Tadarus

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 26 Jun 2017)

Selain berpuasa di siang hari, membaca Al-Quran adalah ibadah yang banyak dilakukan muslimin selama Ramadan. Setiap malam, begitu tarawih kelar, surau dan masjid tak pernah sepi oleh lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Kegiatan membaca Al-Quran di malam Ramadan bisa sampai tengah malam, bahkan ada yang baru berhenti sampai parak makan sahur.

Baca lebih lanjut

Cukong

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 19 Jun 2017)

Di panggung, penyanyi Titiek Hamzah memberi pengakuan telah lama cuti dari musik. Dulu, orang-orang mengenal Titiek Hamzah bergabung dengan kelompok musik terkemuka bernama Dara Puspita. Sejak 1972, Titiek Hamzah tak lagi berurusan dengan rekaman lagu di studio atau tampil di konser musik. Jeda itu dianggap cuti panjang. Kerinduan pada kemeriahan bermusik dipenuhi saat Titiek Hamzah ikut tampil di Jambore Rock 83 di Ancol, Jakarta. Di hadapan 10 ribu penonton, Titiek Hamzah melantunkan lagu ciptaan sendiri berjudul “Cukong Tua”. Lagu itu untuk membuktikan diri masih sanggup mendapatkan sorakan dan tepuk tangan penonton (Tempo, 27 Agustus 1983).

Baca lebih lanjut

Konser dan Tahlil

Ahmad Sahidah (Pikiran Rakyat, 18 Jun 2017)

Istighotsah kubro Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (9 April 2017) memantik dukungan luas dari segela penjuru. Di tengah keriuhan kelompok garis keras menyuarakan ide Islam Syariah, isu khilafah, dan aksi Bela Islam, kaum tradisionalis menyerukan kecintaan pada tanah air. Sebagai niat murni, seruan ini bergema bersama video tular (viral) yang menggambarkan ratusan ribu orang menyanyikan lagu “Syubbanul Wathon” dengan tangan bergerak di dada.

Baca lebih lanjut

Kata-Kata yang Memuai

Bagja Hidayat* (Majalah Tempo, 12 Jun 2017)

Seorang teman dari Korea Selatan masygul ketika mendengar seorang Indonesia berseru, “Wah, mau hujan,” pada sebuah sore yang mendung.

“Wow, bagaimana caranya?” ia pun bertanya. Ia menyangka, teman orang Indonesia itu sedang menginginkan hujan atau berminat pada hujan seperti minatnya mengunyah es krim.

Baca lebih lanjut

Ingat, Bukan Muhrim, Ya

Ridha Kusuma Perdana* (Media Indonesia, 11 Jun 2017)

Setiap memasuki bulan suci Ramadan, selalu saja ada banyak program di media cetak dan elektronik yang sengaja disiapkan untuk menyambutnya, misalnya, acara untuk menemani umat muslim saat bersahur, berbuka, atau rubrik khusus Ramadan di media cetak. Hampir seluruh stasiun televisi juga pasti punya program khusus itu. Mereka tak mau kalah dalam menayangkannya, saling berlomba, dan penuh selama Ramadan.

Baca lebih lanjut

Servisifikasi

Arianto Patunru* (Majalah Tempo, 5 Jun 2017)

Istilah “transformasi struktural” jamak ditemukan dalam studi pembangunan. Generasi saya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengenal topik ini dari kuliah Profesor Arsjad Anwar. Salah satu referensi utamanya adalah buku Hollis Chenery dan Moises Syrquin berjudul Patterns of Development (1975). Beberapa literatur sebelumnya, seperti tulisan Allan Fisher (1935) atau Colin Clark (1940), juga membahasnya. Intinya, perekonomian akan beralih tumpuan dari sektor pertanian (termasuk peternakan, kehutanan, dan perikanan) ke sektor industri (terutama manufaktur, tapi juga mencakup pertambangan, konstruksi, dan “utilitas”–listrik, gas, dan air minum) dan lalu ke sektor jasa (meliputi jasa perdagangan, hotel, dan rumah makan; transportasi dan komunikasi; keuangan, perumahan, dan jasa usaha; serta jasa lainnya). Jadi umumnya, semakin berkembang suatu bangsa, kontribusi sektor jasanya semakin besar. Saat ini sektor jasa di Indonesia menyumbang sekitar 48 persen produk domestik bruto, diikuti sektor industri 40 persen, dan sisanya sektor pertanian. Di Australia, kontribusi sektor jasa adalah sekitar 70 persen, dan di Amerika Serikat 80 persen.

Baca lebih lanjut