Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Arsip untuk kategori ‘Rohman Budijanto

Tuhan Nan Egaliter

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 2 Des 2012. Rohman Budijanto, Wartawan Jawa Pos.

Sumber gambar: rockgod.co.nz

ORANG Indonesia seperti berteman dengan Tuhan. Untuk menyebut Sang Pencipta, tak dipakai bahasa penghormatan khusus. Ketika sedang membicarakan Tuhan, kita cukup menyebutnya Dia atau -Nya. Tak perlu sebutan dengan bahasa yang lebih “tinggi”, seperti Beliau. Yang membedakan Tuhan dengan orang adalah kata gantinya yang diawali huruf besar.

Ketika kita berbicara langsung dengan Tuhan pun, kita berbicara dengan akrab. Kita menyebut-Nya dengan Kau, -Mu, atau Engkau. Tidak dengan bahasa yang meraja, misalnya Tuan atau Paduka. Padahal, dengan orang yang kita hormati, kita menyebut dengan ungkapan spesial, “Anda”.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

2 Desember 2012 pada 17.06

Ditulis dalam Majalah Tempo, Rohman Budijanto

Dikaitkatakan dengan

‘Agama Sejati’ dan Celana Jins

dengan satu komentar

Majalah Tempo, 30 Jan 2012. Rohman Budijanto, Wartawan

APA kira-kira reaksi publik kita ketika ada secarik produk mode diberi merek “Agama Sejati”? Besar kemungkinan akan gempar. Sulit terpikirkan bagaimana gaya berpakaian bisa diberi label “Agama Sejati”. Tapi, dari kawasan dunia bebas, produk berlabel True Religion ini malah sukses.

Saat masuk ke Indonesia, produk denim kelas atas karya suami-istri dari Los Angeles, Jeffrey dan Kym Lubell, ini tidak menimbulkan kehebohan. Salah satunya karena merek itu tak diindonesiakan, tetap True Religion. Ada jarak psikologis berbahasa yang menjaga agar yang memakai merek itu tidak dianggap sedang “mengamalkan agama sejati”.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

30 Januari 2012 pada 18.27

Ditulis dalam Majalah Tempo, Rohman Budijanto

Dikaitkatakan dengan

Bahasa Fiksi dalam Hukum

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo, 5 Des 2011. Rohman Budijanto, Wartawan

NYAWA hukum, selain keadilan, adalah kepastian. Peraturan perundang-undangan (juga putusan hakim) selalu berusaha dihindarkan dari tafsir ganda atas kata-kata hukum. Untuk memastikan, definisinya banyak dijelaskan dalam pasal undang-undang. Tapi, betapapun tingginya tingkat kepastian bahasa hukum, rembesan makna fiksional, rancu, dan ganda tak terhindarkan.

Kita sangat mengenal kejahatan “penggelapan”. Istilah ini resmi dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).  Lazimnya, “penggelapan” berarti membuat gelap atau menghalangi cahaya (agar gelap). Tapi ternyata KUHP, yang merupakan terjemahan dari Wetboek van Strafrecht ala Belanda kolonial, tidak menyebut pemadaman lampu bergilir Perusahaan Listrik Negara sebagai penggelapan. Penggelapan diartikan sebagai perbuatan memiliki barang yang diamanahkan pada seseorang dengan melawan hukum.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

5 Desember 2011 pada 15.23

Ditulis dalam Majalah Tempo, Rohman Budijanto

Dikaitkatakan dengan

Keunikan Menerjemahkan Nama

dengan 2 komentar

Majalah Tempo, 26 Sep 2011. Rohman Budijanto, Wartawan

Sumber: Wikimedia Commons

Gambar: Wikimedia Commons

Selain Kolonel Sanders, kolonel ini paling ternama di dunia. Sang kolonel dari Libya ini mempunyai amat banyak varian nama (yang jumlahnya jauh melebihi varian sajian menu di restoran Kolonel Sanders).

Amat mengejutkan, ABC News mendaftar 112 cara berbeda dalam mengeja nama diktator Afrika Utara yang kini terlunta-lunta itu. Sebagai contoh, dia disebut Muammar Gaddafi, Moammer Qathafi, Omar al Ghaddafi, Moammar Kaddafi, Moamer El Kazzafi, bahkan ada nama panjang Mulazim Awwal Mu’ammar Muhammad Abu Minyar al-Qadhafi. Situs Interpol memilih nama Muammar Mohammed Abu Minyar Gaddafi. Memang tak ada kesepakatan bagaimana menuliskan namanya.

Biasanya ejaan nama menjadi hak prerogatif (“terserah aku”) pemiliknya. Sekalipun salah eja menurut polisi bahasa, orang tidak bisa “membetulkannya”. Nama Edward Soeryadjaya yang legendaris bisa menjadi contoh. Ada beberapa varian ejaan lama (oe, dj) dan baru (y) yang ada di sana. Tapi apa mau dikata? Pemiliknya menyebut dirinya begitu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

26 September 2011 pada 08.38

Ditulis dalam Majalah Tempo, Rohman Budijanto

Dikaitkatakan dengan

Tuhan dalam Bahasa Indonesia

dengan 8 komentar

Majalah Tempo, 27 Jun 2010. Rohman Budijanto, Wartawan

Di saat kosmologi maju pesat, umat beriman masih belum juga menyesuaikan konsep di mana keberadaan Tuhan. Dalam kelaziman ungkapan sehari-hari, kuat terkesan Tuhan masih ditempatkan di atas, sehingga kata ganti Tuhan adalah “Yang di Atas”. Padahal, dalam konsep dan observasi kosmologi, tak ada atas dan bawah. Semua posisi relatif, tergantung pandangan pengamat.

Konsep ini tak jauh beringsut dari pengalaman zaman animisme. Dalam mempersepsikan permintaan kepada Tuhan, orang menggunakan kata “memohon”. Jelas ini sangat dekat dengan akar kata “pohon” (meskipun dari sana kemudian muncul pengembangan kata dasar “mohon”). Dalam kepercayaan animis, pohon menempati peran sentral, sebagai pusat keyakinan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

27 Juni 2011 pada 23.00

Ditulis dalam Majalah Tempo, Rohman Budijanto

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 351 pengikut lainnya.