kesalahan tata bahasa, tapi ditulis demikian kacau alias mengabaikan logika kalimat. Setelah 10 menit, para mahasiswa begitu putus asa dan menyatakan mogok.
“Pak, teks ini tak dapat kami terima. Sajikan dong teks yang ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau tidak ada, kami mohon kuliah ini digunakan untuk membahas tema lain. Bukankah telah lama Bapak berjanji menyampaikan renungan Bapak tentang perkembangan bangsa Indonesia?“
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Dunia
Majalah Tempo, 14 Nov 2011. Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Bonn, Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak
Ini laporan tentang sebuah diskusi mengenai “Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Dunia”. Diskusi itu melibatkan mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, dan dosennya (saya sendiri).
Pada salah satu kuliah bagi mahasiswa tingkat akhir program master, saya berupaya menanamkan rasa bangga di hati mahasiswa yang sudah lima tahun dengan tekun dan tabah mempelajari bahasa Indonesia: “Tak lama lagi, Anda akan tamat. Perlu kiranya Anda ketahui bahwa bahasa yang kini cukup Anda kuasai berpeluang besar menjadi ‘bahasa dunia’, ‘bahasa internasional’, atau ‘bahasa peradaban dunia’. Tentang itu telah banyak tulisan di berbagai media Indonesia.”
Bahasa Pancasila
Majalah Tempo, 8 Agu 2011. Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Bonn, Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak
Ini sebuah cerita tentang bahasa Indonesia yang digunakan dalam teks Pancasila. Diskusi ini terjadi di kelas bahasa Indonesia, semester dua, Universitas Bonn, Jerman.
Pada saat di ruang kuliah ketika kami membahas imbuhan ke-an, saya suka menggunakan teks Pancasila sebagai bahan ajar. Mahasiswa mendekati teks Pancasila tanpa terbebani pengetahuan kontekstual tentang “makna” atau “pesan” kelima sila itu. Maka mereka berupaya memahami Pancasila secara filologis: memaknakan kata dan kalimat dengan berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan akal sehat.

