Arsip untuk kategori ‘Mulyo Sunyoto’
Agar (Sekali Lagi)
KOMPAS, 16 Sep 2011. Mulyo Sunyoto, Pemerhati Sintaksis, Magister Pendidikan Bahasa
Di kolom ini, 20 Februari 2009, saya mengulas agar, partikel kelas konjungsi yang kerap diperlakukan sebagai adverbia dalam berbagai judul berita. Di situ saya berpendapat bahwa peran tambahan kata sambung sebagai kata keterangan merupakan gejala evolusi ekspansif makna kata. Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia belum mencatat fenomena itu.
Kali ini saya hendak memperlihatkan gejala serupa: pengayaan makna yang dilakukan masyarakat pada konjungsi penanda harapan, yang lagi-lagi belum termuat dalam dua kitab susunan instansi pemerintah itu. Oleh KBBI agar cuma disepadankan dengan supaya, ‘kata penghubung untuk menandai harapan’. Dalam TBBBI, agar dikelompokkan sebagai konjungtor subordinatif tujuan, yang bersinonim dengan supaya, biar.
Matinya Penumpang
KOMPAS, 3 Des 2010. Mulyo Sunyoto Magister dalam Linguistik.
Sebuah bus pengangkutan umum berjalan perlahan keluar dari Terminal Kampung Rambutan Jakarta. Di belakang kendaraan itu, dalam jarak sepelempar, seseorang bergegas mengejar bus. Sopir tak menghentikan kendaraannya. Kenek melihat gelagat orang itu lewat kaca spion. Kepada sopir, sang kenek berteriak, ”Ada sewa, ada sewa.”
Sewa, bukan penumpang. Sopir dan kenek kendaraan pengangkutan umum di Jakarta seolah tabu menggunakan kata penumpang menyebut ‘orang yang naik kendaraan umum’. Sejak kapan dan mengapa para awak kendaraan umum di Jakarta memilih sewa dan menampik penumpang? Saya tak tahu. Yang pasti, di Sumatera Utara hal itu kaprah belaka.
Apa/Siapa Namamu
KOMPAS 24 Des 2009. Mulyo Sunyoto.
Nama dan orang yang menyandangnya, di mata pebahasa Inggris, seolah dapat dipisahkan seperti sandang dan sang penyandang. Keduanya dapat dipisahkan dengan tegas.
Tapi, di mata kita, nama dan sang pemilik ibarat api dan panasnya. Tak mungkinlah memisahkan keduanya. Begitulah perbedaan esensial kenapa orang berbahasa Inggris menggunakan rumusan: “Apa nama anda?”, dan bukan “Siapa nama anda?” sebagaimana orang Indonesia biasa bertanya.
Ragam Bahasa yang Elitis
KOMPAS 10 Des 2009. Mulyo Sunyoto. Magister Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta.
Penganjur ragam bahasa baku, yang punya hasrat kuat untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti selalu disuarakan Pusat Bahasa, sudah saatnya sadar diri bahwa mayoritas warga berbahasa Indonesia tak bisa diajak berbangga diri menggunakan bahasa ragam resmi.
Agar
KOMPAS, 20 Feb 2009. Mulyo Sunyoto. Pemerhati Sintaksis.
Ada apa dengan partikel kelas konjungsi itu? Sebelum masuk inti perkara, saya melantur sepanjang dua alinea bersama agar.
Perempuan Yahudi yang mengandung, bersama sang suami, menyelesaikan soal matematika. Tentu tak perlu yang terlampau rumit atau terlalu mudah dipecahkan. Itu dilakukan agar si orok berlatih mengasah otak.
Agar memperoleh keturunan lantip seencer benak Yahudi, ibu berbadan dua Melayu bisa menjajal adat kaum Tzipi Livni itu. Bukankah tak berdosa mengikuti kebiasaan baik satu kaum, yang di sini oleh kebanyakan orang disebut (dengan sempit dada) Zionis?

