Arsip untuk kategori ‘Kasijanto Sastrodinomo’
Loyalis
KOMPAS, 8 Mar 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Dalam beberapa hari terakhir, kata turunan loyalis cukup sering disebut dalam wacana publik. Terkait hasil sementara pemilihan kepala daerah Jawa Barat, misalnya, Kompas (25/2), menganalisis bahwa loyalis partai menjadi faktor penentu kemenangan pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar. Di sini loyalis partai mengacu pada pendukung setia partai yang mengusung pasangan itu. Begitu pula pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki, dalam pemilihan yang sama, meraup lonjakan suara di beberapa daerah pemilihan berkat coblosan loyalis partai pendukungnya.
Terhangat adalah berita tentang ”loyalis Anas” yang mundur dari kepengurusan Partai Demokrat setelah ketua umum partai itu, Anas Urbaningrum, sèlèh jabatan menyusul penetapannya sebagai tersangka perkara korupsi proyek pusat olahraga Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (Kompas, 26/2). Namun, ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Nurhayati Ali Assegaf, menyangkal ada ”loyalis Anas”. Yang benar, kata dia, adalah ”loyalis partai”. Bagaimanapun, pernyataan itu menjelaskan bahwa kata loyalis bisa merujuk pada kesetiaan orang kepada individu tokoh ataupun organisasi politik.
Orang Kuat
KOMPAS, 25 Jan 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.
Negara demokrasi membutuhkan institusi, sistem, dan pemerintahan yang kuat, bukan orang yang kuat. Pernyataan itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada sidang kabinet yang membahas RUU Administrasi Pemerintahan. Jika tidak waspada, menurut Presiden, orang kuat bisa menjurus otoritarian dan diktator. Ditunjuknya pengalaman Indonesia pada masa lalu, dan negara lain yang pernah dipimpin oleh ”orang kuat” sehingga melahirkan pemerintahan berwatak keras, yang ”bisa keluar dari sistem, bisa berbuat apa saja” (Kompas, 11/1).
Apa atau siapa yang dimaksud dengan orang kuat tak terjelaskan dalam berita itu. Baik Kamus Besar Bahasa Indonesia maupun Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia (keduanya terbitan Pusat Bahasa) tidak merekam orang kuat. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia Eko Endarmoko sinonim ungkapan itu nihil. Padahal, ungkapan serupa, seperti orang besar atau orang gedean sebagai cakapan, terdaftar pada kamus-kamus itu. Kamus Inggris-Indonesia John M Echols dan Hassan Shadily memasang lema strongman sebagai kiasan orang yang kuat, pemimpin. Pada kamus Oxford tertulis masterful or capable person.
Revitalisasi
Majalah Tempo, 13 Jan 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Sumber gambar: KidzMatter Ministries
DI sebuah tikungan jalan raya menuju Puncak, Bogor, pandangan saya mampir pada sekeping papan kayu bertulisan “Reparasi Alat Vital” yang terpaku pada sebuah pohon tua. Alamat bengkel tempat reparasi tidak tercantum, kecuali nomor telepon. Juga tidak disebutkan jenis alat vital apa saja yang bisa dipermak di biro jasa itu. Jika mengikuti Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, sublema alat vital semestinya termasuk mesin pesawat terbang dan mesin pabrik. Namun, tak mungkin mesin-mesin besar bisa dibongkar-pasang di situ. Jelas kemudian teks pada papan kayu itu hanyalah trik penawaran “terapi syahwat” mirip iklan klinik terapi serupa yang dijajakan seorang rocker di televisi.
Luar Biasa
KOMPAS, 4 Jan 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.
Negeri ini sejatinya memiliki banyak hal yang luar biasa. Hanya saja makna keluarbiasaan itu perlu dipilah-pilah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, luar biasa berarti ’tidak seperti biasa’, ’tidak sama dengan yang lain’, dan ’istimewa’. Namun, pengertian ini tidak serta-merta menjelaskan nilai intrinsik yang terkandung dalam frase itu. Dalam arti ’istimewa’, pastilah luar biasa itu bermakna hebat: ”kecerdasannya luar biasa”. Dalam arti ’tidak seperti biasa’ dan ’tidak sama dengan yang lain’ bisa muncul multitafsir, bisa jadi tidak umum, atau tidak wajar.
Iklan Lowongan Kerja
Majalah Tempo, 9 Des 2012. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Sumber gambar: Toraja Indonesia
QODIR akhirnya katut Pak De ke Jakarta bersama arus balik pemudik Lebaran yang baru lalu. Urung mendaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) itu “resmi” jadi bagian dari kaum urban baru yang berburu pekerjaan di Ibu Kota. Untuk sementara, Pak De, yang sudah beberapa tahun menetap di Jakarta, bersedia menampung dia di rumah kontrakannya. Namun, merasa cuma sebagai penjaja keliling sayur-mayur, Pak De tak bisa mencarikan pekerjaan untuk si keponakan. Ia hanya bisa menyarankan keponakannya itu melihat-lihat iklan lowongan kerja di koran.

