Deparpolisasi

Qaris Tajudin*, Majalah Tempo, 25 Apr 2016

Ketika Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memutuskan untuk maju dalam pemilihan kepala daerah sebagai calon independen, dunia politik geger. Sejumlah partai politik melakukan manuver agar Ahok-panggilan Basuki-gagal maju dalam pemilihan gubernur pada 2017.

Kegerahan partai politik ini dapat dimengerti karena sampai saat ini popularitas Ahok masih tinggi, bahkan jauh lebih tinggi daripada calon-calon gubernur Jakarta lainnya yang sudah mengumumkan diri. Jika Ahok berhasil maju dan bahkan menang, partai politik tak diperlukan lagi dalam percaturan politik. Toh, tanpa partai pun seseorang bisa maju menjadi kepala daerah.

Baca lebih lanjut

Gender

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 18 Apr 2016

Meskipun kata “gender” sudah menjadi bagian dari percakapan dan diskusi sehari-hari, ternyata kata ini sebenarnya tidak pernah terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam aplikasi KBBI Online, yang mengacu pada KBBI Daring Edisi III, yang memiliki hak cipta dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata “gender” atau “jender” tidak ditemukan sama sekali. Satu-satunya kata yang berhubungan dengan gender dan dapat ditemukan dalam KBBI adalah kata “kelamin”, yang memiliki arti “1 jodoh (laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina); sepasang; 2 sifat jasmani atau rohani yg membedakan dua makhluk sbg betina dan jantan atau wanita dan pria”.

Baca lebih lanjut

Kosakata Tan Malaka

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 11 Apr 2016

Perkembangan khazanah lema bahasa Indonesia sangat pesat. Setelah ditetapkan sebagai bahasa kesatuan dalam ikrar Sumpah Pemuda, ia telah mengikat rakyat Negeri Khatulistiwa dalam satu bahasa persatuan. Namun tidak mudah menjadikannya alat komunikasi, baik lisan maupun tulisan, agar bisa menangkap gerak perkembangan zaman. Betapapun bahasa ini luwes, ia juga perlu menimbang sejarah linguistiknya agar tidak dijarah oleh sikap malas pengguna. Dengan membaca kembali karya-karya awal Tan Malaka, kita bisa menjejaki usaha sarjana kiri ini dalam menemukan daya ucap bahasa serapan ke dalam sasaran.

Baca lebih lanjut

Political Correctness

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 4 Apr 2016

Marah di jalan, karena sepeda motor yang melanggar jalur, atau penyeberang yang tak peduli lampu lalu lintas, saya berteriak, “Buta lu ya!” Segera saya merasa berdosa kepada orang tunanetra.

Jengkel kepada tukang yang salah melulu dalam renovasi rumah, saya membatin, “Budek lu ya? Kan, dari tadi udah dibilangin….” Lagi-lagi saya merasa berdosa, kepada orang tunarungu.

Gemas melihat komentar-komentar penuh kebencian di media sosial, saya menggerutu, “Dasar pikiran kerdil!” Dan segera saya merasa bersalah pula kepada orang kate.

Saya pun sesaat membisu, sebab begitu banyak bias dan ketidakadilan dalam bahasa. Dan bisakah kita berbahasa secara politically correct?

Baca lebih lanjut

Gembong

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 28 Mar 2016

Sebutan gembong khas dalam pemberitaan kasus-kasus narkoba. Kita simak berita di koran-koran mengenai penangkapan Joaquin Guzman di Meksiko, 8 Januari 2016. Berita di Kompas, 11 Januari 2016, berjudul “Sean Penn Bertemu Si Gembong”. Kalimat pembuka berita: “Kisah tertangkapnya kembali gembong narkoba ‘El Chapo’ Guzman, Jumat pekan lalu, bagaikan kisah film.” Berita berjudul “El Chapo Dilacak Berkat Aktor Sean Penn” di Republika, 11 Januari 2016, diawali dengan kalimat: “Penangkapan gembong narkoba Joaquin ‘El Chapo’ Guzman ternyata berkat wawancara rahasia yang dilakukan aktor Hollywood, Sean Penn.” Media Indonesia, 11 Januari 2016, memuat berita berjudul “Bos Kartel Narkoba Dideportasi ke AS”. Pembaca menemukan tiga kali penggunaan sebutan gembong. Isi berita cenderung ke sebutan gembong: “Kejaksaan Agung Meksiko, Sabtu (9/10) waktu setempat, mengumumkan akan memproses ekstradisi gembong narkotika dan obat terlarang (narkoba) Joaquin ‘El Chapo’ Guzman Loera ke Amerika Serikat (AS).” Majalah Tempo edisi 18-24 Januari 2016 memuat berita berjudul “Terhubung Berkat Si Hermosa”. Sebutan gembong digunakan tiga kali. Kalimat awal di berita: “Aktor Sean Penn mewawancarai gembong kartel narkotik Sinaloa yang tengah jadi buron.”

Baca lebih lanjut

Ekspor Kata

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 21 Mar 2016

Kolom ini tidak bermaksud menandingi kolom mahaguru saya, Sapardi Djoko Damono, yang bertajuk “Impor Kata” dalam rubrik ini (Tempo, 14-20 Desember 2015). Tulisan ini hanya melengkapi risalah yang mendahului itu. Jalan pikirannya sederhana: jika ada impor, semestinya ada ekspor, layaknya neraca perdagangan antarnegeri. Impor kata, seperti telah ditulis, berarti mendatangkan kata dari luar bahasa sendiri; sedangkan ekspor kata, sebaliknya, mengirim kata dari bahasa sendiri ke bahasa (negeri) lain. Catatannya, tidak seperti ekspor/impor komoditas, dalam ekspor/impor kata tidak selalu jelas siapa pelakunya, dan apakah hal itu sengaja dilakukan atau tidak.

Baca lebih lanjut

Randedhit

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 14 Mar 2016

Pada suatu hari beberapa puluh tahun yang lalu, tiga orang Jawa ngobrol di sebuah kampus. Saya salah seorang di antaranya. Meskipun menetap di Jakarta, kami lebih sering menggunakan bahasa Jawa. Obrolan lancar-lancar saja sampai ketika saya mengucapkan kata randedhit. Salah seorang, yang berasal dari Solo, memahami arti kata itu, tapi orang Jawa yang lain, yang dibesarkan di Kediri, bertanya (dalam bahasa Jawa) apa arti kata itu. Rekan saya yang dari Solo menjelaskan, kata itu berarti “tidak punya uang”, kependekan dari ora duwe dhuwit. Seandainya kami mencari kata itu di kamus bahasa Jawa, tentu sia-sia saja usaha itu. Tentu kita berhak bertanya, mengapa demikian. Letak masalahnya tidak pada perbedaan asal kami, atau pada beragamnya bahasa Jawa, tapi pada perbedaan antara bahasa lisan dan tulis.

Baca lebih lanjut

Ketimpangan

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 7 Mar 2016

Ketimpangan sudah masuk kategori lampu kuning, demikian kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (Koran Tempo, 14 Januari 2016). Beberapa hari sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan ketimpangan telah menjadi kendala pembangunan (Koran Tempo, 10 Januari 2016). Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain—sehingga pertemuan World Economic Forum baru-baru ini di Davos “dihantui ketimpangan global” (Koran Tempo, 19 Januari 2016).

Apa itu ketimpangan?

Baca lebih lanjut

Lesap

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 29 Feb 2016

Dalam bahasa Indonesia, sering kita dapati kalimat majemuk semacam ini: “Karena tidak mau mengaku, ia dipukuli.” Subyek pada anak kalimat (“ia”) lesap karena sama persis dengan subjek pada induknya. Hal semacam ini sama sekali tidak menyalahi tata bahasa. Justru itulah salah satu ciri kalimat efektif, yakni tidak menggunakan dua kata yang sama—karena memang tidak diperlukan. Contoh lain: “Ia berani karena memiliki keinginan kuat.” Kalimat itu menjadi lewah jika anak dan induk kalimatnya mengandung subyek yang sama: “Ia berani karena ia memiliki keinginan kuat.”

Baca lebih lanjut

Ketika Saya Menjadi Kami

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 22 Feb 2016

Dari dunia akademik, tempat setiap kata tidak boleh salah menjalankan fungsinya, selalu datang perkara yang kurang saya pahami, mengapa bisa sampai terjadi bahwa pengertian “saya” ditulis sebagai “kami”. Sekadar contoh:

Rencana menulis tesis ini timbul pada Maret 1974 sewaktu kami (penebalan dari saya) mulai menulis skripsi doktoral filsafat pada Centrale Interfakulteit, Rijksuniversiteit di Leiden. (Heraty, 1984: 13).

Baca lebih lanjut