Arsip untuk kategori ‘Kurnia JR’
Komedian?
KOMPAS, 16 Mar 2012. Kurnia JR, Cerpenis
Sekarang ada sebutan yang lebih populer bagi seniman panggung pengocok perut: komedian. Istilah pelawak mulai ditinggalkan tanpa alasan jelas kecuali kecenderungan masyarakat yang mudah terkesima oleh kosakata keinggris-inggrisan. Ini gejala peyorasi dalam linguistik. Dalam hal ini, kata pelawak mengalami degradasi semantik.
Peminjaman atau penyerapan kosakata dari bahasa asing adalah situasi alamiah dan wajar dalam suatu bahasa. Yang celaka jika proses itu berakibat pembonsaian khazanah bahasa kita sendiri. Kosakata asing diserap seraya merendahkan derajat makna padanannya yang sudah ada dalam bahasa kita tanpa urgensi sama sekali.
Bahasa Pemerintah
KOMPAS, 15 Jul 2011. Kurnia JR, Cerpenis
Lagi-lagi, soal klise ini: kasus kuminggris, yakni pemakaian anasir Inggris yang tidak perlu atau tak pada tempatnya dalam wacana berbahasa Indonesia. Akhir-akhir ini pemerintah memberi contoh tak mendidik dengan memakai anasir Inggris dalam program-programnya. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia membuka lembaga pelayanan bagi masalah TKI. Namanya Crisis Center BNP2TKI. Bagian pelayanan pengaduannya Call Center TKI. Padahal, pelayanan ini bukan untuk orang asing.
Disusul oleh PT Kereta Api Indonesia yang menerapkan sistem baru di rute Jakarta-Bogor dengan nama KRL Commuter Line. Di jalan raya, warga Jakarta telah terbiasa dengan istilah busway: jalur khusus bus Transjakarta. Frasa jalur busway pun telah merasuki benak kita.
Peribahasa
KOMPAS, 1 Jul 2011. Kurnia JR, Cerpenis
Kalau di hutan tak ada singa, beruk rabun bisa menjadi raja. Peribahasa adalah cetusan ringkas yang mengandung pandangan bijak tentang hal-hal yang kita alami, hadapi, harapkan, hindari, pelajari, maknai agar mencapai keluhuran budi dan keselamatan dalam hidup.
Bahasa Melayu sebagai cikal-bakal bahasa Indonesia kaya dengan peribahasa. Setiap aspek dalam kehidupan sehari-hari, dari lingkup kecil rumah tangga sampai cakupan ketatanegaraan, ditelaah dan melahirkan ungkapan berupa peribahasa, pantun, pepatah, dan ujaran-ujaran yang padat makna.
Demi
KOMPAS, 4 Mar 2011. Kurnia JR, Cerpenis
Mengobrol dengan warga beberapa kampung di Jawa Barat dan Banten terasa menggelitik. Tidak sedikit dari mereka yang memiliki kebiasaan membubuhi kalimat yang diucapkan dengan kata demi buat menegaskan ”kejujuran”. Umpamanya, ”Saya mah, demi, kalau masak sayur enggak pernah pakai mecin.” Atau, ”Demi, ini mah demi, nih! Mendingan enggak makan saya mah daripada nipu atawa nyolong. Allah teh ningali.” Maksudnya, Allah Mahamelihat.
Kiranya Anda bisa menebak arti demi yang mereka maksud. Ya, betul, demi yang sering mereka gunakan itu adalah partikel yang lazim diterapkan penutur bahasa Indonesia secara luas. Dengan partikel itu mereka ingin mengatakan (lengkapnya) ”demi Allah” atau ”demi Tuhan”, namun kata Tuhan atau Allah dilesapkan atau tidak diujarkan. Tampaknya perilaku ini sudah merupakan kebiasaan di kalangan mereka sehingga dilontarkan begitu saja sebagai bagian dari langgam lisan yang santai.

