<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rubrik Bahasa</title>
	<atom:link href="http://rubrikbahasa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com</link>
	<description>Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 May 2013 09:32:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rubrikbahasa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rubrik Bahasa</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rubrikbahasa.wordpress.com/osd.xml" title="Rubrik Bahasa" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kepantasan</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/03/15/kepantasan/</link>
		<comments>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/03/15/kepantasan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2013 17:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rubrik Bahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[Kurnia JR]]></category>
		<category><![CDATA[sintaksis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=2497</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS, 15 Mar 2013. Kurnia JR, Pujangga. Bahasa bukan semata-mata persoalan gramatikal, leksikal, dan ejaan. Ketika dipakai dalam komunikasi antara dua orang atau lebih, bukan hanya wacana yang bermain di situ, tetapi juga aspek ekstrinsik yang mencakup status para pelaku ujaran, relasionalitas antarpelaku, konteks situasional, juga nada yang menampilkan aspek emosional. Suatu kalimat dengan diksi [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2497&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://cetak.kompas.com/read/2013/03/15/02571616/kepantasan">KOMPAS, 15 Mar 2013</a>. Kurnia JR, Pujangga.</em></p>
<p><img class="alignright" alt="" src="http://rubrikbahasa.files.wordpress.com/2013/03/naga_bonar.jpg?w=200" width="200" />Bahasa bukan semata-mata persoalan gramatikal, leksikal, dan ejaan. Ketika dipakai dalam komunikasi antara dua orang atau lebih, bukan hanya wacana yang bermain di situ, tetapi juga aspek ekstrinsik yang mencakup status para pelaku ujaran, relasionalitas antarpelaku, konteks situasional, juga nada yang menampilkan aspek emosional.</p>
<p>Suatu kalimat dengan diksi tertentu mungkin pantas dilontarkan seseorang yang tidak atau kurang berpendidikan, tetapi ditanggapi sebagai tindakan tercela kalau diucapkan oleh orang yang seharusnya ketat menjaga perilaku berkat statusnya yang terpandang di masyarakat.</p>
<p><span id="more-2497"></span>Suatu kalimat menurut aturan tata bahasa mungkin dinilai baik dan benar, tetapi apabila tak memenuhi asas kepantasan, tentu mengusik hati nurani penanggap, publik. Apabila kalimat itu terlontar dari mulut pejabat atau wakil rakyat, tidak layak dibiarkan begitu saja. Kesempurnaan berbahasa tidak hanya mencakup soal baik dan benar, tetapi juga etis dan indah. Jika kedua hal itu terpenuhi, agunglah suatu bangsa di mata bangsa-bangsa lain.</p>
<p>Nama Alimin, anggota Komisi VII DPR, disebut dalam sebuah artikel di situs berita Republika Online, Rabu (6/2) yang berjudul ”DPR Tuding Dahlan Iskan Pencuri”. Dalam rapat dengar pendapat DPR tentang inefisiensi PLN 2009-2011 dia dikutip telah mengatakan, ”Bagaimana bisa pencuri menjadi Dirut PLN, lalu Menteri BUMN dan nanti mau jadi presiden.”</p>
<p>Dari telaah ekstrinsik atas kalimat itu bisa disimpulkan bahwa sasaran yang dimaksud (Dahlan Iskan) ialah pencuri dengan asumsi ia telah terbukti secara hukum melakukan pencurian. Padahal, fakta yang menjadi syarat untuk itu belum jelas sebab pembuktian menurut hukum belum dilakukan.</p>
<p>Menurut artikel itu, ”Hal ini terkait peristiwa tahun 2001, saat tim operasi penertiban aliran listrik dari rayon PLN menemukan kekurangan bayar di gedung kantor Jawa Pos yang dipimpin Dahlan, gedung Graha Pena, Surabaya.”</p>
<p>Landasan bagi wacana Alimin: ”Pencurian listrik tersebut mencapai 1.600 kilovolt-ampere dan menyebabkan denda hingga Rp 2 miliar.”</p>
<p>Di sisi lain, ”Direktur Utama PLN Nur Pamudji membantah isu pencurian ini. ’Yang ditemukan ada kerusakan kabel di gardu PLN, yang gardunya melayani Graha Pena,’ katanya. Ini berpengaruh pada ukuran energi gedung Graha Pena. Karenanya ia menolak hal tersebut dikatakan pencurian, tetapi hanya kekurangan daya saja.”</p>
<p>Anggota DPR itu juga berkata, ”Naga Bonar itu preman yang menjadi jenderal, jadi nggak ngerti.” Buktinya, kata dia, Dahlan membuat keputusan yang berujung pada inefisiensi PLN.</p>
<p>Apakah benar perusahaan Dahlan mencuri, itu harus dibuktikan di pengadilan. Yang patut disesalkan, Alimin lepas kendali sehingga terucap kata-kata <em>pencuri</em> dan <em>preman</em> di ruang sidang yang terhormat itu. Juga, perumpamaan Dahlan dengan Naga Bonar memperburuk citra kurang terhormat yang seharusnya tidak melekat pada diri sang politikus. Aspek ekstrinsik telah membuat cacat bahasanya kendati secara gramatikal nyaris tidak ada kesalahan yang berarti.</p>
<p><em>Sumber gambar: <a href="http://d3nan1.blogspot.com/2009/02/naga-bonar-dvdrip-xvid-neko.html">Denani&#8217;s World</a>.</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-media/kompas/'>KOMPAS</a>, <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-penulis/kurnia-jr/'>Kurnia JR</a> Tagged: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/tag/sintaksis/'>sintaksis</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2497/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2497&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/03/15/kepantasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a5514136e5cf0b0eeaf069ec7057dff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rubrik Bahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rubrikbahasa.files.wordpress.com/2013/03/naga_bonar.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Loyalis</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/03/08/loyalis/</link>
		<comments>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/03/08/loyalis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Mar 2013 17:04:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rubrik Bahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kasijanto Sastrodinomo]]></category>
		<category><![CDATA[KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[etimologi]]></category>
		<category><![CDATA[idiom]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=2495</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS, 8 Mar 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, kata turunan loyalis cukup sering disebut dalam wacana publik. Terkait hasil sementara pemilihan kepala daerah Jawa Barat, misalnya, Kompas (25/2), menganalisis bahwa loyalis partai menjadi faktor penentu kemenangan pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar. Di sini loyalis [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2495&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://cetak.kompas.com/read/2013/03/08/03231073/loyalis">KOMPAS, 8 Mar 2013</a>. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.</em></p>
<p><img class="alignright" alt="" src="http://members.shaw.ca/edmonton_uela/images/cypherW.JPG" width="200" />Dalam beberapa hari terakhir, kata turunan <em>loyalis</em> cukup sering disebut dalam wacana publik. Terkait hasil sementara pemilihan kepala daerah Jawa Barat, misalnya, <em>Kompas</em> (25/2), menganalisis bahwa <em>loyalis partai</em> menjadi faktor penentu kemenangan pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar. Di sini <em>loyalis partai</em> mengacu pada pendukung setia partai yang mengusung pasangan itu. Begitu pula pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki, dalam pemilihan yang sama, meraup lonjakan suara di beberapa daerah pemilihan berkat coblosan <em>loyalis partai</em> pendukungnya.</p>
<p>Terhangat adalah berita tentang ”loyalis Anas” yang mundur dari kepengurusan Partai Demokrat setelah ketua umum partai itu, Anas Urbaningrum, sèlèh jabatan menyusul penetapannya sebagai tersangka perkara korupsi proyek pusat olahraga Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (<em>Kompas</em>, 26/2). Namun, ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Nurhayati Ali Assegaf, menyangkal ada ”loyalis Anas”. Yang benar, kata dia, adalah ”loyalis partai”. Bagaimanapun, pernyataan itu menjelaskan bahwa kata <em>loyalis</em> bisa merujuk pada kesetiaan orang kepada individu tokoh ataupun organisasi politik.</p>
<p><span id="more-2495"></span>Diketahui luas, <em>loyalis</em> diturunkan dari kata Inggris <em>loyal</em> yang berarti ”setia” menurut <em>Kamus Inggris-Indonesia</em> suntingan Echols-Shadily. Padanan utama <em>setia</em> adalah <em>patuh</em>, <em>taat</em>, dan <em>teguh</em>, yang bertalian dengan janji, pendirian, persahabatan, dan sebagainya. Dari adjektif <em>setia</em> itu bisa dibentuk nomina <em>setiawan</em> untuk menyebut orang yang berwatak atau sangat setia. Jadi sama makna dengan <em>loyalis</em>. Meski demikian, <em>setiawan</em> yang terkesan ”anteng” tampaknya tak bisa menggantikan <em>loyalis</em> yang terasa dinamis. Terdengar aneh jika disebut ”setiawan Anas” untuk menjuluki para pendukung politikus itu.</p>
<p><em>Loyalis</em> dikukuhkan sebagai istilah politik setidaknya sejak abad ke-18. Ketika Perang Kemerdekaan Amerika bergolak, tulis Anatole G Mazour dan John M Peoples dalam <em>Men and Nations</em> (1975), terdapat kelompok penduduk koloni pendukung Inggris yang terlibat dalam perang itu yang disebut <em>loyalist</em> (ejaan Inggris). Mereka merupakan orang-orang kaya dan kuat seperti pedagang besar, pemilik pabrik, pengusaha kapal, pendeta, dan dokter. Dalam Perang Sipil di Spanyol (1936–39), <em>del régimen</em> merupakan sebutan untuk kelompok pendukung setia pemerintahan Republik. Di Irlandia Utara, kaum <em>loyalist</em> adalah anggota mayoritas komunitas Protestan yang tetap menjalin hubungan politis dengan Inggris.</p>
<p>Istilah <em>loyalis</em> memancarkan sisi emosional yang kuat, ada ikatan batin luar biasa pada subyek yang terlibat. Kelompok penduduk koloni dalam Perang Kemerdekaan Amerika itu, menurut Mazour dan Peoples, bukan cuma loyal tetapi <em>ardently loyal</em> kepada Inggris sehingga ketika kalah perang mereka memilih menjadi warga Inggris dan hijrah ke Kanada. Sabda St Ignatius de Loyola, <em>perinde ac si cadaver</em> ’bagaikan mayat’, mengajarkan kepada pastor Jesuit untuk ”taat bagai mayat” kepada pemimpin. Dulu, di negeri kita ada ungkapan populer <em>pejah-gesang ndèrèk</em> Bung Karno yang merupakan ekspresi kesetiaan rakyat yang tiada tara kepada Pemimpin Besar Revolusi.</p>
<p>Mbah Wira (79 tahun), tetangga, yang mengalami hidup zaman kolonial masih ingat ujaran <em>landa loyal</em> untuk menyebut orang-orang Belanda di tanah jajahan yang tetap merindukan tanah leluhur dan ratu mereka. Repotnya, jika diucapkan oleh orang Jepang yang tidak mengenal huruf /l/ pada awal atau tengah kata, frase itu akan berbunyi <em>randa royal</em> alias ’janda royal’. Kalau ini, <em>mah</em>, nama lain tape singkong yang digoreng.</p>
<p><em>Sumber gambar: <a href="http://members.shaw.ca/edmonton_uela/">United Empire Loyalist</a>.</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-penulis/kasijanto-sastrodinomo/'>Kasijanto Sastrodinomo</a>, <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-media/kompas/'>KOMPAS</a> Tagged: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/tag/etimologi/'>etimologi</a>, <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/tag/idiom/'>idiom</a>, <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/tag/makna/'>makna</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2495&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/03/08/loyalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a5514136e5cf0b0eeaf069ec7057dff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rubrik Bahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://members.shaw.ca/edmonton_uela/images/cypherW.JPG" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Manusia-Manusia Hewan</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/03/01/manusia-manusia-hewan/</link>
		<comments>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/03/01/manusia-manusia-hewan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Mar 2013 16:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rubrik Bahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[André Möller]]></category>
		<category><![CDATA[KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[idiom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=2492</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS, 1 Maret 2013. André Möller, Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia. Pekan lalu saya secara pendek membahas idiom nyamuk pers dalam kolom bahasa ini. Walaupun Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa tidak memberi penilaian atas termulia-tidaknya ucapan ini, saya mengizinkan diri berkesimpulan bahwa nyamuk pers jarang dipakai untuk menghormati para wartawan. Sebaliknya, ini adalah [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2492&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://cetak.kompas.com/read/2013/03/01/02310816/manusia-manusia.hewan">KOMPAS, 1 Maret 2013</a>. André Möller, Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia.</em></p>
<p><img class="alignright" alt="" src="http://mayrant.files.wordpress.com/2011/10/scapegoat.jpg?w=250" width="250" />Pekan lalu saya secara pendek membahas idiom <em><a href="http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/02/22/jenis-jenis-nyamuk/">nyamuk pers</a></em> dalam kolom bahasa ini. Walaupun <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa</em> tidak memberi penilaian atas termulia-tidaknya ucapan ini, saya mengizinkan diri berkesimpulan bahwa <em>nyamuk pers</em> jarang dipakai untuk menghormati para wartawan. Sebaliknya, ini adalah idiom yang agaknya merendahkan kaum pewarta.</p>
<p>Namun, para jurnalis tidak perlu berkecil hati karena adanya ucapan ini sebab masih banyak ucapan lain yang secara gamblang merendahkan kaum-kaum yang berbeda. Menariknya, tidak jarang ada hewan yang terlibat, seperti dalam ucapan <em>nyamuk pers</em> tadi. Kata <em>politikus</em> (yakni <em>poli-tikus</em>) barangkali bisa disebut sebagai ”kebetulan bahasa” (yang lucu), tapi kami boleh bertemu dengan sepupunya: <em>tikus-tikus kantor</em>. Iwan Fals sudah menggambarkan golongan ini dengan cukup tepat sebagai hewan/orang yang ”suka ingkar janji”, ”berenang di sungai kotor”, ”tak kenal kenyang”, dan ”cepat ganti muka”. Rupanya bukan kalangan terhormat ini, dan mungkin sebagian pembaca jadi teringat kepada lagu Fals berjudul ”Wakil Rakyat”. Kami juga kenal ucapan seperti <em>kupu-kupu malam</em>, <em>kambing hitam</em>, <em>ular kepala dua</em>, dan <em>buaya darat</em>. Idiom-idiom ini memiliki fungsi yang serupa: merendahkan martabat seseorang atau kaum dengan bantuan hewan. Selain itu, orang yang ingin kami cela dapat kami juga panggil <em>monyet</em> atau, lebih parah lagi, <em>anjing</em>.</p>
<p><span id="more-2492"></span>Nah, ada apa dengan ucapan-ucapan ini? Sepertinya mereka tidak memiliki asal-muasal yang sama. <em>Kambing hitam</em>, misalnya, adalah penerjemahan langsung dari bahasa asing. Ucapan ini dapat ditemukan dalam beberapa bahasa Eropa (termasuk bahasa Swedia, Perancis, Spanyol, dan Jerman). Selain <em>kambing hitam</em> berbeda dengan kambing-kambing lain yang pada umumnya berwarna putih (dan dengan demikian tidak cocok dalam golongannya), <em>kambing hitam</em> juga selalu disalahkan (secara tidak wajar). Dalam bahasa Inggris, istilah lain untuk <em>kambing hitam</em> ini adalah <em>scapegoat</em> yang dengan lebih jelas menunjukkan bahwa kambing-kambing hitam dapat dijadikan tumpuan segala kesalahan. Barangkali bahasa Indonesia cukup unik dengan kata kerjanya <em>mengambinghitamkan</em> yang sinonimnya adalah <em>mempersalahkan</em> atau <em>menuduh</em>.</p>
<p>Ucapan-ucapan lain, seperti <em>buaya darat</em>, mungkin dapat kami perkirakan mencerminkan sebuah ketakutan terhadap alam dan satwa liar, yang setiap saat dapat menyusahkan atau malah menyengsarakan kehidupan umat manusia. Ke dalam kelompok ini dapat kami juga masukkan <em>ular kepala dua</em>, yakni orang munafik. Namun, ke manakah <em>kupu-kupu malam</em>? Ini rupanya bukan terjemahan langsung dari bahasa asing (sebab <em>kupu-kupu malam</em> dalam bahasa-bahasa Eropa adalah identik dengan <em>ngengat</em>), dan susah juga bayangkan bahwa kupu-kupu memantulkan ketakutan terhadap alam dan hewan liar. Barangkali ini hanya puisi bahasa, yang kerap kali muncul dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Adapun sejumlah nama hewan yang rupanya hanya bertujuan untuk menghina yang mereka mirip. Salah satu contoh adalah <em>monyet belanda</em> yang jadi nama lokal di Kalimantan untuk monyet <em>Nasalis larvatus</em> (bahasa Indonesianya adalah <em>bekantan</em>). Monyet ini memang memiliki hidung besar dan mancung (dan juga kelihatan agak lucu), jadi barangkali tidak salah kalau disebut <em>monyet belanda</em>. Secara tidak sengaja saya pernah mempermalukan pembawa kapal di sungai-sungai Kalimantan Selatan waktu saya bertanya-tanya mengenai <em>monyet-monyet belanda</em> ini. Barangkali ia pikir bahwa saya orang Belanda dan tidak begitu nyaman dengan istilah tersebut. Ngomong-ngomong tentang Belanda dan hewan, tahukah para pembaca apakah <em>kucing belanda</em> itu? Kelinci, ternyata.</p>
<br />Filed under: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-penulis/andre-moller/'>André Möller</a>, <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-media/kompas/'>KOMPAS</a> Tagged: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/tag/idiom/'>idiom</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2492/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2492&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/03/01/manusia-manusia-hewan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a5514136e5cf0b0eeaf069ec7057dff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rubrik Bahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mayrant.files.wordpress.com/2011/10/scapegoat.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jenis-Jenis Nyamuk</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/02/22/jenis-jenis-nyamuk/</link>
		<comments>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/02/22/jenis-jenis-nyamuk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2013 16:46:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rubrik Bahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[André Möller]]></category>
		<category><![CDATA[KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[idiom]]></category>
		<category><![CDATA[kata majemuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=2489</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS, 22 Feb 2013. André Möller, Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia. Pada suatu saat di sebuah negara nan jauh seorang anak bertanya kepada bapaknya: ”Pak, hewan apa yang paling berbahaya di dunia ini? Hewan apa yang paling menakutkan?” Tanpa perlu waktu untuk merenungkan masalah ini lebih lanjut, si bapak dengan segera menjawab, ”Nyamuk, Nak. [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2489&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://cetak.kompas.com/read/2013/02/22/02520752/jenis-jenis.nyamuk">KOMPAS, 22 Feb 2013</a>. André Möller, Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia.</em></p>
<p><img class="alignright" alt="" src="http://www.umaa.org/images/mosquito.jpg" width="250" />Pada suatu saat di sebuah negara nan jauh seorang anak bertanya kepada bapaknya: ”Pak, hewan apa yang paling berbahaya di dunia ini? Hewan apa yang paling menakutkan?” Tanpa perlu waktu untuk merenungkan masalah ini lebih lanjut, si bapak dengan segera menjawab, ”Nyamuk, Nak. Nyamuk.” Setelah memelototi bapaknya beberapa saat seolah-olah dia kehilangan akal sehatnya, si anak terjatuh saking keras tertawanya.</p>
<p>Ia, yang pasti berharap akan beroleh cerita tentang ular panjang, laba-laba mistis, kuda nil ganas, atau setidaknya harimau galak, hanya disuguhi jawaban <em>nyamuk</em>. Sesudah pulih dari serangan ketawanya, si anak pun menyuguhkan pandangan sinis kepada bapaknya yang, seperti semestinya, merasa seperti pecundang terbesar di mata anaknya.</p>
<p><span id="more-2489"></span>Sebagaimana sudah diketahui, nyamuk memang hewan yang mengakibatkan paling banyak kematian manusia setiap tahun di dunia ini. Harimau, singa, dan kuda nil masing-masing hanya menewaskan beberapa ratus orang setiap tahun, dan buaya pun masih kurang dari dua ribu orang. Ular memang menghabiskan banyak nyawa manusia setiap tahun (bahkan, barangkali lebih dari seratus ribu), tapi nyamuk masih jadi dalang di belakang kematian jutaan orang. Nyamuk tidak menyia-nyiakan sebuah kesempatan untuk mengganggu setiap orang yang mencoba menikmati secangkir kopi hangat sembari matahari tenggelam di belakang pepohonan. Mereka juga tidak enggan menyebarkan berbagai penyakit mematikan kepada umat manusia. Guna nyamuk ini rupanya tidak banyak, atau bahkan nihil.</p>
<p>Tidak salah kalau para pembaca sekarang bertanya-tanya dalam hati: apa hubungannya dengan bahasa, mengingat ini sebuah kolom bahasa? Baru-baru ini saya temukan sebuah ucapan di dalam <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa</em> yang sebelumnya belum saya kenal. Sebab ucapan itu melibatkan kata <em>nyamuk</em>, maka mungkin tidak salah kalau kami berprasangka bahwa ucapan itu agak merendahkan martabat yang jadi sasaran ucapan tersebut.</p>
<p>Ucapan itu adalah <em>nyamuk pers</em> dan merujuk pada orang-orang yang menghasilkan koran yang Anda pegangi sekarang, yakni para wartawan. KBBI tidak memberi penilaian atas ucapan itu, tetapi hati nurani saya dengan keras mengatakan bahwa <em>nyamuk pers</em> itu bukan istilah terhormat atau gelar yang sering tertera di kartu nama para wartawan. Jarang juga kami mendengar orangtua membanggakan anaknya dengan mengatakan, ”Setelah bekerja keras, si Anu sudah jadi nyamuk pers sekarang, lo.”</p>
<p>Mendengar istilah <em>nyamuk pers</em> ini, dalam benak saya muncul gambaran berisi puluhan wartawan yang mengerumuni dan menyerbu sasarannya, tanpa mengindahkan keinginan atau maksud sasaran tersebut. Dengan kata lain, penenggelaman matahari si sasaran itu terusik oleh para nyamuk besar. Dengan menggunakan analogi bahasa, saya mau mengusulkan beberapa nyamuk yang lain. Yang pertama, <em>nyamuk toko</em> yaitu para penjual yang memenuhi gang-gang di toko swalayan dengan tugas (saya tebak) mengganggu kenyamanan pembelanja. Yang kedua, <em>nyamuk Malioboro</em>, yakni para penjual batik di sepanjang jalan wisata itu yang tidak membiarkan, tapi malah membuntuti dan mengganggu para turis yang ingin menikmati kota yang konon berhati nyaman itu. Yang ketiga, <em>nyamuk antrean</em> yaitu orang-orang yang entah mengapa tidak mampu mencari tempatnya yang benar dalam sebuah garis antrean. Selain tiga contoh ini, masih banyak ”nyamuk” yang bisa kami temukan (seperti <em>nyamuk lalu lintas</em>, <em>nyamuk pantai</em>, <em>nyamuk televisi</em>, dan sebagainya).</p>
<p>O, ya, sejujurnya, ada satu hewan yang bisa membuat saya lebih takut daripada nyamuk. Hewan itu adalah <em>tikus</em>. Politikus.</p>
<p><em>Sumber gambar: <a href="http://www.umaa.org/">UMAA</a>.</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-penulis/andre-moller/'>André Möller</a>, <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-media/kompas/'>KOMPAS</a> Tagged: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/tag/idiom/'>idiom</a>, <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/tag/kata-majemuk/'>kata majemuk</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2489/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2489&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/02/22/jenis-jenis-nyamuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a5514136e5cf0b0eeaf069ec7057dff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rubrik Bahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.umaa.org/images/mosquito.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pesta Narkoba</title>
		<link>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/02/15/pesta-narkoba/</link>
		<comments>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/02/15/pesta-narkoba/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2013 16:34:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rubrik Bahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[Rainy MP Hutabarat]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rubrikbahasa.wordpress.com/?p=2486</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS, 15 Feb 2013. Rainy MP Hutabarat, Cerpenis. Negeri ini memiliki banyak jenis pesta dengan atau tanpa perjamuan makan minum. Yang kerap diberitakan di media massa, misalnya, pesta demokrasi, pesta olahraga, pesta sepak bola, pesta kesenian, pesta gol. Di situs-situs internet daftar ini bertambah panjang: pesta durian, pesta topeng, pesta budaya, pesta adat. Semua pesta [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2486&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://cetak.kompas.com/read/2013/02/15/02522957/Pesta.Narkoba">KOMPAS, 15 Feb 2013</a>. Rainy MP Hutabarat, Cerpenis.</em></p>
<p><img class="alignright" alt="" src="http://images.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;docid=FbAHmGEI37GtkM&amp;tbnid=xHIsPOUUXvFSqM:&amp;ved=0CAUQjBwwADg4&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.party-waterfall.co.uk%2Fparties%2Fparties%2Fchristening_files%2Fstacks_image_18.jpg&amp;ei=Wk9DUZzXM4KErQeXpoHIAw&amp;psig=AFQjCNFHvfzxx498OanKEJcNKPlXE93vrg&amp;ust=1363452122873974" width="250" />Negeri ini memiliki banyak jenis pesta dengan atau tanpa perjamuan makan minum. Yang kerap diberitakan di media massa, misalnya, <em>pesta demokrasi</em>, <em>pesta olahraga</em>, <em>pesta sepak bola</em>, <em>pesta kesenian</em>, <em>pesta gol</em>. Di situs-situs internet daftar ini bertambah panjang: <em>pesta durian</em>, <em>pesta topeng</em>, <em>pesta budaya</em>, <em>pesta adat</em>. Semua pesta ini dirayakan dengan sukacita dan keterbukaan terhadap tetamu. <em>Jakarta Night Festival</em> dan <em>Pesta Tahun Baru</em> warga Ibu Kota dihadiri warga kota-kota sekitar. <em>Pesta gol</em> disambut teriakan histeris oleh para pendukung kesebelasan.</p>
<p><em>Pesta</em>, menurut <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV</em>, adalah ’perjamuan makan minum (bersukaria dan sebagainya)’ atau ’perayaan’. Adanya kegembiraan disertai makan-makan itu membuat orang menamakan <em>pesta durian</em>, dan bukan <em>pesta cabai</em> atau <em>pesta serai</em>. Jelas, secara konseptual pesta dirayakan bersama tamu-tamu yang jumlahnya relatif banyak dan bersifat terbuka bagi banyak orang. Termasuk <em>pesta gila</em>. Pesta ini tak berhubungan dengan perilaku gila-gilaan, sebagaimana konon pesta Kaisar Nero dengan seks bebas, mabuk-mabukan, dan memuntahkan makanan yang sudah ditelan agar bisa makan lagi. <em>Pesta gila</em> artinya pesta dansa yang tamu-tamunya berpakaian aneh-aneh, berkedok, dan sebagainya. Demikian KBBI Edisi IV.</p>
<p><span id="more-2486"></span>Namun, konsep ini tak berlaku untuk <em>pesta narkoba</em>, <em>pesta miras</em>, dan <em>pesta seks</em>, istilah-istilah yang disukai wartawan untuk menyentak benak. Pesta-pesta ini tak perlu dihadiri banyak tamu, bahkan cukup 2-5 orang, bersifat rahasia atau sembunyi-sembunyi. Karena itu, juga tak butuh surat undangan atau pemberitahuan kepada publik. Dan, meski disebut ”pesta”, ia dimusuhi masyarakat, melanggar hukum atau etika dan, karenanya, justru dilarang.</p>
<p>Bahasa Indonesia memiliki banyak padanan untuk <em>pesta</em> dan pemakaian tiap kata diberi penekanan tertentu terkait agama, adat, dan peristiwa sejarah. <em>Festival</em>, <em>kenduri</em>, <em>resepsi</em>, <em>selamatan</em>, dan <em>syukuran</em> pada dasarnya padanan <em>pesta</em>. KBBI IV mencatat: <em>festival</em> berarti ’pesta rakyat atau hari atau pekan gembira dalam rangka peringatan peristiwa penting dan bersejarah’; <em>kenduri</em> adalah ’perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, minta berkat, dan sebagainya’; <em>selamatan</em> diartikan ’kenduri untuk meminta selamat, dan sebagainya’; dan <em>syukuran</em> berarti ’ucapan syukur’, atau sebagai kata kerja ’mengadakan selamatan untuk bersyukur kepada Tuhan karena terhindar dari maut, sembuh dari penyakit, dan sebagainya’.</p>
<p>Sehari-hari kata <em>pesta</em>, <em>kenduri</em>, dan <em>resepsi</em> sering dipertukarkan. Teman saya suku Batak menjelaskan, ”Pesta adatnya di kampung, resepsi pernikahannya di Jakarta.” Sayang, kekayaan ini tidak dikelola dengan baik dalam penyusunan KBBI untuk memperlancar pencarian arti dan padanan kata. Dalam <em>Meriam Webster Dictionary Online</em> mudah ditemukan sinonim <em>fiesta</em> atau <em>festival</em> yang sepadan pesta: <em>carnival</em>, <em>celebration</em>, <em>fest</em>, <em>festivity</em>, <em>fete</em>, <em>festival</em>, <em>gala</em>, <em>jubilee</em>. KBBI juga tak mencatat <em>pesta demokrasi</em>, <em>pesta narkoba</em>, atau <em>pesta gol</em>.</p>
<p>Di media massa hanya kata <em>pesta</em> dipakai untuk narkoba, miras, dan seks. Orang tak bercakap tentang <em>kenduri narkoba</em> atau <em>festival narkoba</em>.</p>
<blockquote><p>Karena itu, hati-hatilah dengan ajakan berpesta, selidiki dulu apakah maksudnya <em>pesta narkoba</em> atau <em>pesta miras</em>.</p></blockquote>
<p><em>Sumber gambar: <a href="http://www.party-waterfall.co.uk/parties/parties/christening.html">Waterfall Party Venue Derby</a>.</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-media/kompas/'>KOMPAS</a>, <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/category/menurut-penulis/rainy-mp-hutabarat/'>Rainy MP Hutabarat</a> Tagged: <a href='http://rubrikbahasa.wordpress.com/tag/makna/'>makna</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rubrikbahasa.wordpress.com/2486/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rubrikbahasa.wordpress.com&#038;blog=11244424&#038;post=2486&#038;subd=rubrikbahasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rubrikbahasa.wordpress.com/2013/02/15/pesta-narkoba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a5514136e5cf0b0eeaf069ec7057dff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rubrik Bahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.google.com/url?sa=i&#38;source=images&#38;cd=&#38;docid=FbAHmGEI37GtkM&#38;tbnid=xHIsPOUUXvFSqM:&#38;ved=0CAUQjBwwADg4&#38;url=http%3A%2F%2Fwww.party-waterfall.co.uk%2Fparties%2Fparties%2Fchristening_files%2Fstacks_image_18.jpg&#38;ei=Wk9DUZzXM4KErQeXpoHIAw&#38;psig=AFQjCNFHvfzxx498OanKEJcNKPlXE93vrg&#38;ust=1363452122873974" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
