“Summit”

Pikiran Rakyat, 13 Jun 2011. Imam Jahrudin Priyanto

KECINTAAN terhadap bahasa Indonesia harus terus ditingkatkan. Apalagi di tengah merebaknya penggunaan bahasa asing belakangan ini. Pada tingkat kecintaan yang lebih tinggi, bisa saja ada yang mempertanyakan mengapa harus menggunakan bentuk serapan padahal kata yang dimaksud ada dalam khazanah (unsur asli) bahasa Indonesia.

Saya merasa bangga ketika ada wartawan muda yang mempertanyakan mengapa banyak wartawan lebih senang menggunakan kata destinasi, selebrasi, opsi, ekspektasi, ataupun disparitas. Padahal bahasa Indonesia memiliki kata tujuan, perayaan, pilihan, harapan, ataupun kesenjangan.

Baca lebih lanjut

Pa-ra-hyang-an

Pikiran Rakyat, 25 Apr 2011. Imam Jahrudin Priyanto

SEBAGAI pengguna bahasa, sering kali kita tidak terlalu peduli terhadap asal usul kata yang kita gunakan. Misalnya parahyangan, priangan, raden, raka, rama, rayi, ratu, ataupun rahayu.

Sekarang kita kaji dulu kata parahyangan. Kata ini dipakai sebagai nama universitas swasta terkemuka di Kota Bandung dan (pernah) juga menjadi nama kereta api yang teramat populer pada rute Bandung-Jakarta atau sebaliknya. Bagaimana kata ini terbentuk?

Baca lebih lanjut

Kerancuan di Jalan

Pikiran Rakyat, 28 Jan 2011. Imam Jahrudin Priyanto: Redaktur Bahasa Pikiran Rakyat.

SEBAGAI pencinta bahasa, khususnya bahasa Indonesia, saya sering tersenyum bila membaca tulisan yang aneh-aneh, termasuk saat berkendaraan. Namun, di sisi lain, kadang-kadang muncul juga perasaan prihatin, mengapa sebagian dari kita masih juga salah menulis bahasa sendiri. Apalagi di ruang publik.

Ada pengumuman di jembatan penyeberangan jalan tol yang berbunyi ”Mohon Maaf Perjalanan Terganggu, Ada Pek. Perkerasan Jalan”. Hal yang menarik perhatian adalah klausa terakhir, khususnya frasa Pek. Perkerasan yang mungkin merupakan penyingkatan dari pekerjaan perkerasan. Yang luar biasa, kedua kata ini keliru, terutama bila dikaitkan dengan makna yang ingin ditampilkan oleh instansi yang memasang pengumuman tersebut. Kata pekerjaan dalam konteks itu sudah pasti rancu karena seharusnya pengerjaan. Sekarang bagaimana dengan kata perkerasan? Tentu saja kata ini juga keliru karena pasti didahului kata berkeras (perihal sifat berkeras). Apakah jalan punya sikap berkeras (atau bersikeras) seperti manusia? Ah ada-ada saja. Lalu, kata apa yang tepat? Jawabnya, pengerasan. Kata bentukan ini pasti didahului kata mengeraskan, dan tentu saja frasa mengeraskan jalan itu sangat logis.

Baca lebih lanjut

Pemelajaran Politik

Pikiran Rakyat, 7 Jan 2010. Imam Jahrudin Priyanto: Redaktur Bahasa Pikiran Rakyat.

ADA rekan yang bertanya tentang judul “Pemelajaran Politik” pada rubrik Apa dan Siapa Pikiran Rakyat, 9 Desember 2010 lalu. Menurut dia, bukankah seharusnya (biasanya) “Pembelajaran Politik”? Saya balik bertanya, apakah bentuk yang disebut terakhir itu sudah benar atau malah tergolong salah kaprah?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita pelajari makna kata pembelajaran dan pemelajaran. Kedua kata berimbuhan ini tentu saja benar dan baku, tetapi pastilah artinya berbeda. Kata pembelajaran tentu ada kaitannya dengan kata membelajarkan.

Baca lebih lanjut

Relawan & Sukarelawan

Pikiran Rakyat, 30 Juni 2010. Imam Jahrudin Priyanto: Redaktur Bahasa Pikiran Rakyat.

KETIKA menonton acara televisi, saya tiba-tiba terperanjat saat mendengarkan kata-kata dalam tayangan iklan, “Mata merah, hilang dalam sekejap.” Benarkah obat itu bisa membuat mata Anda hilang? Apa sebenarnya yang dihilangkan oleh obat itu? Tentu saja merahnya, bukan matanya. Namun, penggunaan kata-kata dalam iklan itu dirasa kurang tepat karena timbul arti lain yang berada di luar perhitungan pembuat iklan tersebut. Ini yang disebut kalimat taksa (maknanya kabur, ambigu, atau mendua arti).

Baca lebih lanjut

“Wilujeng Shopping”

Pikiran Rakyat, 14 Mei 2010. Imam Jahrudin Priyanto: Redaktur Bahasa Pikiran Rakyat.

Wilujeng shoppingMODIFIKASI bahasa rupanya cukup menggejala belakangan ini. Hal tersebut sebagian besar dilakukan pengusaha atau pedagang agar usahanya lancar, dalam arti lebih menarik perhatian masyarakat. Tak heran bila suatu saat Anda membaca tulisan besar “Wilujeng Shopping” di salah satu pusat perbelanjaan di Bandung Timur. “Wilujeng Shopping” (selamat berbelanja) ini diperkirakan merupakan bentuk modifikasi dari “Wilujeng Sumping”, kata atau sapaan bahasa Sunda yang berarti selamat datang. Dari segi pemasaran, ini langkah kreatif walaupun tidak begitu elok dari segi kedisiplinan berbahasa.

Baca lebih lanjut

Undang-Undang Bahasa

Pikiran Rakyat, 16 Apr 2010. Imam Jahrudin Priyanto, Redaktur Bahasa Pikiran Rakyat.

ADA banyak masukan yang diperoleh pada diskusi Forum Bahasa Media Massa (FBMM) bertema Menyikapi Undang-Undang Bahasa di Jakarta, 27 Maret 2010 lalu. Masukan itu dikemukakan narasumber Dendy Sugono (mantan Kepala Pusat Bahasa), Eko Endarmoko (penulis Tesaurus Bahasa Indonesia), Hinca Panjaitan (pengamat hukum pers), dan T.D. Asmadi (Ketua Umum FBMM), dengan pemandu Rita Sri Hastuti.

Baca lebih lanjut

Pemerian dan Narahubung

Pikiran Rakyat, 25 Mar 2010. Imam Jahrudin Priyanto, Redaktur Bahasa PR.

MASALAH bahasa ternyata tak semudah yang diduga. Tak usah yang terlalu berat, masalah peluluhan saja masih sering keliru, terutama dalam tulisan. Terkait peluluhan huruf k,p,t,s pada awal kata dasar, masih saja ada yang menulis memertahankan, memertanyakan, ataupun memrihatinkan. Kata-kata ini tentu saja keliru karena yang benar adalah mempertahankan, mempertanyakan, dan memprihatinkan. Penjelasannya, huruf ”p” pada kata-kata itu merupakan bagian dari imbuhan (awalan) memper sehingga tidak diluluhkan. Kata mempertanyakan didahului bentuk bertanya. Sementara kata mempertahankan didahului bentuk bertahan.

Baca lebih lanjut