Arsip untuk kategori ‘F. Rahardi’
Sewa dan Penumpang
KOMPAS, 10 Des 2010. F Rahardi: Sastrawan.
Rubrik ini pekan lalu berisi ”Matinya Penumpang”. Dalam tulisan itu Mulyo Sunyoto membuat hipotesis bahwa para pengemudi dan kenek bus pengangkutan umum di Jakarta menggunakan kata sewa, bukan penumpang, karena numpang berkonotasi gratisan, sementara sewa berkonotasi membayar. Hipotesis Mulyo ini salah. Sewa dalam konteks pengangkutan umum di Jakarta bukan berasal dari sewa bahasa Indonesia ’pemakaian sesuatu dengan membayar’, melainkan sewa dialek Medan dari bahasa Batak Toba yang memang berarti ’penumpang’.
Juru Kunci
KOMPAS, 12 Nov 2010. F Rahardi: Penyair.
Pada 26 Oktober 2010 Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah-DI Yogyakarta kembali meletus. Mbah Maridjan Sang Juru Kunci ikut jadi korban letusan. Frasa juru kunci kembali marak di media massa. Frasa ini mulai memasyarakat pada erupsi Merapi 2006. Ketika itu Mbah Maridjan menolak ikut mengungsi dan tetap bertahan di kampungnya. Kampung Kaliadem di sebelah timur Kinahrejo hancur diterjang awan panas. Sementara itu, Kinahrejo kampung Mbah Maridjan selamat. Mbah Maridjan lalu menjadi idola dan bintang iklan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, juru kunci adalah penjaga dan pengurus tempat keramat, makam, dan sebagainya. Dalam entri KBBI, kuncen diartikan ’juru kunci’. Juru kunci dalam KBBI diadopsi dari Baoesastra Djawa WJS Poerwadarminta, djoeroe koentji ’wong sing pinatah ngrekso pakoeboeran oetawa papan sing kramat’.
Dari Mabes Cilangkap
KOMPAS, 3 Sep 2010. F Rahardi: Sastrawan.
Saban menelepon ke sebuah lembaga, terutama lembaga besar, saya selalu mendapat pertanyaan: ”Dari mana?” Saya jawab saja dengan ”F Rahardi”, bukan lokasi saya menelepon, meski saya tahu yang dibutuhkannya adalah nama lembaga saya. Pernah suatu kali saya akan bertemu dengan Sapardi Djoko Damono di kantor Pascasarjana UI. Pertanyaan penjaga kantor di sana: ”Dari mana, Pak?” Saya menjawab sesopan mungkin: ”Dari rumah!” Petugas itu kaget. Untuk menutupi kekagetannya, dia bertanya lebih lanjut: ”Rumahnya di mana, Pak?” Saya jawab: ”Di Cimanggis sini.”
Nonton Bareng
KOMPAS, 2 Jul 2010. F Rahardi: Sastrawan.
Frasa nonton bareng sangat populer karena selama Juni dan Juli ini perhatian orang di seluruh jagat sedang tertuju ke pertandingan sepak bola memperebutkan Piala Dunia. Pertandingan itu berlangsung di Afrika Selatan dan disiarkan langsung oleh stasiun televisi. Maka logikanya, orang di seluruh jagat memang bisa nonton bareng ’secara serentak, bersamaan’.
Tampaknya yang dimaksudkan dengan nonton bareng bukan seperti itu. Nonton bareng adalah datang di satu tempat: hotel, restoran, mal, atau tempat umum lain, termasuk lapangan RT/RW. Di sana ada layar besar, lalu acara siaran langsung pertandingan sepak bola memperebutkan Piala Dunia itu mereka tonton beramai-ramai. Istilah yang tepat untuk nonton bareng yang sedang populer itu adalah nonton beramai-ramai sebab kalau sekadar bareng, semua siaran langsung memang pasti ditonton secara bareng (secara berbarengan, secara serentak) meski dari tempat berbeda-beda.

