<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk Rubrik Bahasa</title>
	<atom:link href="http://rubrikbahasa.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com</link>
	<description>Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Jun 2013 06:39:40 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>Komentar di Cinta dan Amor oleh Abu Usamah as-Sulaimani</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2009/10/05/cinta-dan-amor/#comment-1358</link>
		<dc:creator><![CDATA[Abu Usamah as-Sulaimani]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jun 2013 06:39:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=51#comment-1358</guid>
		<description><![CDATA[amor n cinta berahi (berasal dr nama dewa asmara Amor dl mitologi Yunani); asmara: ia sedang terkena panah -- (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php)

Kenapa dalam definisi KBBI di atas malah Yunani yang disebut-sebut, bukan Portugis? 
Semoga bukan kesalahan etimologi, tetapi kekurangan literasi yang berbuah kekeliruan pada deskripsinya.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>amor n cinta berahi (berasal dr nama dewa asmara Amor dl mitologi Yunani); asmara: ia sedang terkena panah &#8212; (<a href="http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php" rel="nofollow">http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php</a>)</p>
<p>Kenapa dalam definisi KBBI di atas malah Yunani yang disebut-sebut, bukan Portugis?<br />
Semoga bukan kesalahan etimologi, tetapi kekurangan literasi yang berbuah kekeliruan pada deskripsinya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tersinggunglah! oleh Abu Usamah as-Sulaimani</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2009/05/08/tersinggunglah/#comment-1357</link>
		<dc:creator><![CDATA[Abu Usamah as-Sulaimani]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2013 05:00:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=332#comment-1357</guid>
		<description><![CDATA[Ikut menyimak, Gan! Risuh akibat tulisan ini sungguh membahana. Padahal, ini sekadar opini penulis yang hendak menyelamatkan bahasa kita dari &quot;penjajahan&quot; bahasa asing. Sebenarnya perlu dirancang &quot;aturan main&quot; yang dapat membuat dikotomi jelas, kapan dipergunakan bahasa Indonesia dan kapan dipergunakan bahasa Inggris, agar tidak terjadi kesalahkaprahan dalam memahami konsep &quot;bahasa yang baik dan benar&quot;. Alhasil, saya merasa pemaparan artikel dan komentar-komentar di atas sangat menarik, layak untuk dibaca.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ikut menyimak, Gan! Risuh akibat tulisan ini sungguh membahana. Padahal, ini sekadar opini penulis yang hendak menyelamatkan bahasa kita dari &#8220;penjajahan&#8221; bahasa asing. Sebenarnya perlu dirancang &#8220;aturan main&#8221; yang dapat membuat dikotomi jelas, kapan dipergunakan bahasa Indonesia dan kapan dipergunakan bahasa Inggris, agar tidak terjadi kesalahkaprahan dalam memahami konsep &#8220;bahasa yang baik dan benar&#8221;. Alhasil, saya merasa pemaparan artikel dan komentar-komentar di atas sangat menarik, layak untuk dibaca.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Perubahan Makna Pemakzulan oleh Abu Usamah as-Sulaimani</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/12/27/perubahan-makna-pemakzulan/#comment-1356</link>
		<dc:creator><![CDATA[Abu Usamah as-Sulaimani]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Jun 2013 09:33:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=1568#comment-1356</guid>
		<description><![CDATA[Pak Saidi justru yang membantah tulisan penulis artikel pada rubrik bahasa sebelumnya, silakan lihat lagi: http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/10/25/hikayat-pemakzulan/#comment-1354. 
Jadi, beliau justru yang menjunjung arbiter atau konsep &quot;suka-suka&quot; berbahasa semau penuturnya. Meski saya paham argumentasi kedua penulis, kalbu ini tetap condong pada asas kepraktisan, sebagaimana yang diusung Pak Saidi dan Mas Mohammad Solihin. 
Adapun pemakaian kata ini dalam konteks khusus, fikih Islam, bisa saja dijadikan semacam selingkung atau ditetapkan sebagai istilah tersendiri, tidak mengapa insya Allah.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Saidi justru yang membantah tulisan penulis artikel pada rubrik bahasa sebelumnya, silakan lihat lagi: <a href="http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/10/25/hikayat-pemakzulan/#comment-1354" rel="nofollow">http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/10/25/hikayat-pemakzulan/#comment-1354</a>.<br />
Jadi, beliau justru yang menjunjung arbiter atau konsep &#8220;suka-suka&#8221; berbahasa semau penuturnya. Meski saya paham argumentasi kedua penulis, kalbu ini tetap condong pada asas kepraktisan, sebagaimana yang diusung Pak Saidi dan Mas Mohammad Solihin.<br />
Adapun pemakaian kata ini dalam konteks khusus, fikih Islam, bisa saja dijadikan semacam selingkung atau ditetapkan sebagai istilah tersendiri, tidak mengapa insya Allah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Makzul oleh Abu Usamah as-Sulaimani</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/11/08/makzul/#comment-1355</link>
		<dc:creator><![CDATA[Abu Usamah as-Sulaimani]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Jun 2013 09:23:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=1459#comment-1355</guid>
		<description><![CDATA[Harusnya paragraf ini tidak perlu dicantumkan, agar argumentasi penulis terkesan kukuh. Saya setuju dengan Anda.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Harusnya paragraf ini tidak perlu dicantumkan, agar argumentasi penulis terkesan kukuh. Saya setuju dengan Anda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Hikayat Pemakzulan oleh Abu Usamah as-Sulaimani</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/10/25/hikayat-pemakzulan/#comment-1354</link>
		<dc:creator><![CDATA[Abu Usamah as-Sulaimani]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Jun 2013 09:16:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=1437#comment-1354</guid>
		<description><![CDATA[Jika tanazul yang dipakai, menggantikan (pe)makzul(an), seberapa banyakkah masyarakat Indonesia yang mau peduli atau berpayah-payah menelusuri asal kata dan bentukan kata ini yang notabene dari bahasa Arab ini? Bukan bermaksud membiarkan kesalahan, namun bukankah lebih bijaksana jika kita menerangkan kepada khalayak bahwa kata tersebut diserap beserta perubahan makna konteksnya? Wallahu a&#039;lam.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jika tanazul yang dipakai, menggantikan (pe)makzul(an), seberapa banyakkah masyarakat Indonesia yang mau peduli atau berpayah-payah menelusuri asal kata dan bentukan kata ini yang notabene dari bahasa Arab ini? Bukan bermaksud membiarkan kesalahan, namun bukankah lebih bijaksana jika kita menerangkan kepada khalayak bahwa kata tersebut diserap beserta perubahan makna konteksnya? Wallahu a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
