Arsip untuk kategori ‘Fadhilatun Hayatunnufus’
Juara dan Pemenang
Lampung Post, 4 Jan 2012. Fadhilatun Hayatunnufus, Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung
KITA pasti pernah menemukan kata juara dan pemenang dalam kalimat-kalimat di media massa ataupun yang diucapkan seseorang dalam suatu pertandingan. Coba Anda perhatikan contoh kasus dalam dua kalimat berikut. (1) Pada Pemilihan Putri Indonesia (PPI) ke-16 tahun ini, ITB boleh berbangga karena pemenang PPI 2011 diraih oleh salah satu mahasiswanya. (2) Setelah melakukan penghitungan nilai dan persentase jumlah SMS yang masuk ke tiga finalis Big Brother Indonesia (BBI), akhirnya finalis wanita berwajah bule, Renata atau yang akrab dipanggil Rene, sebagai juara tiga, juara kedua diraih Derek, sedangkan juara pertama yakni Alan.
Tampaknya tidak ada masalah dengan penggunaan kata pemenang dan kata juara dalam kedua kalimat tersebut. Akan tetapi, apakah kata juara dan pemenang memiliki makna yang sama dalam penggunaannya?
Ternyata, kata juara dan pemenang memiliki makna berbeda sehingga penggunaannya dalam kalimat juga perlu diperhatikan.
Bahasa Iklan
Lampung Post, 7 Sep 2011. Fadhilatun Hayatunnufus, Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung
Bahasa iklan bersifat persuasif, selalu berusaha menggugah emosi pembaca atau pendengar. Tujuannya agar yang menjadi sasaran iklan (konsumen) melakukan sesuatu atau bertindak sesuai dengan amanat iklan tersebut. Oleh karena itu, dalam bahasa iklan, kata-kata yang digunakan dalam bentuk rayuan, anjuran atau ajakan yang dapat menimbulkan rasa penasaran. Kemasan produknya dibuat menarik dan ditempatkan secara tepat, niscaya iklan itu akan berhasil memengaruhi pembaca atau pendengarnya.
Terkadang bahasa iklan yang digunakan tidak bernalar atau tidak menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Cobalah Anda simak bahasa iklan di televisi, media cetak, dan sebagainya. Dalam iklan di televisi saya pernah mendengar kalimat yang dikatakan oleh model iklan sebuah produk obat tetes mata. Model tersebut mengatakan “Mata merah hilang seketika”, dengan kata-kata itu saya berpikir masa sih gara-gara memakai obat tetes mata kemudian mata yang berwarna merah bisa hilang, berarti nanti tidak bisa melihat lagi karena matanya hilang dan pasti tidak ada konsumen yang membeli produk obat tersebut. Akan tetapi, jika yang dimaksudkan iklan tersebut adalah sakit mata sembuh dengan cepat atau sakit mata hilang seketika, kalimat iklan seharusnya diubah menjadi: “Sakit mata hilang seketika”.
Anarkis dan Hipnotis
Lampung Post, 8 Jun 2011. Fadhilatun Hayatunnufus, Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung
DALAM berbahasa, kata anarkis tampaknya lebih banyak digunakan daripada kata anarkistis. Kata anarkis sering diartikan sebagai sifat anarki, misalnya dalam kalimat: Para demonstran diharapkan tidak melakukan tindakan yang anarkis. Yang sebenarnya, kata anarkis (anarchist) berkelas kata nomina dan bermakna “penganjur (penganut) paham anarkisme” atau “orang yang melakukan tindakan anarki” seperti yang dijelaskan dalam Buku Praktis Bahasa Indonesia.
Mati Lampu atau Mati Listrik
Lampung Post, 2 Maret 2011. Fadhilatun Hayatunnufus: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan penggunaan kata mati lampu dan mati listrik. Banyak orang yang mengatakan mati lampu jika PLN memadamkan listrik dan ada pula yang mengatakan mati listrik. Akan tetapi, selama ini kata yang sering saya dengar adalah mati lampu. Apakah mati lampu itu, artinya semua lampu dimatikan oleh PLN sama halnya dengan mati listrik.
Penggunaan kedua kata itu menyebabkan saya mempertanyakan bentuk manakah yang benar dari kedua kata itu atau apakah kedua kata tersebut sama-sama boleh digunakan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata lampu adalah alat untuk menerangi, contohnya dalam kalimat: Halaman rumah berdinding bambu itu kelihatan agak gelap karena lampunya mati.
Sukarelawan atau Relawan?
Lampung Post, 1 Des 2010. Fadhilatun Hayatunnufus: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.
Akhir-akhir ini wajah media massa dan elektronik dihiasi dengan berita tentang para pengungsi korban tsunami di Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi serta bantuan untuk mereka yang tertimpa musibah tersebut. Salah satu berita yang saya baca di media massa adalah sebagai berikut: “Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla meminta semua pihak tidak sembarangan mengirimkan relawan ke daerah bencana”.
Jayus
Lampung Post, 6 Okt 2010. Fadhilatun Hayatunnufus: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.
Seiring perkembangan zaman, banyak kosakata atau istilah-istilah baru yang bermunculan dalam masyarakat khususnya dalam pergaulan para remaja ABG (anak baru gede) yang menyebut diri mereka sebagai anak gaul. Para remaja terkadang banyak menciptakan kosakata atau istilah-istilah baru yang biasanya disebut sebagai bahasa gaul. Kosakata atau istilah-istilah baru itu umumnya disosialisasikan oleh remaja.
Istilah itu mungkin muncul dari salah satu di antara mereka kemudian digunakan oleh teman-temannya dan selanjutnya menyebar ke mana saja. Kata itu menjadi semakin populer setelah digunakan oleh selebritas yang tampil di televisi dan juga ditulis dalam media cetak seperti koran, majalah, dan tabloid. Selebritas di televisi ditonton dan media cetaknya dibaca oleh para remaja. Mereka menggunakan sendiri serta menularkan ke teman-temannya tetapi tak jarang para orang tua dapat memahami arti kata bahasa gaul yang digunakan para remaja atau bahkan para orang tua juga menggunakan bahasa gaul tersebut.
Saling Ketergantungan
Lampung Post, 23 Jun 2010. Fadhilatun Hayatunnufus, S.Pd: Staf Pengkajian Kantor Bahasa Provinsi Lampung.
“DITANYA soal masih perhatiannya Nana pada Imam yang notebene mantan suami, Nana mengatakan bahwa sebetulnya mereka saling ketergantungan. Namun karena keadaan Imam yang tidak bisa dikendalikan, dirinya memutuskan pisah.”
Begitulah kata-kata yang diucapkan selebritas kita Nana Mardiana yang saya dengar di sebuah acara televisi. Salah satu tuturan yang diucapkan oleh selebritas tersebut adalah kata saling ketergantungan. Sepintas tidak ada yang salah dengan kata saling ketergantungan, tetapi coba kita perhatikan kembali apakah kata saling ketergantungan merupakan sebuah tuturan yang benar untuk diucapkan.
Remaja dan Bahasa Gaul
Lampung Post, 19 Mei 2010. Fadhilatun Hayatunnufus: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.
Kosakata remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan dengan topik-topik yang lebih kompleks. Remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan singkatan, akronim, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka.
Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan istilah bahasa gaul. Di samping bukan merupakan bahasa yang baku, kata-kata dan istilah dari bahasa gaul ini terkadang hanya dimengerti oleh para remaja atau mereka yang kerap menggunakannya sehingga terkadang orang dewasa tidak memahami bahasa apa yang dikatakan oleh para remaja tersebut.
Pengangguran
Lampung Post, 7 Apr 2010. Fadhilatun Hayatunnufus, S.Pd.: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung.
“Bagaimana dengan nasib saya yang sampai sekarang masih menjadi seorang pengangguran, rasanya sulit sekali mendapat pekerjaan.”
Itulah kata-kata yang dikeluhkan oleh teman saya ketika kami bertemu pada acara reuni SMA.
Bentuk kata pengangguran sering saya dengar dari teman-teman yang belum mendapatkan pekerjaan dan menyebut dirinya sebagai seorang pengangguran. Karena di dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari, banyak orang mengartikan bentuk kata pengangguran dengan makna orang yang menganggur atau orang yang tidak mempunyai pekerjaan. Kata pengangguran juga sering muncul di media massa.

