Universalisme Eksklusif

Samsudin Berlian* (Kompas, 8 Jul 2017)

160418161006_1_900x600

Universalisme eksklusif saat ini hidup dan berkembang pesat di diri orang per orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bahkan masyarakat luas. Universalisme eksklusif dipikir-pikir, direnung-renung, ditimbang-timbang, kok terdengar seperti oksimoron. Ngomong-ngomong, oksimoron itu kira-kira seperti ungkapan ”harus mengundurkan diri” yang ditakuti banyak karyawan, atau ”rela mengantre seharian” yang dilakoni pemburu daging sapi harga diskon jelang Lebaran—kata-kata yang bermusuhan arti disandingkan seolah-olah pasangan sedang akad nikah. Padahal, kalau harus namanya dipecat; kalau mengantre artinya terpaksa. Contoh lain oksimoron adalah aksi ”pentung damai”, ”razia senyum”, atau ”operasi simpatik” terhadap warung yang buka siang hari pada bulan puasa. Nah, universalisme kok eksklusif? Eksklusif kok universal?

Baca lebih lanjut

Iklan

Biaya Komitmen

Adang Iskandar* (Media Indonesia, 2 Jul 2017)

BARANG BUKTI OTT BENGKULU

Operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap beberapa pejabat di daerah pada bulan suci Ramadan lalu menuai keprihatinan publik, terutama warga muslim. Ramadan yang sejatinya merupakan bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan justru dinodai dengan perilaku kotor para pejabat itu. Penangkapan pejabat daerah oleh KPK itu antara lain terjadi di Bengkulu.

Baca lebih lanjut

Tadarus

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 26 Jun 2017)

Selain berpuasa di siang hari, membaca Al-Quran adalah ibadah yang banyak dilakukan muslimin selama Ramadan. Setiap malam, begitu tarawih kelar, surau dan masjid tak pernah sepi oleh lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Kegiatan membaca Al-Quran di malam Ramadan bisa sampai tengah malam, bahkan ada yang baru berhenti sampai parak makan sahur.

Baca lebih lanjut

Cukong

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 19 Jun 2017)

Di panggung, penyanyi Titiek Hamzah memberi pengakuan telah lama cuti dari musik. Dulu, orang-orang mengenal Titiek Hamzah bergabung dengan kelompok musik terkemuka bernama Dara Puspita. Sejak 1972, Titiek Hamzah tak lagi berurusan dengan rekaman lagu di studio atau tampil di konser musik. Jeda itu dianggap cuti panjang. Kerinduan pada kemeriahan bermusik dipenuhi saat Titiek Hamzah ikut tampil di Jambore Rock 83 di Ancol, Jakarta. Di hadapan 10 ribu penonton, Titiek Hamzah melantunkan lagu ciptaan sendiri berjudul “Cukong Tua”. Lagu itu untuk membuktikan diri masih sanggup mendapatkan sorakan dan tepuk tangan penonton (Tempo, 27 Agustus 1983).

Baca lebih lanjut

Konser dan Tahlil

Ahmad Sahidah (Pikiran Rakyat, 18 Jun 2017)

Istighotsah kubro Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (9 April 2017) memantik dukungan luas dari segela penjuru. Di tengah keriuhan kelompok garis keras menyuarakan ide Islam Syariah, isu khilafah, dan aksi Bela Islam, kaum tradisionalis menyerukan kecintaan pada tanah air. Sebagai niat murni, seruan ini bergema bersama video tular (viral) yang menggambarkan ratusan ribu orang menyanyikan lagu “Syubbanul Wathon” dengan tangan bergerak di dada.

Baca lebih lanjut

Kata-Kata yang Memuai

Bagja Hidayat* (Majalah Tempo, 12 Jun 2017)

Seorang teman dari Korea Selatan masygul ketika mendengar seorang Indonesia berseru, “Wah, mau hujan,” pada sebuah sore yang mendung.

“Wow, bagaimana caranya?” ia pun bertanya. Ia menyangka, teman orang Indonesia itu sedang menginginkan hujan atau berminat pada hujan seperti minatnya mengunyah es krim.

Baca lebih lanjut

Ingat, Bukan Muhrim, Ya

Ridha Kusuma Perdana* (Media Indonesia, 11 Jun 2017)

Setiap memasuki bulan suci Ramadan, selalu saja ada banyak program di media cetak dan elektronik yang sengaja disiapkan untuk menyambutnya, misalnya, acara untuk menemani umat muslim saat bersahur, berbuka, atau rubrik khusus Ramadan di media cetak. Hampir seluruh stasiun televisi juga pasti punya program khusus itu. Mereka tak mau kalah dalam menayangkannya, saling berlomba, dan penuh selama Ramadan.

Baca lebih lanjut