Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Arsip untuk kategori ‘

Penjajah atau Pembangun?

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 12 Sep 2011. Husein Ja’far al-Hadar, Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta

Siapakah penjajah? Dalam bahasa Arab, penjajah disebut dengan istilah isti’mar, yang berasal dari asal kata amara-ya’muru, yang berarti membangun. Jika dikembalikan pada arti kata asalnya itu, isti’mar seharusnya berarti pembangun atau orang yang membangun. Al-Quran pun dalam Surat Hud ayat 61 menggunakan kata itu untuk menyebut orang-orang yang membangun atau yang memakmurkan. Namun, entah kenapa kemudian kata itu tersulap menjadi bermakna penjajah. Tidak kurang dari Imam Khomeini (pemimpin Revolusi Islam Iran 1979) dan Ali Syari’ati (filsuf sekaligus sosiolog besar Iran) yang mengkritik penggunaan kata isti’mar untuk menyebut penjajah. Terlebih jika kata isti’mar itu digunakan untuk menyebut rezim imperialis Israel. Kata itu bukan hanya tidak tepat, tapi juga akan menyisakan kesan yang paradoks: kata yang sangat positif dipakai untuk memaknai pelaku tindakan yang sangat negatif.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

12 September 2011 pada 18.50

Ditulis dalam Husein Ja’far al-Hadar, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Diam

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 4 Jul 2011. Husein Ja’far al-Hadar, Direktur Lembaga Study of Philosophy, Jakarta

“Mengapa Tuhan diam melihat semua kemurkaan di dunia (termasuk disalibnya Yesus)?” Itu pertanyaan dasar Shusaku Endo, novelis Katolik terkenal asal Jepang, dalam Chinmoku (1969), yang versi Indonesianya berjudul Hening (2008). Pertanyaan itu sebenarnya bernada teologis. Namun tulisan ini tak akan membahas problem teodise yang dibahas Endo itu. Saya tertarik menjadikannya sebagai pengantar untuk menunjukkan salah satu problem dalam bahasa, yaitu “diam”, yang kemudian (kerap) menimbulkan sederet problem rumit dalam berbagai disiplin, termasuk teologi dan agama.

Posisi bahasa memang sangat penting dan mendasar dalam proses kemunculan dan perjalanan setiap agama. Sebab, dengan bahasa, (wahyu) agama disampaikan Tuhan kepada manusia. Dan dengan kajian atasnya pula kita dapat melakukan dinamika, kontekstualisasi, dan “penyegaran” agama melalui hermeneutika sebagai salah satu metode ijtihad.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

4 Juli 2011 pada 11.41

Ditulis dalam Husein Ja’far al-Hadar, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 7 Mar 2011. Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta.

DALAM pengantarnya untuk buku Our Philosophy (terjemahan dari Falsafatuna) karya Baqir Shadr yang terbit pada 1987, Seyyed Hussein Nashr menyatakan sesuatu yang penting tentang bahasa. Ia menulis bahwa jika kita melihat kelemahan-kelemahan dalam menginterpretasi dan memahami sumber-sumber dari Barat, hal itu karena lemah dan tak sempurnanya terjemahan-terjemahan teks filsafat Barat ke bahasa Arab dan Persia yang diakses oleh Baqir Shadr.

Apa yang diungkapkan Nashr merupakan salah satu problem dasar (yaitu problem penerjemahan) yang menjadikan diskursus dalam ranah filsafat, khususnya filsafat Islam vis a vis Barat, relatif terganggu. Gangguan tersebut disebabkan oleh kesalahan pemahaman pembaca saat membaca sebuah teks filsafat terjemahan, bukan bahasa asli dari teks tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam memahami maksud sebuah teks yang telah diterjemahkan. Karena kesalahpahaman ini, tanggapan atau kritik yang dilayangkan terhadap pemikiran filsafat kerap tidak tepat, sehingga diskursus dalam ranah filsafat menjadi timpang.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

7 Maret 2011 pada 18.45

Ditulis dalam Husein Ja’far al-Hadar, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.