Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Arsip untuk kategori ‘Marco Kusumawijaya

Bang, Bung

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo, 29 Nov 2010. Marco Kusumawijaya: Arsitek.

Anda perhatikan jika terbang dengan pesawat Garuda. Kini penumpang akan disapa dengan kalimat “Bapak dan Ibu yang terhormat”. Di masa lalu, kita sempat mendengar kalimat “Para pelanggan yang terhormat”, yang membuat kita merasa diperlakukan sebagai subyek pasar semata. Sebelumnya, seingat saya pernah pula digunakan “Tuan tuan dan Puan puan”. Kini kadang kadang juga “Para penumpang yang terhormat”. Tentu saja itu hanya kalau mereka bicara lewat mikrofon. Ketika pramugarinya bertemu penumpang di pintu pesawat, mereka akan menyapa dengan “Pak” dan “Bu”.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

29 November 2010 pada 22.53

Ditulis dalam Majalah Tempo, Marco Kusumawijaya

Dikaitkatakan dengan

Bahasa Sang Pemimpi

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo 11 Jan 2009. Marco Kusumawijaya, editor www.rujak.org.

SANG Pemimpi bukan film pertama yang membuat kita merenungkan kembali bahasa setempat. Sebelumnya, salah satu film, Perempuan Punya Cerita oleh Nia Di Nata, berbahasa Sunda hampir menyeluruh di dalamnya, sesuai dengan lingkungan ceritanya. Sarah Sechan dan Annisa Nurul Shanty, dua pemeran tokoh utama dalam film itu, kebetulan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu mereka. Maka bahasa Sunda dalam film itu sangat berhasil.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

11 Januari 2010 pada 00.00

Ditulis dalam Majalah Tempo, Marco Kusumawijaya

Dikaitkatakan dengan

Lestari dan Berkelanjutan

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo 14 Des 2009. Marco Kusumawijaya. Arsitek perkotaan.

DENGAN demam pemanasan buana sekarang, makin banyak kata terkait lingkungan bertaburan dalam bahasa Indonesia. Sebagian darinya sudah diterjemahkan dari bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia, meskipun penggunaan yang terakhir ini masih setengah-setengah.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

14 Desember 2009 pada 02.27

Ditulis dalam Majalah Tempo, Marco Kusumawijaya

Dikaitkatakan dengan

Bahasa Jalan

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo 1 Jun 2009. Marco Kusumawijaya. Urbanis, Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta.

APA salahnya aspal—?/Di kota aspal aku betah, demikian tulis Bertold Brecht. Dengan aspal, permukaan jalan untuk mobil telah menjadi lebih halus daripada kaki lima untuk pejalan kaki, bertentangan dengan undang-undang abad ke-18 di Inggris yang memberikan syarat permukaan untuk pejalan kaki harus lebih halus daripada yang untuk kendaraan. Sejak itu selamanya makna jalan menyempit jadi sedikit. Padahal, jalan memberikan struktur pembacaan tentang kota. Ia ruang khalayak sesejatinya. Karena itu, perilaku di jalan mencerminkan watak bangsa.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

1 Juni 2009 pada 09.56

Ditulis dalam Majalah Tempo, Marco Kusumawijaya

Dikaitkatakan dengan

Kehilangan Kata-kata

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo 13 Apr 2009. Marco Kusumawijaya. Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta.

Yang saya maksud bukan kehabisan kata-kata, melainkan benar-benar terancam hilangnya kata-kata bahasa Indonesia. Setidaknya ada dua ancaman, ialah hilangnya realitas yang diacu oleh kata, dan hilangnya makna dalam penerjemahan yang tidak memadai—lost in translation. Semuanya berdampak pada berkurangnya ke bhinekaan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

13 April 2009 pada 08.57

Ditulis dalam Majalah Tempo, Marco Kusumawijaya

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.