Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Hafalan Shalat Delisa

tinggalkan komentar »

Lampung Post, 7 Mar 2012. Suheri, Guru SMAN Sukadana, Lampung Timur

Hafalan Shalat Delisa adalah judul film berdasar novel karya Tere Liye. Film tersebut berkisah tentang seorang gadis cilik yang periang bernama Delisa. Perawan kencur itu berasal dari Desa Lhok Nga, Aceh Timur. Saat tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004, pada saat yang sama Delisa akan mengikuti ujian praktik salat yang ia pelajari.

Kemudian, tsunami mengubah jalan hidupnya. Delisa terpisah dari keluarganya, kakinya mengalami cedera saat gelombang air itu datang. Beruntung ia ditemukan oleh prajurit Smith saat pingsan. Kaki Delisa kemudian diamputasi dan dalam tenda penampungan korban bencana pascatsunami ia menjadi inspirasi dan penyemangat hidup bagi sesama korban bencana itu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

7 Maret 2012 pada 08.51

Ditulis dalam Lampung Post

Dikaitkatakan dengan

Mencari Padanan Kata

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo, 5 Mar 2010. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia

Saya memperhatikan bahwa pengguna bahasa Indonesia lebih rajin mencari padanan kata yang diambil dari kata Inggris daripada tetangganya. One stop, misalnya, diganti dengan istilah satu atap, bukan sehenti, sebagaimana diterakan oleh pengucap atau penulis Malaysia. Masalahnya, apakah penyerapan itu mempunyai akibat pada tindakan pelayanan? Saya punya pengalaman ketika anak saya baru lahir. Dengan sigap, saya membawa pelbagai dokumen untuk mendapatkan akta kelahiran anak saya di kantor catatan sipil negeri jiran. Karena sehenti, saya menyerahkan syarat-syarat di satu titik, lalu tak lama kemudian petugas memberi tahu sijil lahir telah selesai. Saya mengambilnya tanpa membayar.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

5 Maret 2012 pada 07.11

Ditulis dalam Ahmad Sahidah, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Pesta Kalimat Pendek

tinggalkan komentar »

Lampung Post, 29 Feb 2012. F. Moses; Pemerhati bahasa, tinggal di Telukbetung

COBALAH tengok kaca belakang angkot-angkot di sepanjang jalan setiap melintasi ruas-ruas kota; saat kendaraanmu terdahului, ketika mereka mengetem di sepanjang halte, depan mal, bahkan di pelipiran trotoar yang membuat pejalan kaki sedikit terganggu.

Perhatikanlah sejenak—sesungguhnya mereka hendak menebar pesona berbahasa mereka. Semacam ada isyarat yang hendak diunggah oleh mereka dari suara hati kecil sesungguhnya. Semacam pelisanan mereka untuk dirimu ketahui; dari frasa-frasa, idiom, bahkan tak jarang adalah semacam aforisma. Menurut saya. Tentunya kamu punya pendapat lain, ya.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

29 Februari 2012 pada 16.09

Ditulis dalam F. Moses, Lampung Post

Dikaitkatakan dengan

Kalam Komunitas Kelam

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo, 27 Feb 2012. Veven Sp. Wardhana, Penghayat budaya massa

Buah apel, dalam bahasa Latin, disebut malus. Tak berbeda, “apel Malang” dan “apel Washington” pun tetap saja malus. Apel adalah buah dalam makna denotatif. Yang membedakan, masing-masing dibudidayakan di perkebunan di (kabupaten) Malang, Jawa Timur, dan Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Itu untuk bahasa petani dan ilmu botani. Namun, dalam bahasa para politikus yang tersangkut skandal pembangunan Wisma Atlet SEA Games, kosakata Latin tersebut tak berlaku bagi dua ragam apel itu. Bahkan sama sekali tak ada kaitannya dengan buah. “Apel Malang” merupakan kata ganti untuk uang rupiah, sementara “apel Washington” identik dengan alat tukar uang dolar Amerika.

Dalam sebuah persidangan skandal tersebut terjelaskan, penggantian kata apel untuk uang dimaksudkan agar tak terkesan vulgar. Maksudnya, perlu ada penghalusan atau pelembutan, yang dalam linguistik disebut eufemisme.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

27 Februari 2012 pada 10.44

Ditulis dalam Majalah Tempo, Veven Sp. Wardhana

Dikaitkatakan dengan

Pembawa Acara atau Juru Acara

dengan satu komentar

Lampung Post, 22 Feb 2012. Ninawati Syahrul, Pegawai Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Pada awal 2012 saya menghadiri beberapa undangan resepsi pernikahan. Biasanya acara diatur dengan urutan yang rapi. Pada kesempatan seperti itu, biasanya ada orang yang bertugas membacakan urutan jalannya acara.

Ada yang menarik perhatian saya berkenaan dengan penggunaan istilah untuk petugas penata atau pengantar acara tersebut. Apakah istilah pengacara, pembawa acara, juru acara, protokol, announcer, atau master of ceremony (MC)? Melihat bentukan kata tersebut, timbul pertanyaan, bentukan manakah yang tepat di antara beberapa kata itu?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

22 Februari 2012 pada 15.48

Ditulis dalam Lampung Post, Ninawati Syahrul

Dikaitkatakan dengan

Bahasa Indonesia sebagai Cermin?

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo, 20 Feb 2012. Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia, Universitas Bonn; Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak

Suatu hari pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, kami berdiskusi tentang penerjemahan. Saya memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk memahami dan menerjemahkan teks berita di sebuah harian Indonesia yang bukan saja mengandung kesalahan tata bahasa, tapi ditulis demikian kacau alias mengabaikan logika kalimat. Setelah 10 menit, para mahasiswa begitu putus asa dan menyatakan mogok.

“Pak, teks ini tak dapat kami terima. Sajikan dong teks yang ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau tidak ada, kami mohon kuliah ini digunakan untuk membahas tema lain. Bukankah telah lama Bapak berjanji menyampaikan renungan Bapak tentang perkembangan bangsa Indonesia?“

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

20 Februari 2012 pada 10.35

Ditulis dalam Berthold Damshauser, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

‘Kamseupay’

tinggalkan komentar »

Lampung Post, 15 Feb 2012. Febrie Hastiyanto, Bloger, peminat bahasa media sosial

Awal tahun 2012 ditandai dengan kembali populernya akronim “kamseupay” di media sosial kita. Kabarnya akronim ini pernah populer pada tahun 1980-an, bersamaan dengan lahirnya bahasa gaul kala itu semacam “doski”, “kawula muda” atau “yoi”—sebelumnya lema “yoi” diucapkan “yoa”, misalnya dapat kita simak dalam percakapan di seri-seri film Catatan Si Boy (Cabo).

Akronim dan kata bahasa gaul remaja Ibu Kota kala itu produktif diintroduksi antara lain melalui corong radio Prambors Jakarta. Kamseupay secara umum dipanjangkan menjadi “kampungan sekali uh payah”, sejumlah variasi tafsir kamseupay lahir seperti “kampungan sekali udik payah”, atau menganggap kamseupay sebagai kata, bukan akronim. Kalangan yang menganggap kamseupay sebagai kata umumnya mengartikannya sebagai “kampungan”.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

15 Februari 2012 pada 15.42

Ditulis dalam Febrie Hastiyanto, Lampung Post

Dikaitkatakan dengan

Musim Korupsi, Tijitibèh, Barjibarbèh

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo, 13 Feb 2012. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Istilah Tijitibeh tiba-tiba saja naik daun di musim korupsi bersemi. Cahyadi Takariawan, anggota Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera, melontarkan ungkapan aneh itu menjelang perombakan kabinet beberapa waktu lalu (Tempo, 17-23 Oktober 2011). Tijitibèh adalah akronim yang tersusun dari penggalan kata-kata Jawa dalam frasa mati siji mati kabèh atau mati satu mati semua. Kala itu, kata Cahyadi, beberapa kader PKS menginginkan partainya menarik diri secara total dari pemerintahan jika salah satu menterinya—sekalipun–kesenggol perombakan. Padahal PKS memiliki empat menteri di kabinet. Jadi, partai itu tak ingin jatah menterinya diotak-atik: tetap empat kursi atau tidak sama sekali.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

13 Februari 2012 pada 08.31

Ditulis dalam Kasijanto Sastrodinomo, Majalah Tempo

Dikaitkatakan dengan

Sesuatu

tinggalkan komentar »

Lampung Post, 8 Feb 2012. Dian Anggraini.

“Selamat Lebaran ya, semoga bisa menjadi sesuatu, Alhamdulillah bisa jadi sesuatu di bulan Ramadan ini.” “Sesuatu enggak menurut kamu?”

Bisakah Anda menebak kutipan kalimat siapakah itu? Saya yakin, dari anak kecil hingga orang tua bisa menjawab pertanyaan ini. Penutur tersebut pasti Syahrini, mantan teman duet Anang Hermansyah yang kini fenomenal.

Demam Syahrini kini menjangkiti masyarakat kita. Tidak hanya eksistensi berbusananya yang ditiru, gaya bicara juga menjadi tren. Kata “sesuatu” begitu populer. Rekan-rekan selebritas Syahrini pun mulai ketularan dan latah mengucapkannya saat disorot kamera.

Ia mengaku banyak orang yang mengikuti kata “sesuatu.” Namun, salah menggunakan kata tersebut dalam kalimat. Lalu, ia pun mengajari bagaimana cara memakai kata “sesuatu” yang benar menurutnya. “Kalau habis dandan aduh cantiknya, sesuatu banget,” ujar Syahrini. Ia juga mencontohkan bagaimana pengucapan kata sesuatu itu dilontarkan. “Harus lemah gemulai ngomongnya,” kata Syahrini.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

8 Februari 2012 pada 15.34

Ditulis dalam Dian Anggraini, Lampung Post

Dikaitkatakan dengan

Elegan, Glamor, dan Celine Dion

tinggalkan komentar »

Majalah Tempo, 6 Feb 2012. Qaris Tajudin, Wartawan

Pekan lalu, di kolom ini ada tulisan menarik dari Rohman Budijanto. Ia mengamati sejumlah merek mode–dari busana hingga minyak wangi–yang unik, bahkan cenderung nyeleneh, atau “subversif”. Nama-nama produk mode itu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan terdengar lebih aneh lagi.

Di antaranya ada True Religion (denim), Poison (parfum dari Christian Dior), Opium (parfum, Yves Saint Laurent), Agent Provocateurs (lingerie, parfum), Envy Me dan Guilty (keduanya parfum dari Gucci), Bathing Ape (produk fashion, lengkapnya A Bathing Ape in Lukewarm Water, disingkat BAPE), dan Urban Decay (mode).

Tulisan ini tidak akan menyanggah kolom Rohman, bahkan ingin melengkapinya. Saya hanya ingin menjelaskan dua hal yang belum terlalu diulas oleh tulisan berjudul “’Agama Sejati’ dan Celana Jins” itu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Rubrik Bahasa

6 Februari 2012 pada 08.15

Ditulis dalam Majalah Tempo, Qaris Tajudin

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 942 pengikut lainnya.