Arsip untuk kategori ‘Samsudin Berlian’
Pejual
KOMPAS, 7 Des 2012. Samsudin Berlian, Pemerhati Makna Kata.

Sumber gambar: AndiWu.com
Ketika Komisi (Komunitas Sales Indonesia) membuat acara perayaan ulang tahun pertama baru-baru ini, salah satu pertanyaan mengganjal adalah apa terjemahan yang pas untuk salesperson. Komunitas itu sendiri memakai istilah ”orang sales”. Cukup jelas, walaupun kamus Indonesia hanya mengenal sale yang berkaitan dengan semacam pisang atau ikan olahan yang sedap.
Kata sales sendiri berasal dari Norse (Skandinavia) kuno sala, berakar pada bahasa Jermanik. Seperti bisa diduga, kata ini berkaitan dengan kata kerja sell (Inggris kuno sellan) yang memang sudah dari dulu punya arti ’menjual’ atau ’menyerahkan sesuatu’. Menyerahkan di sini bersifat sukarela, dengan kesepakatan barter, misalnya. Kalau menyerahkan karena dipaksa, sih, namanya dirampok.
Kopitiam
KOMPAS, 9 Mar 2012. Samsudin Berlian, Pemerhati Makna Kata
Baru saja Mahkamah Agung mengesahkan keputusan Pengadilan Niaga Medan bahwa kopitiam adalah merek milik eksklusif seorang pengusaha Jakarta, yang langsung saja memerintahkan semua pengusaha kopitiam berhenti memakai nama itu untuk tempat usaha mereka.
Kopitiam adalah gabungan menarik dua kata yang melibatkan banyak budaya. Kopi menempuh perjalanan panjang dari Arab qahwah, Turki kahveh, Italia caffè, sampai Belanda koffie, sebelum diserap Melayu. Belanda menguasai Malaka sejak pertengahan abad ke-17.
Tiam kata Hokkien untuk toko. Bagian besar imigran Cina di Asia Tenggara berasal dari Provinsi Hokkien [Mandarin: Fujian] dan sudah ratusan tahun bahasa dan adat istiadat Hokkien di antara mereka bercampur dengan Melayu. Jadi, kopitiam tak lain tak bukan tak lebih tak kurang berarti ’kedai kopi’.
September
KOMPAS, 23 Sep 2011. Samsudin Berlian, Pemerhati Makna Kata
Aneh ganjil bin bingung gemblung. Kok sembilan dibilang tujuh? Bukan salah cetak bukan keliru hitung. Semua kalender internasional di rumah di kantor di kutub beku di khatulistiwa membara sama saja. Bahkan, kamus besar kecil lokal internasional tak mau kalah sinting: bulan ini disebut September.
Jelas-jelas septem adalah tujuh. Bukan hanya orang Romawi dengan Latinnya yang rajin beranak-pinak di Eropa, kita di sini pun tak segan memakai sapta- asal India yang tak lain tak bukan tujuh jua maknanya. Lebih gila lagi, nama ketiga bulan berikutnya juga membuat orang garuk-garuk kepala. octo berarti delapan, novem sembilan, dan decem sepuluh. Tidak percaya? Tahu kan, oktaf itu ‘nada kedelapan’, novena ‘doa sembilan hari’, dan desimal ‘hal persepuluhan’?
Benar Tak Sama Betul
KOMPAS, 19 Agu 2011. Samsudin Berlian, Pemerhati Makna Kata
Perbedaan benar dan betul paling terlihat dalam pemakaian kata-kata turunan keduanya. Pembetulan, misalnya, berhubungan dengan otak-atik perkakas tukang servis; pembenaran berkait dengan, antara lain, penilaian tentang pantas-tidaknya seorang keponakan anggota DPR menjadi kontraktor renovasi ruang kantornya. Di sini pembenaran bisa juga bermakna pembetulan, tapi pembetulan tidak biasa dipakai dalam arti pembenaran.
Begitu pula halnya dengan membetulkan dan membenarkan. ”Membetulkan komputer” sekadar mengacu pada apa yang dilakukan seseorang, apakah memang terjadi atau tidak; tapi ”membenarkan tindakan seorang hakim makan bersama berdua-duaan di restoran remang-remang dengan pengacara terdakwa dalam perkara yang sedang berlangsung” mengacu bukan hanya pada kejadiannya, melainkan terutama pada penilaian etis atasnya: adil atau tidak, patut atau tidak.
Kebetulan
KOMPAS, 29 Jul 2011. Samsudin Berlian, Pengamat Makna Kata, Sarjana Teologi
Sering kita dengar orang berkaok-kaok berani mati ”demi kebenaran!”, tapi boleh dikata tak pernah terdengar ada yang bertekad berjuang ”demi kebetulan!” Kebenaran dianggap layak didukung dan dipertahankan; sedangkan kebetulan adalah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, karena itu tidak bisa dibela, ditentang, atau disangkal, hanya bisa diterima dan ditanggung.
Bukanlah kebetulan bahwa suatu kejadian yang tak terduga disebut kebetulan. Kebetulan mencerminkan falsafah pemaknaan kehidupan yang selaras dengan kehendak Alam Semesta, dengan kehendak Yang di Atas, dan dengan kehendak penguasa. Apa yang sudah ditentukan Sang Ilahi itulah yang betul, yang benar. Penolakan terhadap apa yang ada, yang sudah terjadi, adalah sikap tak ikhlas yang negatif; sama dengan pemberontakan terhadap keputusan Yang Mahakuasa.

