Arsip untuk kategori ‘Joss Wibisono’
Bahasa Belanda di Nusantara: Dibayangi VOC
Majalah Tempo, 23 Jan 2012. Joss Wibisono, Jurnalis
Setiap bulan bahasa, ada sebuah pertanyaan yang terlewat dalam bagian ritual mengenang heroiknya Soempah Pemoeda. Pertanyaan penting itu adalah mengapa di masa kolonial, Belanda tidak mewajibkan kita berbahasa Belanda. Bukankah di Filipina, Spanyol memberlakukan bahasa mereka, seperti juga Portugal di Timor Lorosa’e dan Prancis di Indocina (yang kini bernama Vietnam, Kamboja, dan Laos)?
Kekuatan kolonial Eropa, yaitu Inggris, Prancis, Spanyol, dan Portugal, memang selalu membuat wilayah jajahan mereka menggunakan bahasanya sebagai bahasa komunikasi. Bahasa Inggris, Prancis, Portugis, dan Spanyol bukan saja menjadi bahasa pemerintah di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin, tetapi juga menjadi bagian dari bahasa pendidikan di sekolah-sekolah wilayah jajahan itu.
Otoritas Bahasa: Perlukah?
Majalah Tempo, 20 Sep 2010. Joss Wibisono: Jurnalis.
PUSAT Bahasa, satu-satunya otoritas bahasa kita, terjerembap dalam kontroversi karena tuduhan menjiplak Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko. Tulisan ini mengajak pembaca mempertimbangkan perlu tidaknya lembaga ini.
Adalah Benedict Anderson yang mengajak kita untuk juga mereformasi bahasa Indonesia, setelah gegap-gempita reformasi politik dan ekonomi. Indonesianis senior ini datang dengan usul tersebut lewat sebuah kolom yang ditulisnya dalam ejaan Suwandi (berlaku 1947-1972) dan diumumkan majalah ini pada edisi terakhir 2001.
Dari Mana Datangnya ‘Tuan’
Majalah Tempo, 5 Jul 2010. Joss Wibisono: Penyiar radio Nederland di Hilversum, Belanda.
ADA baiknya tulisan ini diawali dengan dua larik syair lagu Juwita Malam, karya Ismail Marzuki (1914-1958).
Juwita malam siapakah gerangan tuan?Juwita malam dari bulankah tuan?
Kemudian dua larik lagi, kali ini lagu Aryati, masih karya komponis yang sama:
Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan?
Ujung jarimu kucium mesra tadi malam.
Belum jelas kapan Ismail Marzuki menciptakan keduanya, mungkin pada 1930-an. Tapi apa arti kata “tuan” pada dua lirik lagu di atas?
Saling Serap Indonesia-Belanda
Majalah Tempo, 1 Maret 2010, . Joss Wibisono, Penyiar Radio Nederland di Hilversum, Belanda.
PARTAI politik pertama di Nusantara adalah Indische Partij, yang pada 1912, di Bandung, didirikan oleh Ernst Douwes Dekker (Setiabudi Danudirdja), Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Suryaningrat. Kata bahasa Belanda partij kita serap ke dalam bahasa Indonesia menjadi partai. Karena itu, kita punya Partai Keadilan Sejahtera, sedangkan di Malaysia ada Parti Keadilan. Perbedaan dan akar sejarahnya jelas: Malaysia dipengaruhi bahasa Inggris (party), kita mendapat pengaruh bahasa Belanda.
Nasionalisme: Kini Giliran Bahasa
Majalah Tempo 7 Des 2009. Joss Wibisono. Penyiar Radio Nederland di Hilversum, negeri Belanda.
VIENNA atau Wina? Geneva atau Jenewa? Cheska atau Ceko? China atau Cina? Selama dua versi itu terus digunakan, diskusi mengenai nama-nama asing ini tidak akan pernah selesai.
Uraian berikut datang dengan sudut pandang yang agaknya belum pernah digunakan. Itulah nasionalisme. Nasionalisme bahasa, persisnya.

