Anggur dalam Piala Khayyam

Majalah Tempo 13 Jul 2009. Qaris Tajudin. Wartawan.

PADA kolom Bahasa! di majalah Tempo beberapa pekan lalu, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Nikolaos van Dam, menulis tentang bagaimana mengeja kata serapan Arab dalam bahasa Indonesia. Kolom ini menarik karena ia menganggap pelafalan tersebut masih belum seragam, meski kata serapan dari bahasa Arab begitu banyak memenuhi kamus kita.

Baca lebih lanjut

Politik Dagang Ikan

Majalah Tempo 25 Mei 2009. Qaris Tajudin. Wartawan.

MENJELANG pemilih presiden, sejumlah partai politik menggalang koalisi. Maklum, suara yang mereka peroleh dalam pemilihan legislatif tidak cukup untuk mengajukan calon presiden sendiri. Kalaupun cukup, seperti halnya Partai Demokrat, tanpa koalisi mereka akan menjadi minoritas di parlemen. Ujung-ujungnya, kerja pemerintah akan selalu diganjal oleh oposisi.

Baca lebih lanjut

Perempuan dan Wanita

Majalah Tempo 20 Apr 2009. Qaris Tajudin. Wartawan.

SUATU kali, seorang teman perempuan melayangkan protes lewat pesan pendek: ”Kamu tidak konsisten. Terkadang memakai perempuan, terkadang memakai wanita.” Yang diprotes, tentu saja, adalah pemakaian kata perempuan dan wanita secara berganti-ganti dalam sejumlah tulisan saya.

Baca lebih lanjut

Kesopanan Kemaluan

Majalah Tempo 26 Jan 2009. Qaris Tajudin. Wartawan.

DALAM bahasa Arab, sastra dan kesopanan diwakili oleh satu kata: adab. Artinya, orang yang sopan adalah orang yang memiliki kesadaran berbahasa. Dalam bahasa Indonesia, bahasa sering dilekatkan dalam satu frasa dengan budi, yang salah satu artinya adalah akhlak baik. Artinya, orang berbahasa baik biasanya satu paket dengan berakhlak mulia. Mungkin, karena itu pula, dalam Undang-Undang Pornografi yang melar seperti karet itu, teks bahasa menjadi perhatian utama selain gambar.

Baca lebih lanjut

Karena Guru Kencing Berdiri

Majalah Tempo, 3 Nov 2008. Qaris Tajudin: Wartawan.

Apa yang kita ingat dari pelajaran bahasa Indonesia selain “ini Budi”-kata-kata pertama yang kita baca di kelas satu sekolah dasar? Mungkin tak banyak. Saya termasuk beruntung karena saya diajar guru bahasa Indonesia di sekolah menengah pertama yang memiliki jejak panjang. Guru ini berhasil membuat saya tak hanya mengingat “ini Budi” dari 12 tahun belajar bahasa Indonesia di sekolah. Setiap pelajarannya saya ingat hingga hari ini.

Dia berasal dari Sumatera Barat. Aksennya agak aneh di telinga kami, para muridnya di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Ia tak pernah terlambat masuk kelas. Rambutnya selalu tersisir rapi dengan pomedo tebal. Karenanya ia selalu terlihat segar. Dia memasuki kelas dengan langkah-langkah lebar, hingga pipa celananya yang katung di atas mata kaki semakin mekar. Membuat sepatu kulit hitamnya yang mengkilat semakin terlihat. Ban pinggangnya selalu di atas pusar. Mengingatkan kami pada Jojon sang pelawak. Ia juga kocak.

Baca lebih lanjut