Arsip untuk kategori ‘Chairil Anwar’
Hemat Perlu Cermat
Lampung Post, 14 Mar 2012. Chairil Anwar, Alumnus FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Lampung
Jika dalam artikel-artikel sebelumnya banyak dicermati tentang pemborosan dan kemubaziran kata yang seharusnya dihindari, tulisan kali ini akan membahas tentang penghematan satuan bahasa yang justru harus dihindari karena tidak sesuai dengan aturan kebahasaan.
Penghematan dilakukan untuk menciptakan tuturan atau tulisan yang efektif. Namun, kita sebagai pemakai bahasa jangan terlalu over dalam menyingkat, bahkan menghilangkan suatu unsur kebahasaan. Alhasil, alih-alih ingin menciptakan komunikasi yang efektif, bahasa yang digunakan justru meyimpang dari kaidah kebahasaan.
Tuturan atau satuan bahasa yang lazim digunakan oleh pemakai bahasa terkait dengan penyingkatan yang keliru di antaranya pada kata “pom bensin”, “promo”, “rinci”, “optimis”, “bra”, “relawan”, dan lain-lain.
Singkatan dan Kemubaziran
Lampung Post, 16 Nov 2011. Chairil Anwar, Alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unila
Berbicara mengenai bahasa efektif, tentu pemakai bahasa harus semaksimal mungkin meminimalkan penggunaan kata-kata yang tidak perlu untuk menghindari kemubaziran. Kemubaziran terjadi karena banyak hal, di antaranya pengulangan kata-kata yang semakna (berdasarkan konteks) seperti kalimat berikut.
“Rencananya, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dalam waktu dekat akan segera memberikan perangkat pembuatan e-KTP kepada seluruh kecamatan yang ada di Kota Bandar Lampung.”
Padahal, kalimat itu dapat lebih disingkat:
“Rencananya, Disdukcapil segera memberi perangkat pembuatan e-KTP kepada seluruh kecamatan di Bandar Lampung.”
Kecermatan Berbahasa dalam Tataran Terkecil
Lampung Post, 19 Okt 2011. Chairil Anwar, Pencinta Bahasa
Tataran berbahasa—mulai dari tingkatan fonem sampai wacana—tentu tidak terlepas dari kesalahan. Jadi, tidak menutup kemungkinan jika kita membaca sebuah wacana berupa artikel, terdapat satu-dua kekeliruan.
Artikel tersusun dari gagasan-gagasan yang kompleks dan saling terkait, wajarlah jika terdapat sedikit ketidakcermatan, seperti dari segi keefektifan kalimat atau kepaduan paragraf. Namun, bagaimana dengan kesalahan yang cukup mendasar, apakah kita tetap menoleransinya?
Di antara contoh kesalahan kecil itu bahkan terjadi pada tataran fonem—dalam kasus ini bisa dikatakan huruf—satuan bahasa terkecil yang tidak menuntut pemahaman mendalam untuk menentukan mana yang benar.
Problematika Penggunaan Merek Produk
Lampung Post, 28 Sep 2011. Chairil Anwar, S.Pd., Alumnus S-1 FKIP Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unila
Salah satu sifat sebuah bahasa adalah mengalami perkembangan. Hal ini terjadi karena keterbukaan pemakai bahasa terhadap faktor dari luar, misalnya terbuka terhadap bahasa asing yang pada akhirnya kerap diselipkan dalam pemakaian bahasa asalnya.
Terkait dengan itu, ternyata penyelipan unsur bahasa dalam bahasa kita tidak hanya berasal dari bahasa asing. Kenyataannya, dalam masyarakat bahasa juga ditemukan penggunaan kata-kata yang mulanya berasal dari sebuah merek produk yang kemudian merek produk tersebut lebih cenderung digunakan.
Problematika Imbuhan ‘Ter’
Lampung Post, 3 Agu 2011. Chairil Anwar, Alumnus S-1 FKIP Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung
Saat berkomunikasi, kita sebagai pemakai bahasa Indonesia tentu dituntut untuk menerapkan kaidah kebahasaan dengan cermat. Namun, dalam penggunaannya sehari-hari, tidak sedikit ditemukan penyimpangan yang dilakukan masyarakat bahasa terhadap kaidah yang seharusnya ditaati. Salah satunya adalah ketidakcermatan dalam menggunakan imbuhan “ter”.
Sesuai kaidah, salah satu fungsi awalan “ter” adalah menyatakan “ketidaksengajaan” di samping menyatakan “paling” serpeti kata terbaik dan tercantik, lalu menyatakan “dapat di (kata dasar)” seperti kata tercapai dan terjangkau.

