Arsip untuk kategori ‘Qaris Tajudin’
Elegan, Glamor, dan Celine Dion
Majalah Tempo, 6 Feb 2012. Qaris Tajudin, Wartawan
Pekan lalu, di kolom ini ada tulisan menarik dari Rohman Budijanto. Ia mengamati sejumlah merek mode–dari busana hingga minyak wangi–yang unik, bahkan cenderung nyeleneh, atau “subversif”. Nama-nama produk mode itu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan terdengar lebih aneh lagi.
Di antaranya ada True Religion (denim), Poison (parfum dari Christian Dior), Opium (parfum, Yves Saint Laurent), Agent Provocateurs (lingerie, parfum), Envy Me dan Guilty (keduanya parfum dari Gucci), Bathing Ape (produk fashion, lengkapnya A Bathing Ape in Lukewarm Water, disingkat BAPE), dan Urban Decay (mode).
Tulisan ini tidak akan menyanggah kolom Rohman, bahkan ingin melengkapinya. Saya hanya ingin menjelaskan dua hal yang belum terlalu diulas oleh tulisan berjudul “’Agama Sejati’ dan Celana Jins” itu.
Busana Muslim
Majalah Tempo, 1 Agu 2011. Qaris Tajudin, Wartawan
Di hari-hari menjelang Ramadan, frasa “busana muslim” menjadi tren, muncul di mana-mana. Dari gerai-gerai pusat belanja hingga di artikel-artikel media massa. Tren ini akan terus berlangsung hingga Lebaran nanti. Maklum, pada bulan suci dan Lebaran, permintaan akan busana muslim memang tinggi. Banyak orang ingin terlihat lebih religius.
Reaksi ekonomis kenaikan permintaan ini adalah peningkatan suplai. Mulai butik para desainer ternama hingga toko di Tanah Abang menggenjot produksi busana muslim dan lalu mengiklankannya. Para desainer biasanya menggelar peragaan busana sebulan menjelang Ramadan. Pada saat yang sama, toko-toko busana menempel tulisan besar-besar: “Busana Muslim”.
Makzul
Majalah Tempo, 8 Nov 2010. Qaris Tajudin: Wartawan.
“Impeachment bukan pemakzulan.” Demikian Saidi A. Xinnalecky memulai tulisannya di rubrik ini dalam kolom berjudul “Hikayat Pemakzulan” (Tempo, 25-31 Oktober 2010). Xinnalecky mengatakan kata makzul tidak tepat untuk menggantikan impeachment karena dalam bahasa aslinya (Arab) makzul tidak berarti menurunkan penguasa.
Ada banyak dalil yang ia utarakan, termasuk mengutip pengertian kata ‘azala (kata kerja dari ma’zul) di kamus-kamus bahasa Arab. Karena itu, Xinnalecky mengusulkan pencarian kata selain pemakzulan untuk menerjemahkan impeachment.
Minimalisme
Majalah Tempo, 26 Jul 2010. Qaris Tajudin: Wartawan Tempo.
Dalam sejumlah kesempatan memberikan pelatihan menulis di sekolah dan kampus, ada satu hal yang selalu menjadi ganjalan. Para siswa dan mahasiswa itu selalu punya kendala dalam mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Walhasil, sebelum bicara tentang teknik menulis dan pernak-perniknya (termasuk membenarkan kesalahan eja yang parah), saya harus menghabiskan setengah waktu untuk memotivasi mereka mengungkapkan sesuatu dengan cara beragam.
Tentang Tahi Lalat dan Tetek-bengek
Majalah Tempo, 17 Mei 2010. Qaris Tajudin: Wartawan.
SELAMA ini kita sudah kehilangan humor dan daya imajinasi. Kita semakin serius, kaku, dan tidak jenaka dalam berbahasa, terutama saat mencari nama atau padanan kata dalam bahasa Indonesia. Dari undang-undang hingga istilah digital selalu saja diberi nama yang sangat terperinci dan teknis. Akibatnya, sering kali nama itu menjadi panjang. Pada gilirannya, nama yang panjang itu lalu dibuat singkatan atau akronim hingga kita semakin tak paham dan lebih mengerti jika disampaikan dalam bahasa asing.
Teman
Majalah Tempo, 19 Apr 2010. Qaris Tajudin, Wartawan.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah teman saya meningkat tajam. Dulu, saya cuma punya belasan teman, atau paling banter puluhan (teman kerja dan teman kuliah dihitung). Kini saya punya hampir seribu teman. Ini bukan karena mendadak saya jadi anak gaul atau anak tongkrongan yang punya sohib di setiap pengkolan. Sebabnya apa lagi kalau bukan karena saya dan juga mereka yang punya lima ribu teman-bergabung dalam jaringan sosial Internet (awalnya Friendster, kemudian Facebook).
Dulu kita menganggap, seorang teman adalah orang yang tidak hanya kita kenal, tapi juga bergaul dengan kita dalam lingkaran tertentu (permainan, tempat kerja/sekolah, tempat tinggal). Di atas itu ada teman akrab (dari aqrab=amat dekat, bentuk superlatif dari qarib=dekat). Di atasnya ada sahabat, teman yang kadang kita anggap saudara sendiri.
Belok Kiri Boleh Langsung
Majalah Tempo 2 Nov 2009. Qaris Tajudin. Wartawan.
MINGGU-MINGGU ini—selain membincangkan kabinet baru dan rekaman penjebakan Komisi Pemberantasan Korupsi—orang ramai membicarakan peraturan lalu lintas yang baru: dilarang langsung belok kiri di persimpangan yang ada lampu lalu lintasnya. Kendaraan harus menunggu lampu hijau menyala untuk dapat berbelok ke kiri. Yang melanggar akan didenda Rp 250 ribu.
Menerjemahkan Jihad
Majalah Tempo 21 Sep 2009. Qaris Tajudin. Wartawan Tempo dan alumnus Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo.
SETIAP menjelang Lebaran, kita selalu disibukkan oleh penentuan kapan tanggal 1 Syawal jatuh. Karena penanggalan Islam memakai sistem lunar, tanggal baru dihitung setiap terlihat munculnya bulan baru yang berbentuk sabit dan hanya muncul beberapa detik di atas cakrawala. Sederhana, tapi karena terdapat banyak pendapat tentang bagaimana menentukan bulan itu terlihat atau tidak, masalah jadi pelik.
Anggur dalam Piala Khayyam
Majalah Tempo 13 Jul 2009. Qaris Tajudin. Wartawan.
PADA kolom Bahasa! di majalah Tempo beberapa pekan lalu, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Nikolaos van Dam, menulis tentang bagaimana mengeja kata serapan Arab dalam bahasa Indonesia. Kolom ini menarik karena ia menganggap pelafalan tersebut masih belum seragam, meski kata serapan dari bahasa Arab begitu banyak memenuhi kamus kita.
Politik Dagang Ikan
Majalah Tempo 25 Mei 2009. Qaris Tajudin. Wartawan.
MENJELANG pemilih presiden, sejumlah partai politik menggalang koalisi. Maklum, suara yang mereka peroleh dalam pemilihan legislatif tidak cukup untuk mengajukan calon presiden sendiri. Kalaupun cukup, seperti halnya Partai Demokrat, tanpa koalisi mereka akan menjadi minoritas di parlemen. Ujung-ujungnya, kerja pemerintah akan selalu diganjal oleh oposisi.

